Friday, September 17, 2010

beberapa hal yang tidak berubah

Beberapa hal berubah, terus berubah, entah seperti roda yang berulang, atau seperti kurva menanjak dan melengkung. Beberapa perubahan akan terasa menyakitkan, beberapa dari mereka akan menyenangkan. Tak akan mampu manusia menentang usia, terus bergulir, berlipat berkali lipat seiring jarum jam mengetuk ngetuk keheningan hari. Waktu bergulir, hingga akhirnya kehidupan menyingkir.

Tapi meskipun begitu kenyataannya, ada hal yang tidak akan pernah berubah. Seperti kenangan, ketidakpastian, dan kenyataan.

Kenangan, seperti debu yang melekat begitu jujurnya, berpindah pindah tempat entah karena dibersihkan, terbasuh hujan hingga seolah hilang. Padahal mereka tetap ada, dan kenangan yang sudah masuk, tak mampu dikeluarkan kembali. Dari suara, susunan huruf, dan sentuhan semua akan menjadi kenangan yang permanen. Meskipun tidak rutin menampakkan bentuknya. Suatu hari, dan jika belum berdamai dengannya, maka debu itu akan menutup rasa kebahagiaanmu. Kecuali sudut pandang atas kenangan telah dikendalikan.

Dan biarkan lah kenangan seperti hujan, kita tahu suatu hari ia akan datang, entah yang dulu mulai mengguyur kesadaran kita, atau kenangan kenangan baru akan terus menumpuk di hidup kita. Biarkanlah semua mengalir seperti biasanya, karena mereka hanyalah sungai kenangan yang bisa kita pergunakan untuk menghapus dahaga atau kita acuhkan. Kenangan, jangan biarkan mereka menjadi sekedar, tapi jangan perlakukan mereka berlebihan.

Lalu, semakin bertumbuh kita akan semakin menginginkan kepastian, sesuatu yang bisa sesuai dengan keiinginan, kebutuhan masing masing. Padahal pendekatan untuk sesuatu kepastian justru membeli rasa khawatir yang berlebihan. Ketidakpastian adalah raut wajah Tuhan yang sebenarnya, Tuhan menginginkan kita melakukan improvisasi terhadap takdir takdir kecil yang telah Ia buat, bukannya mencari sesuatu yang pasti di dunia ini, seperti harta tahta maupun wanita. Semua tidaklah lebih cepat pudar daripada uap masakan yang baru matang.

Setiap hari kita berbohong, melalui bibir kita, melalui raut wajah kita, atau bahkan membohongi perasaan sendiri. Tapi yang pasti berbohong adalah rutinitas, membohongi diri adalah hobi, dan menutupi kenyataan adalah suatu cita cita, telah menjadi kepribadian kita masing masing. Sama halnya seperti rusa yang bercerita ke teman temannya bahwa ia adalah singa, mengobral ketidakpercayadiriannya ke binatang lainnya, dan kenyataan tak pernah berubah, batu hanyalah batu, dan aku adalah aku.

Mengenal ibu Hidup dan pak Mati memang tidak pernah mudah. Bahkan, mereka menuntut kita untuk aktif bertanya, dan membuat rangkuman untuk dijadikan diskusi bersama teman teman. Mereka ingin mengajari kita bahwa ada beberapa hal yang berubah, dan ada beberapa hal yang tidak. Selamat malam, sampai jumpa.

No comments: