Friday, July 23, 2010

sepatu kanvas

SEPATU KANVAS

Tidak mudah bagi Joni untuk menghadapi kehidupan barunya. Pertama, ia harus menghadapi ayah barunya, dan adik perempuan barunya. Lalu kedua, ia kini harus pindah ke sekolah barunya, karena dianggap sekolahnya yang dulu terlalu jauh untuk rumah yang baru. Ayah kandungnya meninggal 4 tahun yang lalu terkena penyakit cacar, dan mengalami kesulitan pembekuan darah, sehingga suatu malam ayahnya meminta dokter untuk membiusnya dalam dosis yang tinggi, hingga akhirnya racun biusnya ikut mengalir ke jantung. Dan mati sejenak tanpa ada siapapun yang mendampinginya.

Ayah barunya orang padang sukses yang merantau ke jakarta, perilakunya keras seperti kebanyakan orang sumatera. Dan kata kata yang sering ia keluarkan ke Joni ialah "hemat pangkal kaya, pelit pangkal kaya raya". Mungkin itu juga sebabnya mengapa Joni belum makan selain nasi dan ikan asin beberapa hari ini.

Joni bukan tipe anak kebanyakan, hari harinya dia habiskan di luar rumah, karena dia sangat hobi membaca buku, maka dia lebih suka menghabiskan waktu beberapa jam di tempat langganan buku dekat rumahnya. Atau dia akan lebih sering bermain dengan anak kecil yang bermain di taman dekat rumahnya. Joni tipe penyendiri yang menyenangkan, orang bisa menghela nafas tenang bila ada di dekatnya.

Dan perkenalkanlah aku, aku di sini sebagai, mmm panggil saja aku Reza. Aku adalah teman baik dari Joni beberapa bulan ini. Setidaknya aku mengenal dia beberapa bulan yang lalu sejak masuk sekolah yang sama denganku. Saat pertama kali Joni masuk ke sekolahku, aku masih ingat wajahnya yang seperti topeng berlapis lapis yang tidak bisa ditembus siapapun. Meski hangat, aku tahu ada yang tidak beres dengan dirinya.

Kebetulan aku duduk di belakang Joni, entahlah mungkin takdir yang mempertemukan aku dengannya. Tidak seperti barang bawaan murid kebanyakan, Joni selalu membawa kertas warna origami yang warnanya soft sekitar 4 bungkus di dalamnya. Saat itu aku tidak begitu mengerti apa gunanya, untuk siapa benda benda itu. Lalu karena penasaran, aku langsung saja menusuknya dengan pertanyaanku "Jon, Joni kan? Lo bawa origami buat apaan? Buat bikin perahu perahuan?"

Joni menoleh, menatap tajam beberapa detik hingga akhirnya mengendurkan air wajahnya, ia lalu mengangguk sambil tersenyum. Beberapa detik yang mencengangkan dengan tatapannya yang tidak biasa itu. Dan aku begitu sering nonton film psychological thriller dan asumsiku tentang dia langsung bermacam macam. Entah schizophrenia atau sekedar paranoid biasa dengan orang baru.

Entah karena aku terlahir socially genius, maka sekedar bertanya seperti tadi tidak cukup untukku. Aku menggali terus tentang dirinya. Usai pelajaran bahasa inggris di kelas, ternyata sekarang sudah waktunya untuk pelajaran konseling.

"Joni Jaya Rahardi? Murid baru ya? Mumpung lagi pelajaran konseling, mari kita persilahkan Joni bercerita tentang siapa dirinya, dan betapa inginnya dia untuk membuat teman dan mencari pacar di sekolah ini..."

Guru konselingku yang sok muda dan sok lucu itu ternyata membantuku untuk mencari tahu lebih dalam tentang pria ini. Walau teman sekelasku sekedar menjerit bosan karena antusiasme mereka terhadap apapun yang tidak menyenangkan dan membuat tertawa akan tetap rendah, ya antusiasme orang di sini terhadap apapun sangat rendah. Aku benci itu.

Joni berdiri dan berjalan beberapa langkah dari tempat duduknya. Ia terlihat gugup seperti orang kebanyakan. Dari sudut pandangku, dia terlihat seperti orang biasa, sangat biasa. Tangannya masuk ke kantong, kepalanya menunduk.

"Halah Joni Joni, namanya Joni kok begitu, yang tegas dong... kepalanya diangkat ayo!" kata guruku dengan suara lantang.

Joni menyisir rambutnya sambil tersenyum dan mengeluarkan tangannya dari kantongnya. "Halo saya Joni, saya masih 16 tahun. Saya single, saya belum pernah pacaran. Saya suka makan makanan jepang, saya suka tidur, dan saya suka nonton TV sambil ngemil roti dengan telor setengah matang di dalamnya, terimakasih. Saya kira itu saja, semoga ada yang mau jadi kekasih saya...."

Satu kelas tertawa terbahak bahak, setiap jeda yang dia ambil membuat dia ditertawakan, dalam artian yang bagus maksudku. Mungkin dia sekedar pria pemalu yang biasa saja. Tapi detail yang diberikan tentang dirinya tidak terlalu jelas. Atau bisa dibilang, dia mungkin sekedar tertutup seperti orang kebanyakan.

Setelah itu, pelajaran berlangsung seperti biasa. Suasana mencair, aku dan Joni mulai bisa berbicara walau dia baru bertanya tanya tentang jadwal pelajaran, lokasi kantin, toilet, dan lain lain.

"Gw main ke rumah lo ya Jon!" Aku yang tidak punya tujuan bertanya memecahkan sunyi yang meradang.

Joni diam sejenak, dan ya ternyata niatku malah membuat suasana semakin sunyi begini. Tapi dia mengambil telepon genggam di kantongnya dan menghubungi orang rumah. Lalu berkata "Yowes lah za, ikut aja, bareng mobil gw".

Aku ikut ke rumahnya. Ukurannya dari skala 1 sampai 10, adalah 12. Dia anak orang kaya rupanya, tapi wajahnya tidak terlihat seperti orang kaya sama sekali. Aku menuju kamarnya, terlihat kamar tidur yang luas, segala console game, dan buku bahasa inggris hingga komik komik lengkap lainnya. Tapi ada satu hal yang aneh di kamarnya. Di atas TV kamarnya, di temboknya, melekat sepatu kanvas putih dengan tulisan 'left' untuk sepatu yang kiri, dan 'right' untuk yang kanan.

"Kok sepatu dilem di tembok Jon? Mau jalan di tembok lo? Haha"

"Itu dari almarhum bokap, waktu ulang tahun kemarin masih sempet ngasih itu ke gw."

Lemas rasanya. Aku mati kata kata dan mati gaya. Dan aku bicara maaf berkali kali pun rasanya masih canggung. Karena besoknya hari Sabtu, aku memutuskan untuk sekalian menginap saja di rumahnya. Joni juga setuju.

Sekitar magrib kami terus bermain game mulai dari gulat, sepakbola, hingga mortal kombat. Anehnya meskipun dia cukup kaya begini, dia hanya diberi makan nasi dan ikan asin setiap harinya. Suatu kejadian yang amat aneh. Sedangkan aku yang tamu diberikan kentang rebus dan daging cincang. Aku terheran heran, hingga aku tak kuat bila tak bertanya.

"Kok lo ikan asin doang makannya? Mau tukeran gak? Ga enak gw makan gini, lo malah makan ikan asin doang Jon...."

"Ini makanan favorit almarhum bokap za, gapapa kok."

Astagaa.... Ada apa dengan orang ini, seheroik apa sih ayahnya sehingga anaknya begini? Lalu aku muak bertanya yang aneh aneh lagi, aku mengambil topik topik ringan saja. Pukul 8 malam dan aku sudah mengantuk. Joni terlihat sibuk di meja belajarnya. Aku pun tertidur.

Ketika aku terbangun tengah malam. Kamar ini sudah berantakan, dan ada bau aneh di kamar ini, seperti bau lem. Aku melihat di belakangku, ada secarik kertas "sori, bakalan aneh nih pasti" tertulis di kertas warna tadi. Dan tulisan tulisan berikutnya kutemukan dari pintu keluar kamar, loteng, dan hingga akhirnya ke jendela kamar atas.

"Aku capek, kangen"

"Aku seneng, tapi gak cukup seneng sih"

"Kok mesti kayak gini"

Tulisannya terus menerus kubaca hingga akhirnya menuntunku di jendela atas yang di sekitarnya begitu berwarna. Ternyata kertas warnanya dalam jumlah banyak melekat di samping jendela dan jendela dalam keadaan terbuka. Aku segera berlari melihat ke luar jendela dan bagian bawah. Dan ternyata benar, Joni jatuh, tapi tidak cukup jatuh.

Dia tidak melompat, sekedar mengikat dirinya ke selimut selimut yang diikat kemudian melompat ke luar. Kepalanya terantuk dan dia pingsan menggelantung sekitar 20 meter di atas tanah. Aku mengecek selimut yang diikat. Aku perlahan menarik selimutnya yang diikatkan ke lemari. Untungnya lemarinya cukup kuat.

Esok harinya, semua menjadi terlalu konyol untuk diingat. Joni bangun di rumah sakit dan berbaring tenang. Aku di sebelahnya hanya tersenyum pahit melihatnya. Hingga akhirnya hari demi hari Joni diajak keluarganya untuk ke penyuluhan anak gangguan mental, di sekolah dia diperlakukan normal. Kini dia sering menyendiri, baca buku, bermain dengan anak kecil, dan hal lainnya. Tapi sepatu yang dilekatkan di tembok, kini sudah dilepas, dan Joni membeli sepasang yang baru dengan coretan spidol yang sama.

Hingga akhirnya suatu hari,

"Jon, itu kok rambutnya beda sebelah jambangnya kiri kanan?"

"Almarhum bokap gw, kayak gini waktu pas muda"

Astaga.... Kumat lagi dia, sebelum akhirnya aku menyimpulkan dia masih gila.

"Gak lah, ini emang salah potong hahaha. Nyantee aja brader"

Brengsek memang pria ini. Menyusahkan, dan radikal sekali. Harusnya memang mati saja waktu itu. Hhhh aku menghela nafas tenang. Pria ini memang seperti ruangan ber-AC. Cocok untuk bercerita saat beristirahat.

No comments: