Tuesday, April 06, 2010

klasifikasi ya?

Makin kesini kita makin banyak nemu orang yang udah mulai misah misah dari keramaian. Ada yang bilang jenuh, ada yang bilang hidup makin lama makin keliatan palsu, tapi sebenarnya permasalahan adalah di klasifikasi dalam strata sosial. Dan asal muasalnya memang kita punya bakat untuk membuat semacam kasta di sekitar kita, karena kita bernenek moyang hindu yang suka membeda bedakan orang.

Konyol ga sih? Melihat di antara kita sendiri orang sudah memilah milah semuanya, kita percaya apa yang kita dengar dan lihat, ala kadarnya. Foto melet tangan dua jari mengacung yang diedit pake program paint dibilang norak, iya sih hoho. Kumpulan wanita dengan foto liburannya, foto pesta ulang taunnya, foto seksi, foto sok aib, foto editan, ataupun foto google yang mereka bilang cool. Sebenarnya ini semua ga bermasalah, asal tidak membuat jurang pergaulan antar sesama.

Let see. Gw mencoba menyusun klasifikasi yang sekarang sedang beredar di atmosfir pergaulan remaja sekarang. Mulai dari nomor 1 anda akan melihat derajat yang konon dianggap paling rendah, hingga paling tinggi kastanya. Kira kira seperti ini :
1. Alay Jalanan (Street Kite Kids)
2. Alay Mall (Mall Kite Kids)
3. Anak ABG labil / Ababil (New Fresh Unstable Teenager)
4. Tukang Clubbing / Tubing (Clubbers)
5. Sosialita, Artis Dunia Maya (Socialite)
6. Dewa Eksis (God of Existence)

Kira kira penjelasannya begini, nomor 1 tidak diperbolehkan mencela yang berada di atasnya. Nomor 3 diperbolehkan untuk mencela nomor yang berada di bawahnya dan dianjurkan untuk memuja yang berada di atasnya agar bisa naik peringkat. Nomor 4 harus selalu update foto di situs pertemanan untuk memberi contoh nomor di bawahnya dan harus mengikuti nomor di atasnya agar gaya mereka selalu up to date.

Dan hal buruknya, hal ini benar benar terjadi di lingkungan sekarang. Melekat erat dengan hina hinaan, memberikan nilai nilai yang seharusnya tidak penuh subyektivitas begitu. Ada apa dengan lingkungan kita sekarang? Rasanya gw ingin menghindari hari hari gw bila hal ini terus terjadi. Semua orang tidak saling menghargai, dan kita terlihat seperti orang india. Dan jangan jangan muka kita bakal berubah jadi kayak orang india? Sebelum itu semua terjadi. Mari kita telaah kembali semuanya.

Sesungguhnya kita berasal dari tanah, segala perabotan yang melekat di kita hanya menggunakan lem non permanen yang pasti lepas suatu saat, bahkan hanya menggunakan nasi untuk melekatkannya. Alangkah baiknya kita rendah hati, bukan meninggikan harga diri kita dan seenak jidat mengkoreksi orang dari cara berpakaian mereka. Kembali ke jalan yang benar, kala semuanya sama, gaul bersama, dan sama sama asik.

No comments: