Ayahku menanyakan keinginanku di jenjang pendidikan selanjutnya. Dan beberapa nasehat langsung turun dari mulutnya di pagi yang sudah menjelang siang itu. Setelah kegiatan sehari hari yang bisa dibilang sangat biasa aku teringat hari ini aku akan ikut keluargaku pergi ke makam leluhur dan karena aku juga masih memiliki darah cina yang mengalir di darahku. Sudah lama sejak 2 tahun yang lalu tidak ke sana.
Dengan kaos lengan panjang dan celana jeans yang seadanya aku masuk ke mobil dan tidur di kursi belakang. Perjalanan yang aku kira akan bermuara ke bogor ini ternyata salah, aku hanya pergi ke kebayoran lama. Memang si lelaki buta jalan adalah nama tengahku, tapi bukan masalah besar bagiku. Mengunjungi makam leluhur dari keluarga ibuku, dan sempat mencari dari beberapa batu makam yang tersusun dengan rapih akhirnya ditemukan juga. Makam yang saling bertolak arah, leluhur lelaki dan perempuan. Aku bertanya ke batu nisan, rumput makam, dan diriku sendiri. Bagaimana rasanya beberapa kaki di bawah sana? Luas kah?
Setelah mengunjungi pria dan wanita yang telah meninggal tersebut, sekeluarga beranjak pergi dan mengunjungi rumah saudara di daerah tebet. Setelah mengunyah tahu goreng yang dibeli kakakku, aku kembali bersandar di kursi belakang dan melihat ke jendela tanpa berpikir untuk beberapa detik. Tidak terasa waktu kian berganti dan matahari sudah mengumpat dan menyimpan sinarnya untuk kemudian hari.
Kunjungan yang aku anggap biasa ini memang ternyata terjadi secara biasa saja, entahlah aku menulisnya dengan benar atau tidak. Tapi dengan rasa persaudaraan yang rendah, aku hanya menonton televisi dan meneguk minuman yang aku beli di supermarket saat kedua orangtuaku ingin membeli buah buahan sebagai buah tangan. Rasa kantuk tidak terhindari memang, dalam beberapa menit nyamuk sudah menggigit lengan dan jemariku. Ingin pulang dan segera tidur rasanya.
Setelah kunjungan keluarga semakin banyak, aku yang sedang menonton televisi itu dipanggil untuk berkunjung ke tetangga di daerah tebet itu. Aku hanya menuruti perintah, aku pun ke sana. Sesampainya di rumah kecil dan seadanya tersebut aku masuk ke dalamnya. Terlihat dari luar ada seekor anjing yang dipagar agar tidak mengganggu tamu. Memasuki rumah yang langsung ruang tamu, ruang keluarga, dan ruang belajar sekaligus. Dinding bercat putih dan lantai dari batu abu kecokelatan. Meski kecil tapi terasa luas, dan bersih di dalamnya.
Beberapa pertanyaan aku simpan di otakku dan memperhatikan sekelilingku lebih dalam. Keluarga pemilik rumah keluar satu persatu dan memberikan senyum yang tidak dibuat buat, mereka sangat senang dikunjungi. Entah mengapa aku merasa nyaman di sekeliling mereka, seperti keluarga sendiri dan aku tidak bisa berhenti membalas senyum mereka. Perasaan aneh pikirku, saat berpikir semakin dalam. Seorang nenek yang sudah tua memberiku kertas merah yang disebut juga angpao sambil tersenyum riang. Aku hanya bisa bersandar di kursi hijau yang sudah agak robek karena umur barang yang sudah lama. Suatu keluarga yang bahagia, tanpa materi yang mencukupi, tapi dari setiap mereka memenuhinya dengan senyum dan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata kata. Ternyata masih ada keluarga yang bahagia tanpa ketergantungan uang seperti itu, kesederhanaan yang menghasilkan kesempurnaan.
Di bawah lampu oranye dan di atas jalan setapak aku berjalan menuju ke rumah saudaraku, aku membuka kertas merah tersebut dan tersenyum lebar, mungkin kalian tahu maksudku. Standar kuantitas hidupku menjadi menurun melihat keluarga tadi, aku ingin menjadi seperti mereka. Keluarga keluarga temanku yang kaya raya tidak pernah sehangat itu menyambut kedatangan orang seperti kami. Tolak ukur yang aneh, bahkan kekurangan tidak bisa merenggut senyum mereka.
Beberapa menit lagi aku akan kembali tidur dan beberapa jam kemudian aku akan bangun. Terus berlanjut seperti itu, setiap hari aku mencari apa yang harus aku cari, suatu kebahagiaan yang berarti. Aku meminjam tubuh ini untuk mencari hal tersebut, semoga saja aku menemukannya. Sebelum aku mendapat kebahagiaan akhirat, mungkin suatu yang semu bisa berarti lebih banyak daripada yang abadi.
No comments:
Post a Comment