Wednesday, September 09, 2009

ngayal yang gak ngayal ngayal amat

Langit jingga, gorden masih tertutup rapat. Aku masih berlindung di balik selimut bulu beruang, aku dikurung beberapa hari di kamar ini karena ketahuan menganggu selir milik ayahku. Berkali kali aku melihat melirik keluar jendela ingin lompat meninggalkan kastil ini, ingin sekali melompat dan pindah dari kerajaan ayahku yang sangat membosankan ini. Yang aku lakukan juga tidak banyak di sini, tinggal di dalam kerajaan yang terlalu luas, tapi aku selalu terlalu sempit untuk bergerak di sini.

Kemarin, setelah makan malam. Aku menyelinap keluar dari kastil utama, aku berjalan jalan kecil, ini pertama kalinya setelah sekitar 22 tahun aku membiarkan diriku bermain di sekitar kastil saja. Aku berjalan dengan iseng saja. Aku pernah dengar kabar kalau di sekitar sini banyak tinggal seorang badut kerajaan yang biasanya menghibur di siang hari. Aku sangat suka dengan badut, karena hanya mereka yang berwarna di kerajaan ini, sisanya hanya warna hitam, putih, dan cokelat.

Aku hanya mengikuti rasa penasaranku, aku terus berjalan menelusuri jalan setapak. Tak kusangka aku melihat kumpulan rumah di sini, dengan ukuran yang sangat kecil. Aku sangat senang, rasa penasaranku terjawab, aku berhasil menemukan tempat baru yang bisa aku lihat lihat. Aku mengetuk dengan penuh semangat, selang beberapa saat ada wanita membukakan pintu. Aku masuk tanpa ragu.

Satu, dua, tiga, empat, aku masih menghitung dalam hati ada berapa orang di rumah ini. Tak disangka rumah sekecil ini diisi oleh 8 orang. Kamarku yang sebegitu luasnya saja hanya diisi oleh aku seorang, aku jadi makin penasaran. Di dalam ada kakek kakek yang sedang masak, 6 orang anak kecil, dan wanita yang membukakan pintu, aku kira dia seumuranku. Aroma masakan yang dibuat si kakek sangat wangi, aku kira ini bau sop daging, tapi entah kenapa baunya jauh lebih tajam dan enak.

'Selamat malam pak, nyonya, dan anak-anakku, hamba memberi hormat' kataku. Serentak mereka diam, lalu si kakek tertawa terbahak bahak. Aku masih tidak tahu apa yang membuatnya tertawa, wanita yang membukakan pintu itu memegang tanganku dan menarikku pelan dan memberiku tempat duduk di sebelah anak anak kecil yang sedang bermain dengan piring mereka masing masing. Mejanya berbentuk segi empat dengan ujung ujungnya yang berbentuk setengah lingkaran. Aku tidak tahu bagaimana harus bertingkah laku.

Aku akhirnya dapat jatah makan, piring dibagikan. Makanan di sini aneh, seperti sup tapi lebih kental dan berwarna coklat kemerahan. Ada benda aneh berwarna oranye dan bola bola kecil berwarna putih. Yang aku kenali dari makanan ini hanya daging saja. Aku mengaduk ngaduk sop ini. 'Ini apa?' aku bertanya. 'Kamu ini gembel ya? Baju kamu bagus, muka kamu kayak pangeran di kerajaan tapi kelakuan kamu kayak gembel' kata kakek sambil tertawa girang.

Karena sudah terlanjur ditegur seperti itu, aku makan saja tanpa banyak tanya. Dan rasanya luar biasa, berbeda dengan makanan di tempatku yang biasanya dingin dan hambar. Aku diajak berbicara sambil makan. 'Jadi kamu dari mana? Ini anak anak yang kecil semua adalah cucuku, wanita yang diam itu adalah anakku. Maaf kalau hidangan kami tidak enak, ini makanan yang kutiru dari istriku yang telah meninggal 4 tahun silam. Kamu ini keliatan seperti seseorang ya.. ah peduli setan, ceritakan tentangmu nak'.

Ah mati aku, aku tidak pandai berbohong, aku menelan supku saja sedikit sedikit dan mengkarang karang cerita dari yang pernah diceritakan orang kerajaan saja. 'Oh, aku ini badut kek, baru beranjak umur jadi baru boleh jadi badut. Ini sop terenak yang pernah aku makan kek. Istri kakek kemana? Aku hanya berjalan di sekitar sini. Aku baru melihat ada rumah di sini, ya kakek sendiri kerja apa?'.

'Badut ya? Badut kan seharusnya tinggal di dekat kerajaan, sedang apa kamu bermain terlalu jauh sampai sini? Sekarang sudah beranjak malam, kamu lebih baik pulang. Aku pernah dengar ada badut yang dibunuh karena ketahuan tidak tidur jam segini, mereka mati mengenaskan, kepalanya pindah ke perut. Istriku? Dia dulu seorang wanita yang cantik sekali, dia meninggal karena demam yang tidak turun turun nak, kami tidak sekaya keluarga badut yang dibiayai terus untuk menghibur raja' si kakek berceloteh.

Aku mencerna omongan kakek, sambil melihat kanan kiri, para anak kecil menahan tawa entah kenapa. Aku bertanya pada mereka kenapa mereka tertawa. 'Cerita kakek tentang badut itu lucu sekali kak ihihi' kata mereka sambil tertawa dan saling memukul dengan sendok layaknya anak kecil. Aku menjadi tersenyum malu, si kakek pun tertawa lagi, dan wanita itu tertawa kecil dengan manisnya. Sepertinya aku mengenal wanita itu, jauh sebelum aku lahir.

Malam selalu gelap, aku pamit dan aku diberikan kain rajutan entah milik siapa, katanya untuk menjagaku dari dinginnya malam. Aku berjalan menuju arah pulang, aku masih hafal sedikit sedikit. Dan aku kira jalannya benar. Aku sampai di lapangan kastil, semua pintu telah ditutup. Aku mencari orang di sekitar tapi tidak ada. Tiba tiba pintu terbuka, dari belakang suaranya. Memanggil dengan kencang 'Tuan! Cepat masuk'. Hanya kata itu yang terdengar.

Dan aku kembali ke kamarku, aku tidur dengan pulas. Paginya aku mendengar kabar dari penjaga bahwa yang memanggilku sudah dihukum penjara, karena menurut para saksi aku terlihat seperti bermain dengan wanita sampai malam, apalagi itu adalah salah satu selir milik ayahku yang brengsek tersebut.

Aku memandangi jendela terus menerus, jendela dengan jeruji, aku bertanya tanya, aku ini pangeran atau tawanan. Aku menyusun rencana kabur lagi, aku akan memanggil beberapa orang penjaga untuk membantuku. Tapi pertama tama aku keluar dari kamarku terlebih dahulu, aku punya banyak pertanyaan kepada ayahku sebelum aku benar benar hilang dari kastil ini.

Aku ke ruangan raja, ayahku yang sombong, di mana dia biasa duduk pulas malas denga wanita wanita menyuapi buah buahan di sebelahnya. 'Kamu!? Siapa yang membolehkan keluar?' teriak lantang ayahku. 'Ayah, bisa aku bicara layaknya anak dan ayahnya? Aku ingin bertanya tentang kerajaan ini' balasku. 'Wah! Kamu sudah berminat untuk jadi raja nampaknya, ayah senang sekali padamu nak, nyatakan pertanyaanmu nak' ayahku menjawab, dari muka sinisnya kini terlihat ramah penuh senyum.

'Aku ingin mencari istri untukku, aku ingin mengembara, berikan aku waktu setidaknya 3 bulan, setelah itu aku akan kembali dan mempersatukan kerajaan kerajaan ayah yang terpecah dahulu' aku berbicara dengan penuh keyakinan. 'Hmn, aku ingin menentangmu nak, tapi tatapanmu bagaikan serigala yang lapar akan daging segar. Kamu sudah dewasa nampaknya, tapi kamu akan ditemani pengawal ayah yang terpercaya. Kamu tidak pernah belajar bela diri pedang bukan? Siapkan perbekalanmu, kau berangkat besok'.

Aku begitu senangnya, aku bagai kucing kelaparan yang diberikan bayi tikus. Aku pamit dengan seluruh orang di kerajaan, aku memutuskan hanya membawa baju dan beberapa koin emas untuk dijual mencari perbekalan. Rasanya aku seperti pulang kembali, alasanku mencari istri benar benar konyol tapi. Baiklah, aku akan memulai perjalananku.

Esoknya, pagi menuntunku untuk membuka mata dan berjalan menuju tempat di mana aku mandi dan bersiap. Semua mengadakan pesta perpisahan untukku, memberikan perbekalan dan barang barang untuk dibawa. Aku ditemani seseorang bernama Syruph, nama panjangnya Syruph Meilond. Sulit sekali untuk diingat tapi namanya membuat lidahku berteriak kemanisan. Aku meyakinkan diriku sendiri untuk pergi, aku memeluk ayahku untuk kesekian kalinya. Dan perpisahan ini terlihat konyol bagiku.

Aku akhirnya meninggalkan kerajaan, dengan seadanya sekali. Aku bersama Syruph Meilond, akan pergi mencari sesuatu yang tidak diketahui keberadaannya, aku akan mulai mengembara. (bersambung)

No comments: