Saturday, April 17, 2010

bahasa inggris semua

Sekarang hampir semuanya pake bahasa inggris, menu makanan aja pake bahasa inggris, bayangin aja oxtail soup, mau bilang sop buntut aja harus ribet kayak gitu. Abis itu bakal ada tulisan gado gado salad, dan ditulisnya sebagai appetizer atau makanan pembuka. Padahal kita orang indonesia makan gado gado sekali juga udah kenyang, tapi sok jadi makanan pembuka. Ntar makanan utamanya sop kaki kambing satu ember sama kambing kambingnya yang lagi berendem deh. Oh pemimpin bangsaku, mengapa kau membiarkan angin angin luar negri meresap hingga ke kulit kami?

Memang sih gw akuin gengsi kita bakal naik. Dan jujur gw suka sama cewek yang bisa bahasa inggris secara fasih, tapi gw bakal lebih terkagum kagum dengan cewek puitis yang menggunakan bahasa indonesia secara baik. Karena siapa yang bakal nyelametin bahasa kita sendiri selain kita sendiri? Bahkan sekarang orang kalau nonton dvd lebih suka subtitlenya bahasa inggris. Kan lebih bagus bahasa indonesia dalam pengungkapan perasaan dan suatu logika. Walau gw akui agak bertele tele dan punya sejuta peraturan dalam kalimat baku. Di bahasa apa lagi kita bisa menemukan kata yang begitu beragam maknanya?

Jarang suatu negara punya bahasa sendiri, jikalau ada, mereka akan terkikis dengan waktu. Kita negara multikultural yang tidak ada habis habisnya, mulai dari mitos kalau jemur baju malem malem bisa sakit, kalau bersin tiga kali bakal beruntung, sama duduk harus pake pantat. Mitos juga sekarang mulai hilang, diganti dengan peradaban yang konon lebih modern dan lebih baik. Dan hasilnya? Kita diberikan fakta fakta yang membosankan tentang kehidupan. Bagaimana bahwa naga itu tidak ada, bahwa tidak pernah ada manusia yang bisa terbang, dan lainnya.

Westernisasi? Gw rasa juga gak westernisasi, mungkin kita juga lagi mengalami krisis moral multidimensi, di mana tidak ada satupun figur yang bisa memberikan contoh yang baik ke lingkungannya. Supir angkot pun sekarang udah mulai menggunakan bahasa inggris di stiker angkotnya, padahal kita lebih suka stiker bahasa indonesia yang agak agak bikin ketawa bacanya, contoh, darah perawan, harapan ibu, rindu belaian, dan lain lain. Dan gw harap jangan sampai budaya budaya konyol ini menghilang begitu saja karena beberapa oknum di strata sosial. Seperti orang kaya yang sering sok mengkoreksi dunia budaya ini, mengecap alay atau norak. Padahal mereka lebih tidak berbudaya dan berkarakter, dan tidak ada yang sama sekali bisa dibanggakan dari orang seperti mereka.

Lalu tololnya lagi, yang dihadirkan dari sistem pendidikan indonesia adalah, dihadirkannya bahasa inggris sebagai uan. Kita ini negaranya siapa? Kok ada bahasa inggris sebagai standar kelulusan? Ya kalau mau bisa bahasa asing kan bisa les, kesannya kita ini budak budak yang bisa bahasa inggris yang siap diperbudak orang orang asing. Dan pikirlah lebih jauh lagi, keanekaragaman bahasa bakal menghilang, dan bahasa seperti prancis, jerman, korea, thailand, dan lainnya bakal tinggal nunggu waktu untuk hilang. Mengapa kita bahagia? Karena kita hidup ada senang, sedih, gundah, dan lainnya. Sama halnya dengan begitu banyak perbedaan yang melintang di sana sini yang justru membuat hidup semakin lengkap. Sama dengan mengapa agama dibuat berbeda beda. Kalau begini caranya, mau dibawa kemana bahasa indonesia?

Bahkan judul blog gw aja bahasa inggris, ini menunjukkan betapa gw menganggap keren bahasa inggris itu sendiri. Berusaha mencari kata kata yang sedemikian rumitnya hingga orang harus membuka kamus berkali kali baru mengerti. Dan apakah itu keren? Menurut gw sih iya, tapi menurut intuisi gw tidak. Gw bukan tipe nasionalisme maksa yang harus makan tempe setiap hari, bukan tipe yang harus pake baju merah putih setiap pergi, tapi apakah salah kalau kita berpikir ada yang harus dilestarikan? Mau anak kita ngomong bahasa inggris doang setiap hari? Mau ngedenger istilah damn daripada sialan. Sialan kan ga kasar, hanya menyebutkan alan dengan tambahan si, si alan. GA LUCU LO RAKUN!

Ada yang bercita cita untuk jadi orang hebat, pebisnis kaya raya, tapi sampai sekarang belum ada yang bercita cita jadi kiyai, guru bahasa indonesia, ataupun petani. Semua orang mau di atas, 5 milyar orang berpikir dengan cara yang sama. Berebutan untuk mengubah nasib mereka. Seandainya mereka tahu apa yang mereka punya hari ini adalah yang terbaik. Kita tidak akan menderita seperti ini. Dan mulailah dari yang kecil. Bahasa indonesia, bahasa ibu kita. Bahasa orang tua kita mendongengkan kita sebelum tidur, masa mau denger malin kundang pake bahasa inggris?

No comments: