Entah berturut turut permasalahan negara tiada henti henti menghantam kita secara langsung ataupun tidak langsung. Entah ledakan gas tabung elpiji, pembangunan gedung DPR dengan fasilitas yang dianggap tidak sehat, konflik dengan perbatasan negara tetangga, dan masih banyak masalah lainnya. Kita seolah menjerit jerit meminta tolong untuk mencari pemimpin yang bisa menyulap negara menjadi lebih baik.
Kita frustasi, kita menuduh pemimpin yang berada di atas kita adalah salah total, karena mereka diberi tanggung jawab seutuhnya untuk menjalankan tugasnya, tapi nyatanya tidak. Benar?
Setiap menonton televisi rasanya tidak pernah ada kata negatif yang tidak keluar dari mulut kita. Kita muak, dan kata kata itu kita bagikan ke orang lain, "Gw muak sama Indonesia, gw muak sama presidennya, gw muak". Dan, entahlah, tapi menurut gw, bukan begitu caranya. Mungkin bisa dijabarkan seperti ini :
Pemimpin menggambarkan rakyatnya, dan sebaliknya
Percaya gak percaya. Segala cemohan yang kita berikan ke pimpinan kita adalah gambaran mayoritas negara kita sendiri. Sebut saja "Pimpinan kita cuek, tidak mau mendengar orang lain, tukang ngambil duit rakyat, dan lain lain". Ya kita gak jauh beda kan? Ya mungkin pembaca blog ini gak seperti itu, tapi bagaimana dengan 270 juta orang lainnya? Kita memang gak cuek untuk sekarang, tapi ketika sudah berada di atas, setinggi di gedung perwakilan sana, rasa cuek dan arogansi sudah menunggu di sana. Dan kita tidak pernah mendapatkan kesempatan yang layak untuk korupsi bukan?
Tapi memang perilaku kita sehari hari seperti itu toh, mau diapain? Jika ada gerombolan setan, maka pemimpinnya setan bakalan lebih gak bener, bejat, tukang tipu, dan lain lain. Dan pemimpin hanyalah perwakilan dari suatu kelompok, sebenarnya yang benar benar mengatur kita sebagai rakyat, ya kita sendiri. Konyolnya, setiap hari kita memarah marahi pemimpin kita. Yang jelas jelas perilakunya tidak jauh berbeda dari diri kita.
Lalu bakal ada kata kata yang keluar dari mulut kalian seperti ini. "YA CARI PEMIMPINNYA YANG BAGUS DONG!"
Guys,
Tidak pernah benar benar ada pemimpin yang bagus, entah Soekarno, Soeharto, atau Sozzis. Jika kita semua adalah jerami, maka orang itu adalah jarum. Dan kita membiarkan seseorang yang jelas berbeda asal usulnya, visi dan misinya, untuk memimpin kita karena dia seolah pemimpin yang baik.
Padahal bayangkan. Konteks perubahan signifikan dari rakyat, perubahan moral, rakyat menjadi lebih gentlemen dalam memperlakukan anak kecil, kendaraan umum, dan wanita. Rakyat mau untuk tidak berkumpul di kota dan lebih memilih bekerja di desa untuk meningkatkan usaha tani. Dan untuk sejujur jujurnya, pemimpin hanyalah seorang aktor yang dikirim untuk penampilan penampilan nanti di luar negri, jadi wajarlah Presiden kita hanya segitu segitu saja.
Tidak pernah ada perubahan yang kolossal yang datang dari seorang pemimpin satu orang saja. Hanya di film, serius deh.
Lalu bagaimana? Saya frustasi, miskin, minim aksi, dan penuh ekspektasi
Mulailah berubah menjadi diri yang lebih perhatian kepada orang lain, lebih mencintai kemanusiaan ketimbang uang, mencintai budaya negara, dan mencintai barang buatan indonesia. Bayangkan jika seluruh rakyatnya sudah benar benar segitu bagus kelakuannya. Mau segila apapun pemimpinnya, gak bakal ngaruh. Malahan, jika kita semua sudah melakukan perubahan sejauh itu, tidak mungkin ada pemimpin dengan kualitas seperti itu. Setiap individu di Indonesia, sudah matang untuk jadi presiden.
Jangan menuntut lebih tapi tidak mau berpartisipasi. Karena perubahan perubahan besar yang tidak masuk akal, dimulai dari perubahan kecil yang masuk akal. Saya Rana Gemilang, undur diri. Jangan menyerah bangsaku!
No comments:
Post a Comment