Dari jaman dahulu, status sosial sudah ada. Bahkan dulu jika berteman dengan nabi Muhammad, maka disebut sahabat nabi, dan secara tidak langsung derajat sosial mereka bakal terlihat lebih keren. Sedangkan bagaimana jika anda bukan lah siapa siapa di lingkup sosial macam apa itu? Membingungkan bukan? Aku bukan lah si sahabat nabi, bukan juga musuh nabi, sekedar kenal dan tahu dia, tapi apa status dan harga diriku ditentukan olehnya?
Gak jauh beda sama dunia sekarang, ada si eksis yang bodoh, ada si eksis yang pintar, ada si ramah tamah, ada si calon sukses, dan ada si masa depan suram. Semua orang kayaknya sudah punya cap cap sendiri, ada yang bersikeras mencari cap itu, agar recognized as an amazing person, tapi ya sebenarnya semua hanya permainan klasifikasi dari orang lain, subjektivitas sangat kuat di sini.
Daripada bingung dengan cap orang lain, dengan penilaian orang tua terhadap anda sendiri, pacar, teman, atau bahkan tukang ojek langganan yang judging anda dengan seenak hati. Lebih baik, mulailah segala sesuatu dengan netral. Katakan pada diri sendiri "aku si biasa biasa yang menginginkan improvement di karakter".
Karena sulit hidup penuh refleksi yang tak karuan, dan menurut gw sendiri, pujian ataupun hinaan tidak jauh berbeda, mereka hanya kata kata yang membuat kita khawatir terhadap diri sendiri. Jika dipuji, 5 menit kita akan merasa senang, dan 5 menit kemudian kita merasa ragu dan mulai haus pujian lagi. Jika dihina, 5 menit kita akan ngamuk, dan 5 menit kemudian kita sakit hati.
Mendengar memang perlu, tapi kalau sekedar hina menghina, puji memuji asal asalan, toh diseleksi, karena hanya kita yang tahu apa kita layak dengan perangkat kata seperti itu. Tanggapilah teman terdekat yang serius dan berkata "eh gw mau ngomong serius nih sama lo", dengarlah apapun itu. Dan jika sekedar teman gak jelas muji asal asalan, kurangi sensitivitas kuping, dan seperti yang gw bilang, dengar saja, tapi hanya kita yang tahu layak atau tidak, tidak perlu ada pembuktian apapun.
Mereka yang hidup dalam pujian, akan terjerumus. Begitu juga mereka yang hidup dalam hinaan dan cercaan. Hanya mereka yang tidak tergantung dari kedua itu yang bisa lolos. Mungkin?
Poin yang gw berusaha sampaikan ya cuman, pujian itu manis, kalau ketagihan ya sakit gigi, hinaan itu pahit, kalau keseringan bisa kena maag. Semuanya ga terlalu bagus kalau ditanggepin. Status sosial, isi kantong, kecantikan atau ketampanan pacar, benar benar hal yang maya untuk diributkan di sini.
Entahlah apa masih ada orang yang bicara tentang moral. Bukan sekedar gw punya pacar siapa, gw temennya siapa, atau gw kuliah dimana. Nampaknya arti arti kehidupan menjadi semakin dangkal dan instan, sehingga semuanya terlihat menjijikan dan menggelikan. Bagi mereka yang mengerti, pasti mereka bakal menjerit dan ingin melarikan dari hidup ini.
Tapi janganlah, semangat! Karena gw percaya bahwa suatu hari bakal ada perbaikan perbaikan kecil terhadap nilai di dunia ini. Dan hari ini, gw si biasa biasa saja, berjanji akan melewati batas kemampuan gw sendiri. Bukan menepati ekspektasi orang lain, tapi melewati batas batas kemampuan gw untuk menjadi lebih baik. Amin. Semangat ya kalian <3
No comments:
Post a Comment