Ga penting menjadi ganteng, tapi jangan jadi jelek, rapihkan diri sendiri lah, setidaknya menengah.
Dari kecil gw udah mengerti hal ini, makanya gw waktu kecil selalu bercita cita menjadi orang yang rumahnya biasa saja, punya istri yang wajahnya biasa saja, punya mobil yang wajahnya biasa saja, punya anak yang biasa biasa.
Karena bayangkan jika 6 milyar manusia yang berada di bumi ini semuanya ambisius untuk menjadi kaya raya, punya istri paling cantik, punya mobil paling bagus, dan punya anak paling jenius. Bakal terjadi persaingan (yang saat ini sedang terjadi) yang super tidak sehat.
Karena nyatanya memang gak penting untuk memiliki tanah 2 km persegi dengan alasan untuk investasi, jika semua orang investasi dari sekarang, maka tanah mana yang kosong untuk anak kita nanti? Persaingan justru menghasilkan individu dengan tingkah laku menyimpang tanpa kejelasan, atau singkatnya, orang sekarang itu aneh.
Jika dibandingkan dengan orang dulu yang tinggalnya nomaden dan selalu satu geng, sekarang tinggalnya makin menetap dan semakin sendiri.
Kita bertransformasi menjadi orang orang yang takut, menjalani hidup hanya sekedar untuk antisipasi apa yang akan terjadi pada anak kita nanti, dan menjadi orang yang menyulitkan apa yang sebenarnya dipermudah saat kita pertama kali lahir di bumi yang bentuknya aneh ini.
Singkatnya, mari kita lihat Jakarta. Semua orang berorientasi untuk cari uang entah bagaimana caranya, yang penting ada di kantor dan bisa melanjutkan keturunan. Penting dipetik bahwa "segala sesuatu dimulai dari niat". Ketika niatnya adalah hanya sekedar untuk materi yang disebut uang, maka makna hidup kita juga semurah itu, kita yang dilahirkan dengan nyawa yang tidak bisa dibayar dengan uang, sekarang memperbudak diri masing masing dengan uang.
Tujuan, kalau fasilitas lain kasusnya.
Dan jika menaruh ekspektasi terhadap hidup, jangan tinggi tinggi. Kecuali kalau bermimpi. Karena ekspektasi itu hal yang di luar kemampuan kita, atau dalam kata lain berharap. Sehingga banyak orang yang terseok seok dan akhirnya bunuh diri karena dunia yang dia buat sendiri dalam pikirannya.
Pada akhirnya kita hidup hanya untuk menyibukkan diri kita untuk melakukan hal yang kita suka dan melakukan perbuatan baik antar sesama. Lalu mengapa harus ditambah tambahkan di sana sini? Karena sudah jelas sekarang iklim sudah sampai rusak begitu, kok kita gak mau stop untuk melakukan aktivitas aktivitas yang merusak bumi?
Jika Tuhan tidak ada, setidaknya alam yang kita tumpangi ini kan juga punya perasaan. Jika alam semesta ini hadir karena kecelakaan, setidaknya kita bisa menjaga kecelakaan di bumi ini terjadi.
Sudah tidak zamannya untuk menjadi orang ambisius dan perfeksionis, itu zaman einstein, dan terbukti memang tidak berguna. Sekarang zamannya untuk toleransi dan analitis dalam berbuat segala hal. Dan itu bisa dipraktekkan dalam bentuk perbuatan yang kita lakukan, lakukanlah selalu dalam taraf tengah.
Karena segala sesuatu itu lebih indah ketika apa adanya, bukan ada apanya.
No comments:
Post a Comment