Thursday, July 29, 2010

menyentuh permukaan tanah

Semakin terang cahayanya, semakin gelap bayangannya, dan semakin luas bayangannya.

Ya memang begitu lah keadaan yang akan terjadi ketika suatu kebenaran terungkap sedikit sedikit, dan dalam jarak yang berjauhan. Kebenaran hanya akan terlihat seperti cahaya yang menyilaukan dan menyusahkan ketimbang bisa dinikmati. Tidak semua hal baik dapat dimengerti pada saat itu juga. Kita hanya bisa menikmati cahaya lampu apabila lampunya cukup banyak dan berada pada jarak yang benar bukan?

Dasawarsa ini memang memilukan, apatis, dan semakin buruk kian hari. Langit sudah terlanjur gelap, cahaya yang muncul hanya sekejap dan malah terlihat seperti petir. Kita kehilangan figur orang yang baik, hebat, dan rendah hati. Di dunia ini mungkin masih banyak orang baik, tapi karena efek samping "cahaya malah membuat bayangan di sekitarnya", si baik tidak pernah berani untuk benar benar menjadi dirinya.

Gw sering banget mengalami hal ini, seperti mau ngasih tempat duduk buat ibu ibu paruh baya yang terpaksa berdiri karena kurang tempat duduk di bus, pas pengen ngasih, jarak gw sekitar 5 kursi dari posisinya, dan orang orang muda masih sehat di sebelahnya malah diam tanpa memberi tatapan sedikitpun. Gw pun gak sempat melakukan apa apa.

Gw gak bisa ngerjain ulangan, tadinya gw gak mau nanya temen, namun karena semuanya melakukan hal yang sama, jadinya ya begitu. Semua orang masih punya jiwa baiknya, tapi mayoritas tetap memegang kendali.

Jadi gw bilang, kita si minoritas yang sebenarnya mayoritas, sebenarnya harus lebih berkelompok dalam bepergian dan memberi contoh saat bepergian. Karena 3 melawan 10 lebih baik ketimbang 1 melawan 10. Karena meskipun kalah jumlah, yang namanya sesuatu perubahan itu pasti akan menular kayak virus. Jadi virus seperti naik sepeda bareng, kebiasaan naik kendaraan umum, kebiasaan untuk perhatian, bisa lebih berguna apabila dilakukan dalam jumlah 5 orang atau lebih.

Mungkin banyak dari kita yang putus asa melihat ibukota ini yang kejamnya lebih kejam daripada ibu tiri atau ibu ibu bawel di dalem angkot. Kendaraan umum yang supirnya gak punya sim, nyetirnya kayak siap untuk mati. Banyak anak remaja yang belum siap dengan budaya baru, banyak orang tua yang makin buta moral, dan sekolah sudah jadi hal yang makin ditentang. Agama? Apalagi....

Umumnya manusia biasa hanya akan mampu memberikan cahaya putih terang yang menyebalkan bagi sebagian orang. Namun ada beberapa manusia yang memberikan cahaya oranye hangat dan lembut di mata orang lain, mereka umumnya persuasif dan sangat berpengaruh di lingkungannya, entah orang orang seperti itu sudah sulit ditemukan.

Jangan membiasakan hal yang tidak biasa, karena ketika benar benar menjadi biasa, kita tidak bisa mengubahnya.

Kita terbiasa dengan kemacetan, kehancuran moral, pemimpin yang rakus harta, anak muda yang bejat, dan polisi yang melindungi pihak tak jelas. Lalu kita dituntut untuk terbiasa dengan hal seperti itu? Berubah yuk.

Jadi ada tahapan untuk berubah, dan di bawah ini lah petunjuknya. Ayo diikuti, jangan malu malu.
  1. Tidak pernah ada kata terlambat untuk berubah. Seperti gua yang gelap beribu ribu tahun, ketika cahaya menerangi mereka, tidak ada yang peduli berapa lama gua itu pernah gelap.
  2. Perubahan itu menyakitkan, untuk diri sendiri dan orang lain. Memang orang menghindari perubahan karena mereka tahu betapa sakitnya untuk berubah dan merasakan dirinya yang baru. Seperti gw sekarang yang merindukan betapa enaknya menjadi anak kecil. Tapi tanpa perubahan tidak ada keadaan yang lebih buruk ataupun lebih baik. Bahkan semuanya lebih buruk dari 'buruk', mereka membosankan.
  3. Berbuat sesuatu memiliki kemungkinan 33% untuk dijadikan kebiasaan di hari berikutnya. Kita manusia menyukai repetisi, kita melakukannya setiap hari. Berbuat apapun hari ini, bisa berbahaya ketika kita berkata "cuman hari ini doang kok'. Semua akan terulang
  4. Mulai dan SEKARANG. Jangan pernah menunda hal yang baik, tundalah yang buruk saja.
  5. Konsistensi jauh lebih penting dari kualitas suatu manusia. Karena banyak orang bilang bakat itu penting, kucing larinya kenceng karena bakatnya dari dulu kayak gitu. Konsisten bukan berarti membosankan dan rutin, konsisten hanya tetap melakukannya dan mempertahankannya, variasi bisa diberlakukan setiap harinya. Kita diciptakan otak bukan?
 Gak cuman membosankan, dunia ini menyebalkan akhir akhir ini. Kita si muda sudah cukup foya foyanya dan makan sushi sana sini. Narkoba aja beli dari luar negri, video porno aja download dari luar negri, halah bukan itu maksudnya sih. Ya kita harus produktif, ayo indonesia buat mobil sendiri! TV sendiri! Atau dari yang paling kecil, isi steples sendiri!

No comments: