baru baru ini majalah dan warta berita terus gw baca, segala perkembangan maju mundur tentang konfrensi iklim dunia gw ikuti. seorang rachmat witoelar memperjuangkan penurunan emisi seorang negara2 industri besar bersama sby dengan memberikan sesosok figur negara yang tidak terlalu besar namun mau berkomitmen untuk menurunkan emisi sampai 26 persen, hingga 41 persen jika ada bantuan internasional. masih wacana? kata bung rachmat memang suatu keputusan masuk akal yang agak radikal melihat kondisi masyarakat sekarang. namun memang tidak ada yang tidak mungkin, menurut rachmat hanya dengan mengubah tingkah laku itu saja bisa menurunkan 9 persen emisi. luar biasa? memang jauh dari perkiraan gw sendiri, indonesia lumayan juga.
bagaimana di negara lain? selain indonesia yang ambisius untuk menurunkan emisinya dengan gagah, meski masih sekedar di warta berita, dan pembuktian belum ada, ternyata masih ada negara lain yang mulai menunjukkan "payung" untuk perlindungan bumi ini. siapa dia? tidak lain tidak bukan adalah jepang, negara yang sempat ditegur karena emisi buangannya yang ga karuan, kini menyusun langkahnya untuk menjadi lebih hijau.
di amerika serikat respon terhadap isu perubahan iklim justru ditentang dan dibolak balikkan fakta sehingga justru negara2 seperti brazil diharuskan untuk menurunkan emisinya. terdengar lucu memang, negara yang memegang peranan politik yang kuat di kopenhagen justru terlihat pesimistis dan mulai menyalahkan pihak lain. lain dengan eropa yang sudah memutuskan untuk menurunkan 20 persen sampai tahun 2020. semua negara terdengar menggebu gebu bagaikan orang yang pengen naik bungee jumping tapi pas mau lompat sendiri nyalinya akan ciut. namun siapa negara yang sebenarnya sudah melaksanakan penurunan emisi?
salah satu kota di bagian teluk jepang telah memberikan contoh yang sangat perlu dicontoh oleh kota kota lain. kitakyushu, dari kawasan polutif yang parah, kadang menyebabkan langit berwarna keabuan dan atap rumah selalu berdebu ini telah melakukan metamorfosis menjadi kota industri paling bersih di jepang. walau ironis sekali gerakan ini dimulai dari ibu ibu yang protes karena jemuran yang tidak bisa bersih dan anak yang mulai penyakitan karena asap berton ton dibuang ke atas dan kadang sisa buangan menjadi debu saat asap dengan massa berat turun ke permukaan kota.
apa yang menarik dari cerita ini? keseriusan pihak pemerintah maupun swasta (zaman sekarang swasta mana ada yang mau bantu hal seperti ini) bersatu mengumpulkan 1,8 milyar yen dan tidak tanggung tanggung 804,3 miliar yen atau 80,4 triliun dalam rupiah digunakan untuk menangani limbah dan polusi. setelah 10 tahun mata air yang penuh lumpur limbah kini sudah bisa menjadi mata air untuk minum, dan debu debu telah turun drastis dibandingkan tahun tahun yang lalu.
tidak sampai di situ, jepang masih punya target untuk menurunkan sekitar 150 persen untuk seluruh negara asia di tahun 2050, gila? tidak, ini adalah bentuk optimistis yang tepat untuk dilakukan, penuh dengan praktek signifikan tanpa henti. dari 13 juta jiwa di kitakyushu, mobil yang beroperasi hanya 2 juta, dan sisanya menggunakan kereta dan sepeda. gw gak henti henti berdecak kagum sama negara yang sempat menjajah kita ini. ketika yel yel go green digunakan bukan sekedar untuk politik, perubahan bukanlah hal yang tidak mungkin.
mari kita lihat indonesia, lumpur lapindo yang dinyatakan sebagai bencana alam, padahal konon beberapa perusahaan drilling menawarkan jasa untuk menutup tekanan lumpur yang meluap tapi karena takut kasus berubah menjadi kasus pidana dan bukan lagi bencana alam yang melibatkan orang orang besar di pemerintah. lagi lagi, ambil diam.
sekarang ke jakarta, kota dengan penduduk 8 jutaan, ditambah jabotabek sekitar 23 jutaan. masih berkelut di bidang tata ruang. dengan transportasi ruwet penuh dengan motor motor tidak memiliki etika, kendaraan umum yang masih setengah setengah. seharusnya subsidi bbm dihentikan, dan dialihkan ke transportasi, sehingga transportasi umum murah, tidak ada penggunaan mobil pribadi sewenang wenang dan jumlah motor yang terus membengkak.
mendengar perkataan sby di atas, kita menjadi ragu. karena tidak ada bentuk gerakannya yang persuatif kepada rakyat terhadap bumi ini. tidak ada semangat yang menggebu di gerakan politiknya. dan jika dibandingkan pengeluaran triliunan indonesia dan jepang, pengeluaran kita hanya digunakan untuk pihak pihak elit, hanya kepentingan pribadi, dan uang triliunan dibawa kabur keluar negri. malunya, hal ini bukan yang pertama. melainkan pengalaman pahit yang berulang.
bagaimana sekarang? ada saran? haha
No comments:
Post a Comment