Apakah Tuhan menginginkan kita sekedar percaya karena kita lahir dengan agama seperti sekarang, menginginkan kita sekedar menerima segala yang diajarkan dalam agama? Gw pernah denger George Carlin seorang komedian yang menyatakan bahwa agama itu adalah omongkosong, ketiadaan Tuhan dalam kehidupan sebagai lelucon. Bahkan dia sempat mengatakan "bila Tuhan memang ada, gw akan mati sekarang juga". Dan dia gak mati, konyol. Tapi sekarang dia sudah meninggal. Tiada yang tahu bagaimana dia menjalani hidupnya.
Kita dilahirkan dari bermacam latar belakang. Kita dilahirkan secara suci dan bersih (meskipun ada yang hasil selingkuh atau kecelakaan). Maka akan menjadi suatu kebijaksanaan untuk kita untuk mencari definisi Tuhan, atau minimal bagi yang takut jadi atheis atau pindah agama untuk membuktikan kebenaran yang ada di antara kita.
Ke tahap yang lebih jauh, Tuhan menjadi "Tuhan" setelah kita diciptakan, atau sebelum diciptakan? Mungkin sering didengar konsistensi sesuatu ada setelah pengakuan dari sesuatu juga. Dipercaya karena ada yang mempercayai, ada karena ada yang menganggap ada. Sulit? Memang. Konsep Tuhan memang sulit, mari kita ke penerapan dalam kehidupan sehari hari.
Sebelum benar benar sesat, mari kita ingat kapan terakhir kita merasakan adanya Tuhan. Saat kita senang atau sedih? Adakah orang di dekat kita yang lebih dekat dengan Tuhan padahal mereka sendiri tidak melakukan ibadah yang seharusnya? Jawabnya mungkin ada, karena pengenalan kita terhadap Tuhan umumnya terjadi bukan saat kita beribadah, tapi saat kita menghadapi hidup, mengambil keputusan, dan hal sulit lainnya. Tuhan ada saat kita membutuhkannya. Orang yang selalu mengambil jalan yang sulit di kehidupannya akan selalu membutuhkan Tuhan. Tidak sedikit orang yang tidak memiliki agama mengakui memiliki Tuhan yang selalu ada untuk mereka, membuat mereka menjadi tenang, dan lebih bahagia secara kualitas dan kuantitas. Mereka akan lebih mengerti bagaimana cara menyembah yang benar, sesama, ke diri sendiri, ke "Tuhan" yang definisinya telah disempurnakan oleh mereka.
Maka disimpulkan dari atas, dan tidak dibahas terlalu dalam agar tidak terlalu sesat. Tuhan ada di setiap manusia. Mereka yang menemukan pernyataan ketiadaan Tuhan adalah mustahil. Hubungan lewat pikiran, hati, antar sesama, spiritual kadang jauh lebih penting daripada hubungan lewat ibadah. Bukan bermaksud menyalahi ajaran yang ada, tapi bila kita melakukan hubungan yang sifatnya horizontal atau sejajar dengan kita dengan baik dan tidak menjauhi agama lain namun mendekati kebenaran arti "Tuhan", maka ibadah akan menjadi semakin sempurna. Dan memungkinkan mencapai kenikmatan dunia dan akhirat. Sekian, semoga membantu.
Kepala gw juga udah pusing mikir buat beginian, gak semua yang lo baca bener. Itu gunanya otak buat ngolah kembali apa yang telah ada. Seperti arti dari pendidikan dan sekolah. Okay I'll post more soon. Gw lagi libur nih. Doain bisa nikmati liburan panjang ini hoho.
1 comment:
i i i iguanna... na na na itu ranna... cin cin cin elu cinna... suk suk suk pake susuk... wekekeke kesian amed ckck
Post a Comment