Batas antara orang jenius dengan orang bodoh sangat tipis, seperti softex edisi paling baru, tipis sehingga tidur bisa nyenyak. Maksud saya, yang dipikirkan orang bodoh maupun orang jenius tidak lah jauh berbeda. Misalnya dua orang ditaro di ruangan yang berbeda. Diberikan dua kotak pensil, satu korek api, dan satu plastik minyak tanah. Peraturannya adalah bagaimana cara keluar dari kamar ini tanpa meminta pertolongan, hanya cukup dengan peralatan yang disediakan.
Si orang pertama, mengukur ketebalan pintu dengan pensil, mencoba menghitung tingkat leleh gagang pintu yang telah dikunci. Setelah itu dia mulai memasukkan pensil pensil ke engsel pintu untuk dicongkel dan dilumuri dengan minyak tanah agar engsel pintu bisa digerakkan. Sekitar 30 menit dia berusaha terus menerus tanpa henti.
Si orang kedua, membuka bajunya, membungkus kotak pensil dengan bajunya, menaruhnya di dekat pintu. Disiramnya dengan minyak tanah lalu dibakar dengan korek api itu. Pintunya terbakar, satu ruangan itu terbakar. Akhirnya dia menendang dengan paksa pintu itu dan pintunya rusak jebol. Dia berhasil keluar telanjang dada dengan tertawa.
Pertama kali si orang pertama akan dilihat seolah seperti jenius, dengan buku yang ia pelajari ia berhasil mengenali perbandingan ukuran, kemungkinan a b c d dan seterusnya. Di kehidupan nyata pun banyak orang kayak gini, pinter berasa tau segalanya (kayak saya tepatnya), tapi pas dalam praktek memang tidak dapat diterapkan.
Banyakan orang pinter apa orang biasa aja di dunia ini? Jumlah banyakan orang biasa lebih banyak menunjukkan bahwa orang biasa lebih bisa bertahan hidup ketimbang orang pinter bukan? Orang pintar akan menjawab dan membaca, orang biasa akan bertanya. Orang pintar yang sebenarnya adalah orang pintar yang tidak memisahkan diri dari si bodoh, pernah baca serial detektif komik2? Pasti di klimaks bakal ada seorang yang biasa aja ngasi petunjuk ke detektif untuk ngungkap jawabannya.
Memang tidak adil bagi seorang manusia membedakan tiap manusia dan manusia lainnya, maka dari itu perbedaan dan batasan memang harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri bidadari. Ya perbedaan akan menghasilkan perpecahan, tapi tidak kesamarataan yang menghasilkan kesetaraan pandangan publik.
Apa yang akan dikatakan oleh seorang pemuka agama atau jendral perang bila ada pertanyaan, bagaimana cara mengurangi jumlah penduduk bila sudah terlalu banyak manusia tinggal di bumi? Si pemuka agama bakal ngotot bilang ini udah deket kiamat dan biarkan alam yang mengurangi jumlah kita, si jendral bakal nyuruh perang adu kekuatan untuk menunjukkan siapa yang layak tinggal di bumi ini.
Dan apa jawaban seorang anak kecil, dia bakal bilang. Ya tinggal aja di laut, di bawah tanah, di awan. Dengan seenak jidatnya dia ngungkap hal itu, walau sekarang ga mungkin tapi bisa jadi solusi buat 1 abad ke depan kan? Mungkin iya, mungkin nggak. Mungkin setelah pertanyaan tadi anak tadi bunuh diri makan ketapel.
Jadi jawabannya, untuk apa menjadi manusia yang lebih cerdas kalau yang bodoh saja sudah cukup? Jadi untuk apa menjadi orang kaya? Kalau di zaman batu kita bisa hidup tanpa uang. Untuk apa kita mengenal kota kalau desa sudah cukup? Mungkin ini waktu yang tepat, untuk kita membodohi diri sendiri dan kembali menjadi manusia yang kita kenal dulu. Yang primitif dan tidak tahu apa2, dan lebih mengenal peri kemanusiaan bukan peri perkembangan zaman maupun peri keuangan.
eh btw gw udh libur nih, gw udh potong rambut loh, cepak asoy geboy ala brad pitt lagi idul adha, pasti kalo liat langsung berbusa mulutnya deh, bisa buat cuci baju tuh busanya. Gw lagi bikin list apa yang bakal gw lakuin kalo punya duit banyak, kebanyakan nyawa dan waktu berlebih, yang dilakuin ga boleh hal hal baik, tapi ga boleh hal buruk yang merugikan orang lain juga. So ini dia, saya coba dulu deh huhuy.
- Fotobox sendirian, pake gambar2 lucu gitu (ini pol banget, kalo berani gw acungin jempol kakinya michael jordan deh)
- Bangunin tukang becak pas lagi tidur, terus sembunyi, ulangi hal ini sampai tukang becaknya pembulu darahnya pecah
- Bikin kejuaraan bowling kelapa, di kuta bali. Pin bowlingnya teh botol sosro saja
- Ke mesjid pake kostum lengkap, pakai surban, terus sujud sampe headstand. Kalau cewek pake cadar. Kalo ga ada cadar, diganti pake keju cheddar.
- Ngajak pembantu tetangga nonton bareng di plaza senayan, berdua
- Beli ikan emas, kura kura, sama udang air tawar. Masukin ke satu akuarium bulet yg kecil, pasangin nametag 'kehidupan air yang sesungguhnya'.
- Naik bus mudik, tapi salah jurusan
- Ke kfc, minta mcflurry, ke mcd, minta puding. Ke pedagang kaki lima es cincau, minta sop kaki kambing.
- Nyembelih kambing di depan kumpulan kambing
- Ke penjara, bayar dendanya narapidana yang gak dikenal
No comments:
Post a Comment