Saturday, September 12, 2009

ngayal yang gak ngayal ngayal amat 2

Syruph meyakinkan aku untuk berjalan berputar mengitari daerah kerajaan terlebih dahulu sebelum benar benar meninggalkan semuanya. Aku menyetujuinya, lagipula aku bisa pamit dengan keluarga yang tidak kukenal yang memberikan aku makanan dengan ramahnya sekitar 2 hari yang lalu itu. Aku tidak ambil pusing, dengan dua kuda putih dan coklat aku mulai berangkat. Kuda yang dibawa Syruph terlihat lebih berat karena banyak yang dibawa olehnya.

Aku melewati kampung badut, mereka memang aneh, mereka menjalani kehidupan sehari harinya dengan kostum badut juga. Dan yang mereka lakukan hanya melakukan rolling, berjumpalitan di atas kain yang bisa memantulkan lompatan. Tapi mereka terlihat begitu riang dengan mainannya. Aku terus berjalan melewati semuanya, kali ini nampaknya rumah rumah warga sekitar, dengan atap campuran jerami dan kayu. Syruph tidak bicara sama sekali, sungguh  mengerikan.

Kuda ini masih kutuntun, lama kelamaan aku mulai lelah, aku pikir sudah saatnya aku naik kuda agar lebih cepat. Saat kakiku kupijakkan baru setengah, seorang kakek berteriak 'Hai anak badut! Mau pergi kemana kamu?'. Syruph mengeluarkan pedang dari gagangnya, aku menahannya dengan tatapan tenang, dia nampaknya mengerti. Aku berjalan ke arah si kakek sambil tertawa 'aku mau pergi jauh kek, kerajaan ini terlalu sempit buat aku, aku mau ngehibur ke tempat yang lebih luas, mau nitip apa?' kataku. 'Tolong bawakan tomat anti kematian yang berada di gunung begow'. Aku mengangguk dan memberikan jari kelingkingku sebagai tanda janji. Aku pergi lagi.

'Siapa itu tuan muda? Mengapa kau bicara dengan rakyat jelata?' Syruph mengeluarkan kata tanyanya untuk pertama kali. 'Ia warga biasa, pura pura kenal denganku, kau tahu rute ke arah gunung begow? Bisa antarkan aku ke sana?'. Syruph mengangguk penuh hormat. Aku yang terbiasa dengan kuda ini memacu kudaku cepat bersama Syruph.

Aku pergi melesat melewati gerbang pemisah kerajaan, aku juga tidak tahu tingkat keamanan di luar seperti apa. Suara tapak kaki kuda memantul ke telingaku dengan kencang, aku jadi ingat kata kata ayahku bahwa kuda bisa mengerti kemauan pemiliknya bila mereka sering bersama. Perjalanan begitu lama terasa dengan kuda, aku melewati hutan yang daunnya lebih banyak berwarna merah ketimbang hijau. Sebenarnya dari tadi aku hanya memikirkan hal hal sekitar, karena sebenarnya kakek itu lah yang membuat aku ingin pergi ke arah ini.

Tiba tiba ada kawanan kuda bergerak cepat menembus semak dari kiri dan kananku, mereka menabrak kudaku dari kiri, aku tidak berhasil menghindar. GUSRAK! Aku terpelanting, Syruph berhasil menghindar namun dia kehilangan keseimbangannya, dia berhasil lompat dari kudanya dan tetap berdiri. Terlambat pikirku, pedang panjang sudah mengarah ke daguku, aku melihat ke arah pedang tersebut, pria setengah baya berjanggut tebal. Aku tidak tahu apapun tentangnya.

TRANG! TRANG! Sekejap arah pedang berbalik, Syruph berhasil mengalahkan anak buah lelaki tersebut, dan pedang yang diarahkan ke daguku kini telah mengarah ke pria berjanggut. 'Baik baik, aku mengalah.. Aku lakukan apapun yang kalian inginkan, temanku pun sudah mati kalian bunuh' kata lelaki aneh berjanggut itu. Syruph memberikan pedangnya kepadaku tanpa bicara satu katapun. Aku memegang pedang dan menempelkannya ke kuping lelaki itu, 'Kenapa kamu? Kekurangan uang?' kataku.

'Ahaha, kau ini siapa? Mengapa begitu peduli dengan keadaanku? Iya, anakku sudah mati semuanya karena dulu aku kekurangan uang, aku lelah menderita, orang kaya seperti kamu lah yang bajingan' kata lelaki itu. 'Baik, aku mengerti, kalau begitu kau ikut aku dalam perjalanan ini, masih ada kuda kan?' kataku. 'APA? Maksud tuan apa?' balas si lelaki aneh. 'Apa perlu aku ulangi hah?'. Lelaki itu langsung menunduk dan menarik tali kudanya dan naik keatasnya.

Sekarang kami bertiga, aku seorang anak raja, seorang pengawal, dan satu seorang perampok tanpa nama. 'Hai kau, kau kupanggil Semanka saja ya, nama raja di daerah nepal' kataku. 'Baik, baik.. terimakasih atas namanya' balasnya. Hari pertama baru setengah berlalu sudah ada lelaki aneh menyerangku, ini juga belum jauh dari mana mana, aku harus lebih berhati hati. Terlebih lagi aku sangat lapar, akhirnya kita menyingkir untuk makan dan bermalam di rerumputan luas.

Pertama kalinya aku melakukan hal seperti ini, nampaknya Semanka tahu apa yang dia lakukan, dia membuat selimut dari tas yang dibawa di kudanya. Sedangkan aku tidak mengenakan apa apa, aku jengkel dan malu terhadap diriku sendiri. Akhirnya aku naik ke atas pohon, karena di atas ada sarang burung kosong tanpa telur, aku pikir aku bisa menyenderkan kepalaku di sana dan tertidur, lagipula batangnya tebal. Dan Syruph lebih memilih untuk tidur tanpa alas, aku pikir Syruph tidak lebih hanya seorang petarung yang manja, ah peduli apa aku, aku tidur saja.

Aku terbangun, aku bermimpi buruk. Aku bermimpi akan ada sepasang angsa api, terbang melintas ke sini yang akan memakan tubuhku, dan Syruph memakan bagian tubuhku yang terbakar. Mimpiku buruk sekali, aku masih berada di atas batang pohon ini untungnya. Dan kemudian aku mencoba tidur kembali sampai akhirnya langit cerah kembali dan siap untuk berangkat. Lagi lagi Semanka sudah mendapatkan sarapan paginya, dia memanah burung dan membakarnya dengan minuman yang ada di tasnya. Aku dan Syruph hanya memakan makanan yang berada di tas, buah buahan, dan daging yang dikeringkan.

Kami pun berjalan lagi, menurut Syruph, perjalanan ke gunung begow seharusnya sudah sampai, karena gunung tersebut adalah gunung yang terdekat dari kerajaan. Namun Syruph tahu bahwa tomat anti kematian letaknya sangat sulit ditemukan. 'Yang terakhir memakan tomat tersebut konon sudah mati, reaksi tomat itu tidak sebagus dahulu, sekarang tomat itu hanya dapat menyembuhkan penyakit dan menambah umur satu minggu saat kita tercekik saat nyawa kita tertarik' Semanka menjelaskan. Tujuanku memang serampangan dan asal asalan, tapi keingintahuanku untuk melihat sekitar kerajaan memang tidak tertahankan, jadi aku masuk ke dalam hutan begow berusaha menemukan jalan menanjak ke gunung begow.

Tempat ini sama sekali tidak terlihat seperti hutan, ini terlihat seperti neraka. Banyak binatang seperti monyet dan rusa tergeletak dengan perut terbuka, Semanka terlihat gemetar dengan pedang berkaratnya. Apalagi dengan aku, aku tidak pernah masuk ke hutan sebelumnya. 'GYAAAA!! TIDAK!' Syruph menjerit, aku melihat kebelakang. Ternyata dia hanya menginjak genangan air yang agak dalam, rasa takut yang melekat di leher kita masing masing membuat kita mudah shock, aku juga harus hati hati.

Aku memegang batang batang pepohonan sambil berjalan perlahan, di ujung jalan nampaknya sudah ada jurang, di kiri sama sekali tidak ada celah untuk bergerak, hanya ada jalan ke kanan, tapi sekitar seratus langkah dari situ akan ada rawa, sial aku tidak bisa berpikir banyak di sini. Aku tidak mungkin menjadikan bangkai salah satu pengawalku sebagai kapal untuk menyebrangi rawa itu, atau aku harus memotong pohon dan menjadikannya jembatan, sial kita semua hanya bawa pedang, membuat rakit sekuat itu kita perlu kapak.

Syruph mencoba berjalan rawa tersebut, kakinya hanya tercelup sampai dengkul, dia melangkah dua langkah lagi. 'GYAAAAA!! APA INI!?' Syruph kembali berteriak, aku meraih tangannya. 'Ada apa syruph? katakan perlahan' kataku. 'Seperti ada hewan tadi di sini, sebesar dua kali perutku, seperti ular' ujar Syruph menjelaskan. Aku menganggkat dia dari rawa hijau menyeramkan itu.

Rawanya begitu jauh, agak luas, perlu berenang sekitar 5 menit untuk mencapai ujungnya, ada sedikit pijakan di tengah danau dan pohon bakau, entah kita bisa beristirahat sejenak dulu di sana sebelum berenang lagi. Yang mengkhawatirkan adalah ular itu ada atau tidak. 'Tuan, izinkan aku mengambil sisa daging rusa tadi, aku mau melihat apa itu ular pemakan daging atau bukan' Semanka dengan keyakinan. Aku mengagumi reflek cepatnya, tapi yang kita butuhkan di sini bukan hanya tes keberadaan ular.

Aku menggaruk kepalaku, Semanka kembali dan melemparkan dagingnya ke tengah rawa. Keadaan hening sesaat, daging masih mengambang sampai perlahan turun ke dalam danau. Tiba tiba danau bergerak, dan benar, ternyata memang benar ada ular rawa raksasa. Yang dirasakan Syruph tadi mungkin hanya sebagian kecil dari ukuran tubuhnya. Aku berjalan mengitari rawa, aku mencoba cara orang bodoh sedikit. Aku berpegangan pada pohon bakau di kanan dan mengitari rawa ini sampai ke ujung tempat tersebut.

Aku memerintahkan Syruph dan Semanka mengambil arah dari kiri agar bila salah satu dari kita mati, perjalanan masih bisa dilanjutkan. Kita mencari daging rusa, membunuhnya dan mengantongi beberapa daging di kantong pakaian kami. Agar nanti saat mengitari, satu tangan kami masih bisa melemparkan daging satu per satu dan mengalihkan perhatian si ular sementara kita berpijak dan berpegangan di pepohonan di pojok pojok rawa.

Iya kita memulai dari hitungan tiga. 'satu, dua, TIGA!'. Kita langsung melempar daging pertama ke ujung rawa. Kita bergegas dari kanan dan kiri memanjat menyamping dengan cepat. Suara ular melahap daging itu sudah terdengar. Semanka gemetar dan terjatuh ke dalam rawa, tapi untung dengan cepat dapat kembali memanjat dan ia melemparkan dagingnya ke depan lagi. Butuh 5 menit untuk sampai ke ujung, tapi kalau mengitari ini, akan jauh lebih lama. 'Lempar dagingnya ke belakang Semanka!' kataku.

Aku melompat berenang ke dalam rawa, aku tidak tahu apa yang menunggu, ular ini akan berenang ke belakang sementara aku bisa berenang ke depan. Aku berhasil, setengah rawa sudah tercapai, aku terus berenang menggapai akhir dan sampai. Dan di kantongku juga masih ada 2 buah daging walau sudah basah. Syruph dan Semanka juga berhasil melewatinya, aku melemparkan daging itu ke belakang dan mereka berenang dengan cara yang sama.

Perjalanan akan berlangsung lebih lama, kita telah meninggalkan kuda kita masing masing di dekat rawa tadi. Sambil tertawa Syruph menawarkan untuk makan daging basah tadi. Kita cari kayu bakar, dan membuat api untuk memasaknya. 'Sebenarnya aku terkejut, tidak ada seorang pun yang bisa melewati rawa tersebut, kau hebat tuan' kata Semanka. Astaga, jadi rawa itu sebegitu mengerikannya? Kalau tahu hal tersebut aku bisa mundur dahulu sebelum mencoba, ah gila aku.

Begitu mengerikannya perjalanan ini, tapi entah kenapa aku merasa puas. Aku sambil makan daging rusa rasa rawa ini. Syruph tiba tiba bicara panjang lebar 'Tuan, aku heran dengan tuan, hidup di kerajaan malah meminta berjalan jalan di tempat seperti ini, apa yang ada di otak tuan sebenarnya?'. Syruph kali ini terlihat lebih rileks, kita sekarang seperti kawan. 'Aku tidak tahu, kau bagaimana? Aku tidak tahu tentangmu, ceritakan saja hal hal tentangmu'.

'Aku anak yatim piatu, aku diasuh oleh kerajaan sejak 5 tahun, aku dilatih berpedang, berkuda, dan semuanya di kerajaan. Aku punya kekasih di kastil, tapi ia sedang sakit terkena penyakit aneh yang berada di punggungnya, warna punggungnya menggelap dan ia terus mengeluarkan air liur. Dan sesaat kemarin kita meninggalkan kerajaan, aku mendengar dari pengasuhnya bahwa ia telah mati. Aku tidak punya tujuan hidup, semua yang aku punya telah hilang, aku bisa melindunginya dari serangan perampok dan pembunuh, tapi tidak dari penyakit, sialan'. Syruph bercerita.

'Andai kau punya tomat anti kematian itu mungkin dia masih selamat bukan?' aku bertanya padanya. Syruph mengangguk diam. Aku sendiri tidak punya orang yang dapat kulindungi, aku hanya mengikuti permintaan seorang kakek yang memberiku sup aneh itu. Dari cerita yang aku dengar Semanka pun juga begitu, dia kehilangan semuanya. Kalau mereka kehilangan semuanya, aku mencari sesuatu, dan mungkin akan hilang seperti mereka. Aku jadi tertawa kecil terhadap ini huh.

Tiba tiba ada suara langkah dari belakang tempat kita makan, dari yang didengar nampaknya adalah langkah manusia. Dari kejauhan seperti wanita, wanita dengan kain kusam berjalan lemas dan tiba tiba dia pingsan di dekatku. (bersambung)

No comments: