banyak banget orang seumuran gw hidupnya udah gak karuan, bukan karena kehidupan ekonominya yang susah tapi karena pilihan hidupnya yang kayak gitu. dengan alasan gw mau jadi diri sendiri, be myself gak usah dengerin kata orang lain. ada yang salah gak sih? jadi diri sendiri?
pertama, apa yang membuat diri yakin untuk menutup segala kemungkinan yang benar di sekitar? kalo gw emang sukanya bangun siang, gw bakal bangun siang terus dengan alasan be yourself dong jangan kebawa lingkungan. umur sgini emang kayaknya belom pas untuk menyatakan diri sebagai pihak yang sudah mengalami penyempurnaan diri dan menutup segala kebenaran di sekitar dan menjadikan diri sendiri sebagai subyek pelaku yang paling benar. apalagi pas remaja, kalo mau jadi diri sendiri umur sgini jangan menutup segala kemungkinan untuk jadi yang lebih baik.
orisinil sih bagus, tapi kalo emas cuman jadi sekedar bongkahan emas, gak diubah menjadi bentuk lebih baik buat apa juga? jadi umur sgini jangan menggunakan kata2 be yourself sebagai pembelaan perlakuan buruk ke diri sendiri dan orang lain, kalo mau gunain sebagai hasil penciptaan hal2 yang lo buat sih gapapa.
ya nikmati saja lah hidup, kesenangan memang relatif, tapi relatif juga ada batasannya toh, bahkan di pelajaran matematika juga ada. talk to you later bai bai
4 comments:
With all due respect, relatif ada batasannya? Relativity does have a range, but i don't think it's limitless. Tergantung orangnya aja. And it's kind of funny that you compare relativity with maths, karena matematika kan ilmu pasti, sedangkan relativitas (yg terkait dengan cara pikir dan cara pandang manusia) itu lebih uncertain, unstructured.
Terus yang "be myself", Gw kira nggak berarti orang-orang yg milih untuk be themselves otomatis melabel diri mereka sempurna, they just simply feel comfortable for anything they do, without having the need to mind other people's judgmental thoughts. Justru karena gw far from perfect, gw bilang "I'm just being myself". In a way it is a symbol of humility.
I have no mean to trash, I'm just asking for more of ur interesting opinions :)
wah senangnya ada yang menanggapi, makasih ya hihihi.
seumuran gw masih 16 taun belajar matematiknya emang baru dikit, gw belajar yang namanya range, jarak, dan probabilitas, yang gw singgung adalah kemungkinan. dan kemungkinan itu bisa kita 'anggap' terbatas ataupun tidak terbatas. kedua anggapan itu menghasilkan penjelasan yang kita butuhkan. kalo kita terus menganggap cara pandang manusia cenderung bebas dan tidak boleh dikotak2an sama sekali. maka ya kita ga butuh agama, karena semua kan relatif. kita boleh berbuat jahat, kan semua relatif. kita boleh dong merkosa cwek sembarangan, siapa tau dia jodoh kita. persepsi salah itu takutnya dijadikan pembelaan hal2 yang tidak manusiawi. makanya ada batasan tersendiri, bahkan di cara pikir. ya tapi kalau untuk soal cinta, perasaan itu lain halnya. itu bebas dan jauh lebih rumit.
mm yang be myself itu sebenernya totally fine, gw juga menikmati jadi diri gw berpendapat berkreasi sesuka hati. tapi perkataan itu gak bisa dipake seenaknya oleh orang yang belom mengerti kata2 itu. gak sekolah, nyusahin bokap, ngabisin duit bokap terus pas dinasehatin untuk jadi lebih baik they simply say i'm being myself asshole. pola hidupnya ngaco, taking drugs, diganggu dikit marah, nolong orang ga pernah, nyakitin orang sering, ya hal2 yang kayak gitu yang mendorong gw nulis gini. they can't be theirself, mereka harus berubah gituh~
maaf kalo jawabannya ga asyik dan gak menarik, tapi gw sangat berterimakasih loh atas masukannya hihihi. you're such a deep thinker
@adilla: you just did not, hey!!!!!!!! hahaha, its weird writing this while im otp with you *blabbering
@rana:
oh well this converstaion has grown so interesting.
with all due respect, no offense att all,
kalo menurut gue,relatifitas itu emang nggak ada batesnya, semua orang punya hak kan? tapi relatifitas itu dijaga sama hukum dan agama. gue nggak tau ran, lo ngomong kayak gitu reffering ke siapa, tapi kalau gue pribadi. gue nggak mau ngejudge apa oitu salah apa itu bener, kan udah ada hukum sama agama? hehe.
what I have been trying to convince people itu, that is, whatever the goal, the achievment, the result of action or anything else, let them only be our knowledge of standarts of living. do not judge. tapi yang sebenernya bikin kita lebih baik, is the stories behind all those things. dont you find it interesting to hear diff stories in everything? maksud gue, ketika lo mau tau cerita dibalik semua itu, lo harus benar benar objektif sama pembicaranya kan? sadarin bahwa whatever they did, they did it for a reason. alesan-alesan itu mau salah atau bener, will take them somewhere, either itu penjara atau apalah. either they would realize that it is wrong or right. gue mungkin bukan a good-doer, banyak hal yang mungkin nggak common. relatifitas menurut gue itu ketika kita menyimak, melihat, dan menilai. when we become the doers, we do it good, sesuai ajaran agama, didikan orangtua, dan hukum masyarakat. hehehe
and, when you said you wre being urself means, you are in the process of changing into something better everyday, you have to. the thing i was saying was, ketika lo masih dalam proses, yang lo emang punya keinginan untuk berubah, tapi belum sampai hasil, orang berhak ngehargain pilihan-pilihan kita.
sorry for blabbering and interrupting, maybe Im just sixteen, what do i know, right?
peace :)
Post a Comment