Wanita itu tidak mengeluarkan darah, nadinya normal, hanya wajahnya saja memang begini, agak pucat pasi. Aku mengambilkan air rawa dan aku usapkan ke wajahnya. Wanita itu malah tidak bernafas. Aku jadi merasa bersalah. Semanka dan Syruph menatapku seolah aku yang menyebabkan wanita ini bermasalah. Aku dengan ragu mengecek nadinya lagi, ternyata dia masih hidup.
Aku memerintahkan Semanka yang paling besar di antara kita untuk mengangkat wanita ini, kita akan berlari ke tempat peristirahatan terdekat. Aku baru makan sedikit, tapi sudah harus pergi lagi, jengkelnya. Sudah lama kita berlari tapi belum tampak tanda kehidupan di sekitar sini. Semanka berteriak 'DI SANA TUAN!'. Terdapat kumpulan batuan aneh dan asap perapian.
Tapi di sini nampaknya adalah tempat suku kanibal sedang bersantap ria, mereka terlihat sedang memakan daging yang bentuknya mirip manusia, mengerikan. Aku berjalan perlahan. 'Anda sedang masak apa? Di sini ada obat?' aku bicara terpatah patah. 'Ini daging monyet besar, daging monyet hutan, mau? Ada obat, untuk apa?'. Semanka baru sampai ke tempat ini, dan si kepala suku itu mengangguk dan mempersilahkan kami masuk.
Wanita itu dibacai mantra, dan di sebelahnya terlihat orang sedang menumbuk dedaunan dan merebus air. Diminumkanlah air itu ke mulut wanita itu. Aku hanya duduk malu bersama Syruph, Semanka ternyata mau menyantap daging monyet itu, dasar rakus. 'Kepala suku, hewan di rawa itu apa? Tahukah jalan menuju ke tomat anti kematian?' aku bertanya agar dapat mempercepat perjalanan yang gila ini.
'Rawa itu? Itu dijaga oleh naga air, bagaimana kalian bisa ke sini? Hanya segelintir orang yang mampu melewatinya. Kalian pasti bukan orang biasa bukan? Tomat itu dekat dari sini, sekitar satu malam, kalian akan menemukan satu pasang piramid, kalian pisahkan piramid tersebut akan terdapat satu benda kecil di dalamnya, tekanlah ke dalam. Namun aku peringatkan, tomat itu tidak bisa diambil oleh orang biasa. Harus orang yang benar benar memiliki hati yang murni. Atau yang keluar dari sana adalah tomat kematian, bukan tomat anti kematian' jelaskan si kepala suku itu dengan serius.
Wanita itu terbangun, melihat daging yang dimakan Semanka, dia ikut melahapnya. Aku jadi jijik terhadap dua orang tersebut, tapi Syruph pun sudah hilang di sebelahku. Dia mencicipi daging monyet itu juga rupanya. Aku menggeleng gelengkan kepalaku. Aku bingung, dari tempat aku tinggal, menjadi seperti ini, aku jadi ingin menghentikan ini semua lalu beristirahat. 'Tuan, kalau aku tidak ikut tuan, aku tidak akan mencicipi daging seenak ini, hahaha' Syruph menyambar di belakangku. Yang aku pikirkan langsung buyar kemana mana.
Besok pagi kita harus berangkat lagi, aku beristirahat, melihat lihat tempat peristirahatan milik suku aneh ini. Aku melihat matahari yang siap menurunkan tahtanya, bergantian dengan bulan. Aku begitu santainya menikmati tempat ini, tapi aku tidak bisa berhenti memikirkan perjalanan besok. Aku memejamkan mataku perlahan, aku tertidur di semak semak.
Esok paginya, semua sudah siap untuk berangkat. Aku pergi bersama Syruph dan Semanka juga sudah segar kembali. Kalau mengingat naga tadi aku jadi ingin pulang, kita akan pulang lewat jalan tadi, sialan. Aku tinggalkan wanita itu tadi di warga sini. Aku berangkat lagi menuju tomat yang entah untuk siapa. Aku jadi semakin banyak mengeluh setelah kejadian tadi, ah entahlah.
Sudah tidak ada kuda, kita pergi berjalan sekitar setengah hari. Aku tiba tiba teringat wajah anak kakek yang sangat cantik itu, untuk sementara aku berkhayal. Dan aku menoleh ke kanan dan ke kiri, aku melihat mereka lagi, pria berjanggut dan pria berwajah semangat yang menjengkelkan. Tiba tiba di perjalanan kita sampai ke jembatan panjang, nampaknya ini persimpangan pertama sebelum sampai ke tomat anti kematian.
Di sampingnya ada tulisan, masukkan tangan anda ke dalam kelopak bunga raksasa berwarna merah, lalu masukkan tangan anda ke dalam kelopak bunga yang lebih kecil. Aku memasukkan tanganku ke dalamnya, begitu lengket, dan bunga selanjutnya seperti banyak serbuk yang gatal. Lalu aku mulai berpegangan ke jembatan itu dengan dua tangan. Ternyata jembatan ini sangat mudah bergoyang, tanganku di sini sangat berperan penting. Aku tidak menyadarinya.
Aku beranjak terus tanpa henti menghadapi jalanan yang penuh halang rintang ini. Aku bersikeras mendapatkan tomat tersebut. Sudah hampir malam, aku beristirahat lagi. Dan perutku sudah kelaparan, aku memenggal ular yang lewat dan memasaknya. Syruph dan Semanka sudah tidur. Aku benar benar lelaki yang kesepian, makan ular di tengah malam, kurang malang apa aku ini?
Akhirnya aku pergi meninggalkan Syruph dan Semanka. Aku pergi ke tempat tomat itu sendirian, aku berharap bisa cepat menemukannya. Dan setelah pergi meninggalkan mereka, aku menemukan seorang lelaki tua, sangat tua, dia seperti melekat di pohon besar dan tidak bisa bergerak. 'Hai nak, kemari, untuk apa kau berjauh jauh ke sini menentang maut, kau ini kenapa?' katanya. 'Aku tidak tahu, aku bosan' kataku. 'Langit dan bumi bisa tidak bosan diinjak oleh mu nak, matahari bisa tidak bosan menyinarimu sampai kering nak, kenapa kau melakukan hal sejauh ini karena bosan?' kata si kakek. 'Aku tidak peduli kek, aku bosan' balasku. 'Setelah kau menemukan tomatmu, kau akan menemukan segala jawabannya, kembali lah ke temanmu, hari sudah malam, atau kau akan mati' jelas si kakek.
Hari memang benar sudah malam, aku yang tadinya berani menjadi ketakutan. Dan setelah beberapa langkah aku pergi kembali ke tempat istirahat Semanka dan Syruph, kakek itu hilang. Aku semakin ketakutan dan berlari terbirit birit sampai tersandung kayu bakar di tempat istirahat tadi. Syruph ternyata tidak tertidur. 'Kalau tuan meninggalkan hamba lagi, hamba akan membunuh diri hamba sendiri' dengan muka seriusnya Syruph menyatakan yang ia pikirkan.
Esok sudah pagi, aku berangkat lagi, sangat dekat dari tempat tidur semalam. Sudah sampai di tempat piramida ini. Aku menggeser piramida ini dan menekannya. Tiba tiba ada tomat keluar dari bawah tanah, ada 3 tomat. Aku mengambil ketiganya dan tertawa puas. Aku segera pulang ke kastil, aku ingin memberikan ini pada si kakek. Tapi aku kesulitan pulang, terlalu banyak halangan. Meski begitu aku hanya butuh setengah dari waktu perjalanan seharusnya, yakni satu minggu, aku hanya butuh 3 hari untuk pulang.
Aku disambut dengan keheranan, aku pulang lebih cepat, seminggu 3 hari dari 3 bulan waktu yang kutetapkan. Dengan tambahan satu orang bodoh, dan rasa lemas yang begitu mengganggu konsentrasiku. Aku langsung bertemu dengan ayahku, menunjukkan tomat yang telah aku ambil. 'Kau jauh jauh pergi seminggu hanya untuk tomat? HAHA, lucu sekali anakku' cela ayahku. Aku sudah terlanjur lelah, aku mengistirahatkan diriku sejenak.
Esoknya aku turun ke pedesaan ke tempat di mana kakek itu yang menitipkan benda tomat aneh itu, aku datang bersama Syruph, Semanka sedang dijamu dengan makanan kerajaan, semakin tidak bisa berhenti dia. Aku mengetuk pintu yang lama tak kuketuk. Dibukanya pintu oleh si wanita cantik yang tidak kutahu namanya itu, mataku belum pindah dari matanya, tapi setelah terdengar suara kakek kakek bergerak perlahan ke arah pintu, aku mulai melihat ke dalam.
'Kek, ini yang kau pesan, tomat anti kematianmu' kataku. Kakek yang berwajah pucat lemas itu membawa satu tomat itu, membawanya ke dalam dan mencucinya. Ia menutup matanya dan menggigit perlahan. Rahangnya tiba tiba bersinar, rambut putihnya berubah menjadi abu abu lalu berubah perlahan menjadi hitam. Kerutan di wajahnya mengencang, dia menjadi begitu tampan. 'Nak! Terimakasih banyak! Aku menjadi awet muda, sekarang aku bisa memerintah lagi' kata si kakek. 'Memerintah? Aneh sekali, kakek jadi gila ya? Apa perlu penawar tomat anti gila?' kataku.
Sambil menggelengkan kepalanya dia menjelaskan, 'Aku adalah ayahmu, aku masih menyimpan mahkotaku yang kusam ini, aku nyaris mati nak sewaktu aku bertemu naga itu, dan gigitannya membuat aku lumpuh. Kamu anakku, walau anehnya sekarang kita hanya beda mungkin 5 tahun. Gigitlah tomat ini nak, ini akan memberikan apa yang seharusnya kau dapatkan dari dulu, karena kau anakku satu satunya, dan kau memberikan apa yang kuinginkan'.
Aku diam sejenak, mencerna omongannya. Kalau aku sembarangan makan ini aku bisa jadi anak bayi. Aku menahan semuanya, kepalaku begitu pusing mencerna ini semua. Tomat yang kupegang tinggal satu, seharusnya kan ada..... Astaga, nampaknya satu telah dicuri. Aku keluar dari rumah kakek kakek gila itu. Setelah aku berlari ke kastil, dan bertanya pada Syruph. Ternyata tomat itu akan menjadikan pemiliknya sesuai apa yang dia inginkan, si kakek itu ternyata bukan raja, bukan pula ayahku. Hanya orang aneh.
Tomatku sudah dimakan satu lagi oleh orang tidak dikenal, seperti yang kuduga, Semanka yang memakannya. Dan kini dia jadi panglima perang, dia jadi begitu ramping dan jenggotnya berkurang. Tinggal satu tomat tersisa, aku memakannya dengan pasti. Tiba tiba aku berada di luar kastil, dengan peralatan lengkap bersama Syruph dan Semanka. 'Ah mengapa aku di sini tidakkkkk' teriak Semanka. 'Tuan, mungkin ini artinya kita harus pergi lagi' kata Syruph. Aku mengangguk, aku melompat ke atas kuda dan perjalanan akan dimulai lagi. Tomat yang aneh. (Sekian)
No comments:
Post a Comment