Wednesday, April 15, 2009

menutup mata

Aku duduk berhadapan dengan pria berkaos hitam garis merah, dengan tas selempang menggantung di bahunya. Sebelahku seorang karyawati muda, di depannya seorang murid sekolah. Sampai kemudian orang bergantian masuk dan berganti. Bergilir juga mereka pergi meninggalkan tempat ini. Dan pikiranku berlalu lalang dan menyatu dengan keramaian. Mengapa menunggu sendiri tanpa ada yang menemani terasa sepi? Namun mengapa kenal saja tidak, kita sering merasa nyaman menunggu duduk berdampingan dengan orang lain dan saling menyimpan diam? Seolah kita bicara tanpa kata.

Aku tipikal yang mudah mempermasalahkan sesuatu. Suatu anugerah yang menjadikan aku giat bertanya setiap ada penglihatan yang aku olah dengan mudah dan ku jadikan masalah. Lalu kemudian aku lelah untuk mencari jawaban, dan mereka menjadi pertanyaan yang tersia siakan.

Menunggu, hidup hanya menunggu. Walaupun kita seolah mengejar apa yang kita inginkan, setelah dipikir ternyata hanya suatu penantian panjang. Menunggu dengan sabar membutuhkan sesuatu yang ditunggu, kadang penuh dengan kepastian, kadang tidak. Melakukan sesuatu, adalah menunggu. Yang kuangkat adalah waktu, penantian melewati untuk sesuatu, bukan kata kerja menunggu itu sendiri. Entahlah aku mempersulit diri sendiri

1 comment:

Syarafina said...

hey, rana blog lo ngga bisa di-link yah? :(