Tuesday, August 21, 2012

Waktu Semu

Selamat datang. Anda peserta ke 6,943,003,801 dari sekitar 7,000,000,000 yang sedang berada di dalam permainan ini. Silahkan menikmati, ini merupakan sesi percobaan dari hidup, tolong jangan menyentuh properti. Anda akan ditemani seorang malaikat yang pandai bergaul. Setelah sesi percobaan berakhir, anda boleh memilih untuk lahir di dunia ini atau menetap di sini.

"Karena makhluk yang baik, tidak persuasif."

Terlihat pria dengan tinggi tubuh standar 170 centimeter, terlihat tidak merepotkan bumi. Ia sedang membaca 'kumpulan kata mutiara' di halaman ke 78, ia sedang membaca kutipan kalimat dari seseorang yang ia tidak pernah dengar namanya, anonim. Tempat penjualan buku bekas merupakan tempat yang ia kunjungi setiap liburan kuliahnya mulai terasa membosankan. Tumpukan kertas yang dijilid, dijahit, debu, dan kutu yang berada di dalamnya, konon tempat ini merupakan pusatnya jendela dunia. Tapi mungkin itu hanya legenda, orang beralih ke yang gemerlap ketimbang kumpulan huruf.

Kemudian, tidak jauh dari sana, sekitar 2000 kilometer saja. Seorang wanita mungil berkulit putih, kacamata kecil melingkar ala nenek-nenek sedang bersandar di kursi bus kota yang kian berkarat. Di kupingnya diputar lagu lagu tahun 80an, di mana lagu masih memiliki intro, dan menaikkan satu nada lebih tinggi setelah bridge merupakan ide brilian, walau terlalu banyak digunakan di artis di kala itu, repetitif. Jari jemarinya yang kecil ia angkat untuk menghalangi teriknya matahari, tidak banyak yang ia harapkan di dunia ini, baginya sekedar hidup merupakan suatu prestasi tersendiri.

"Capek, mau pulang, kenapa mesti hidup sih." Seorang wanita transgender, sempat menjadi pria, menggumam di kamar apartemen miliknya sendiri. Entah referensi pulang yang ia maksud itu di mana. Menurut informasi malaikat di sekitar, yang ia maksud pulang adalah rasa damai yang lama dinantikan.

Wanita parsial ini tersenyum melihat wajahnya di cermin. Lalu menangis, lalu berhenti, menangis, lagi. Keterlanjuran. Nampaknya kompleksitas yang terlanjur lahir di pikirannya, kesinisan yang mengakar, dan minimnya kebahagiaan yang ia berhasil renggut dari begitu banyak momen di hidupnya.

"Sampai di adegan terakhir, ini adegan yang sudah dibuat jika kamu memutuskan untuk lahir. Hari Minggu, pukul 11 malam sampai Senin 2 pagi."

Di kegelapan, terdapat cahaya dan suara jentikkan jari. Tampak pria menggeleng-gelengkan kepalanya dengan lantunan musik yang diperdengarkan. Pria ini sedang mengarang cerita untuk anak taman kanak kanak di mana ia bekerja.

"Bukan di kedalaman laut, tapi di ujung dunia, di suatu pantai terdapat paus biru yang memakai topi, dan juga jas hitam. Ia senang dengan kostum yang ia kenakan. Pada sore hari, paus biru harus berkunjung ke rumah temannya si landak, landaknya tidak spesial, ciri khasnya ia selalu telanjang dan memiliki kumis persegi di atas mulutnya...."

Ia terlihat begitu asik dengan tulisan dan imajinasinya, beberapa detik kemudian pria itu tertidur di atas meja di mana ia bekerja.

"Bagaimana, saya sebagai malaikat tidak terlalu mengerti profesi apa yang akan anda dapatkan di masa depan itu, tapi bagaimana? Masih pingin dilahirkan?" Terlihat malaikat sedang mengisi form, dan mengambil beberapa materai.

Aku mengangguk.

"Oke, tolong tanda tangan di sini. Nanti kalau udah ada di dunia, bakalan ada beberapa peraturan tambahan. Gak terlalu penting kok. Asal gak dilanggar ga bakal masuk itu, apa namanya, neraka. Kita malaikat aja ga pernah ada kok yang masuk neraka."

Aku mengangguk, lagi.

Kini aku masih berada di depan layar mengetik hal-hal yang tidak revolusioner, hal yang tidak informatif, dan tidak persuasif. Mungkin begitu, dulu.

1 comment:

zahrathira said...

Suka bgt sama gaya bhs nya, pemilihan kata + isi ceritanya.
Kok lo keren bgt sihh ran?