Sunday, August 26, 2012

Memerdekakan Hati

Sambil mengemut kentang goreng restoran cepat saji, saya terbengong bengong, kenapa saos sambal di restoran ini enak sekali. Saya terduduk mengunyah di salah satu kursi, dan sekitar empat belas kursi di depan saya kosong, sama halnya di samping saya, kursi sofa hanya ditempati pasangan muda, pria berjaket dan wanita berkacamata besar ala zaman sekarang. Mereka mengamati kesendirian saya, mungkin mereka berdua membicarakan saya dan berkata.

"Mas, lihat deh tuh bocah, kurus banget, kentangnya diemut doang lagi. Pasti bentar lagi meninggal deh." Kata si wanita di imajinasi saya.

"Hus, kamu ah, jangan ngomong gitu, dia pasti abis diusir dari kost-kostannya deh, ya kasian ya, untung aku pas muda ga segitunya." Si pria sambil mengunyah tusuk gigi, sekali lagi, di imajinasi saya.

Memang rada sinis dan tidak membahagiakan siapapun sih, malah saya yang merugikan diri saya sendiri jikalau terjerembab dalam pikiran menggelikan itu. Lalu, sambil menenggak teh rasa lemon dengan es yang terlalu dingin saya memperhatikan manusia yang berlalu lalang, sambil berkata dalam hati, banyak ya. Lalu saya melanjutkan mengemut kentang dengan saos sambal legendaris.

Jadi begini.

Ganti topik ya? Apa kalian pembaca masih ingin membahas kentang goreng?

Sudah dua tahun ini, saya dijejelin dengan ide untuk menjadi pria yang sukses, berduit, punya perusahaan, dan segala bla bla lainnya. Kini saya sudah temukan jawaban atas segalanya.

Ketika saya menghadiri ibadah rutin solat Jumat. Waktu itu saya terlambat datang, saya hanya sampai di tengah-tengah ceramah dan mendengar kalimat itu.

"Setelah sebulan puasa, kita kini merdeka, mampu mengendalikan segala emosi dan hawa nafsu kita, dan menuntunnya untuk beribadah kepada Tuhan semata." Kata pak haji dari kejauhan, dan saya pun terharu.

Semuanya tidak akan ada artinya, apabila, hatimu tidak dipenuhi ketenangan. Mulailah dari hati dulu, bukan menjadi rakus dan kaya baru mencari pencerahan, sudah berapa makhluk yang akan ada sakiti saat sampai di tahap itu.

Saya sih tidak suka mendikte orang. Saya berpikir semua pekerjaan itu baik, kalau semua supir taksi berpikir untuk menjadi kaya dan menjadi wirausahawan, maka di jalanan tidak akan ada taksi yang tersisa. Dan juga tukang sayur, penjaga warung kopi, cleaning service, dan satpam. Tidak pernah ada pekerjaan yang rendah, asal tidak di luar peraturan, semua pekerjaan itu akan menjadi indah apabila hati ini dituntun oleh keikhlasan.

Hati-hati bagi anak yang dididik untuk ambisius seperti itu. Nikmat dari Tuhan itu bisa menjadi air asin di laut yang tidak menghapus dahaga apabila tidak dibagi dan tidak digunakan sebaik baiknya. Hidup itu lebih baik penuh berkah ketimbang penuh nikmat. Semoga saya bisa menuju hidup yang seperti itu, lebih spiritual.

Karena jika hati dan pikiran ini sudah bisa dikendalikan, maka penderitaan akan hilang.

Mau pekerjaannya satpam, nelayan, pengusaha, petinju, dan pekerjaan pekerjaan bombastis lainnya, mereka akan ikhlas. Hidupnya akan lapang.

Ya, jangan rakus rakus dong manusia. Kekayaan alam kita menipis nih, nanti kalau semua binatang dan tumbuhan punah baru sadar kalau tumis kartu kredit rasanya gak enak loh.

1 comment:

Anonymous said...

waiting for your first book :)