Monday, January 12, 2009

buram

Di siang hari senin ini, hujan turun seperti jarum lalu kemudian membesar seperti biji biji jagung yang jatuh dengan selang waktu, atau mungkin jatuh dengan waktu yang bersamaan. Atau mungkin hujan ini, entahlah sekarang ragaku begitu nyaman dengan ketidakpedulianku. Keinginanku untuk berpikir menyusut seiring udara yang menjadi dingin, aku mulai pecah dan mencair bersama waktu. Meskipun perasaan ini samar, rasa ini nyaman.

Setelah terlelap melakukan kegiatan, aku tertidur. Setelah bermimpi, di balik jendela terlihat tetesan hujan yang melekat. Warna, cahaya yang kabur dan terpecah oleh bintik air yang jumlahnya tidak ingin kuhitung. Kemudian berjalan keluar dari kendaraanku, memasuki rumah dan merebahkan badanku untuk sejenak.

Masa yang telah lalu, datang kembali menyeruak dan mengisi akalku yang begitu ringan ini. Buram yang sedang terlihat jelas biarlah menjadi warna walau bukan inginku meletakkannya di sana. Gambar yang tidak perlu diubah pikirku.

Sekarang, pertemuan tanpa takdir ini. Nampaknya begitu banyak yang melewati garis di mana aku berdiri. Dan begitu percayanya aku dengan masa yang sekarang, begitu menjanjikan. Walau akan selalu ada yang lebih baik, yang lebih tepat. Bisakah anda tetap tinggal? Dengan segala kekurangan yang sekarang. Dengan rasa takut untuk kehilangan dan tidak akan pernah ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan sampai kapan. Tapi bisakah anda menetap? Untuk tinggal lebih lama dari waktu yang seharusnya.

Sebelum semua pertanyaan ini terjawab, mataku sudah buram dan akhirnya tertutup rapat bersama pertanyaanku. Aku tertidur lebih lelap dari biasanya.

2 comments:

Anonymous said...

kata2nya bagus, ga cuma yg ini aja. kembangin dong ran... kirimin kmna gitu atau ikut kompetisi dll

Anonymous said...

love rana mmmmmmuuuuuuaaahh