Gak jarang dari tiap diri kita mengatakan hal ini, kadang kita sebagai pihak anak yang tidak tahu apa apa langsung dibombardir dengan permasalahan keluarga yang sebenarnya bukan urusan kita sama sekali. Ya, bagi yang beruntung telah bersama keluarga yang tepat, gw turut senang mendengarnya. Tapi nyatanya memang sulit untuk menghindari permasalahan yang terbentuk dengan sendirinya. Keluarga, selalu menjadi latar belakang orang, entah tersurat atau tersirat.
Kita stres untuk menghadapi salah satu anggota keluarga yang tidak pernah kita sukai, kita stres untuk sekedar berada di keluarga yang tidak pernah mengerti keberadaan kita, kita stres untuk mendengarkan pertengkaran orang tua setiap harinya, dan lainnya. Tapi menurut gw, tidak pernah ada kalimat yang membenarkan pernyataan ini, "aku tinggal di keluarga yang salah".
Mungkin seiring kita tumbuh dengan perilaku perilaku di atas, secara tidak sadar kita akan membentuk perilaku di atas suatu hari saat berkeluarga. Mungkin kita akan terluka secara fisik, ataupun mental seiring dengan pembunuhan karakter di keluarga. Mungkin kita akan mengalami rasa takut berlebihan dan paranoid untuk hidup di kehidupan selanjutnya. Mungkin, dan untungnya itu semua hanya sebatas kemungkinan.
Ya dan tidak jarang juga kita menyalahkan Tuhan sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap semua yang terjadi di bumi ini. Memang sih, Dia bertanggung jawab atas semuanya, tapi kalau kita tidak henti hentinya menyalahkan Tuhan, kita tidak akan bisa melihat dari sudut pandangNya. Memang, sampe sekarang gw juga gak tau alasan ataupun sudut pandang macam itu. Tapi mereka yang menyerah dan berbuat buruk dengan alasan tidak mendapat perlakuan yang layak, bukanlah orang yang patut dikasihani.
Nyatanya banyak teman teman dari gw sendiri menjadi sosok yang memiliki toleransi yang amat tinggi dalam pertemanan, penuh perhatian, dan dewasa tingkahnya. Padahal waktu dia sendiri, dia sempet cerita bagaimana keluarganya benar benar ga karuan. Memang sih dia agak rapuh orangnya, dan agak ultra sensitif terhadap hal berbau keluarga. Tapi dia entah mengapa menjadi penuh pengertian, dan karena tekanan berlebih, dia mengalami perluasan sudut pandang.
Mungkin bukan itu sih yang kita cari, bukan pendewasaan diri yang terus menerus, melainkan seseorang yang memperlakukan kita secara layak dan seolah kita melihat orang lain diperlakukan secara layak. Jangan frustasi dan melempar harapan kalian ke sumur putus asa, karena Cinderella mendapatkan istana ketika dia selalu berada di bawah siksaan saudara tirinya. Argh Cinderella memang tidak pernah menjadi perumpamaan yang baik.
Lewatilah fase ini nak, karena tidak semua orang terlahir dengan keberuntungan yang melimpah, banyak yang punya musibah di sana sini. Jangan fokus kepada batu yang menghalangimu nak, fokuslah pada jalan keluar yang menanti, karena di dunia ini tiada yang tak mungkin. Dan buah dari kesabaran yang dilakukan pada tempatnya, sungguh amatlah manis. Maaf gw sok tau, tapi yaa, semoga bisa membantu. Ciao!
No comments:
Post a Comment