Desember, identik dengan musim hujan kalau di negara kita, musim-musim liburan lah.
Kalau kata orang, "Semacam bulan yang membuat orang berpikir lebih dalam."
Lalu aku berada di sini, ya sambil menyapa benda yang bisa diketik-ketik ini, mungkin sesekali senyum gemas karena memikirkan hal-hal lucu namun kalian tidak akan mengerti, karena jenis lawakannya memiliki perspektif yang sulit direngkuh. Ya, akhir-akhir ini disibukkan dengan urusan duniawi, kerja sampai pagi, masuk pagi lagi, perut kosong, dompet juga gak jauh beda.
Dengan segala kerumitannya, hari berlalu dan berlalu. Seperti embun, hanya dalam kedipan mata sudah menguap dibawa oleh kesemuan kehidupan. Sementara aku masih menggumam kelelahan, memainkan alis dan jidat, mencoba berpikir lebih dalam, "Sudah sejauh mana aku pergi, aku ini mau kemana sih.". Menyadari keragu-raguanku dalam berjalan membuatku terus berhenti di setiap pijakan.
Sejenak sebut sejenak, waktu telah menyapu, rasaku tidak lagi ngomel sana sini, tiba-tiba seperti air yang telah mencapai keseimbangannya, tidak ada lagi buih-buih di permukaannya. Aku mulai menari-nari tanpa gagasan, menari tanpa rumusan, tiada beban, kataku.
Mungkin hidupku akhirnya telah mencapai taraf tidak masuk akal, hidupku benar-benar di luar kebiasaan, dan tersadar bahwa habitat asliku berada di sana. Nyaman, ketika dunia mulai berantakan. Kini aku mulai tenggelam dalam perjalananku, mencoba mengurangi risau-risau yang menguap kala hati termenung.
Lagipula, perjalanan yang lebih menyenangkan untuk diceritakan, bukan pencapaian.
Dan Desember memeluk, hatiku yang kemelut. Oh sungguh tinggal beberapa hari hingga semester ini berakhir, namun tiada yang perlu dikhawatiri lagi, aku membangun duniaku sendiri, kalaupun tidak, perjalanan ini akan ku selami, hingga dalamnya lautan.
Ya, maaf jika kalimatnya semakin sulit dimengerti, ini agar kalian memperbanyak kosa kata elegan untuk mengeluh di kehidupan, karena kalau ingin mengurangi dosa karena tidak bersyukur, ucapkanlah dengan kata-kata yang manis dan ambigu, niscaya akan terdengar lebih baik. Aku sebagai aku, mengundurkan diri, semoga kalian bisa menemukan diri kalian sendiri ketika bicara di dalam hati, bukan orang lain.
Selamat terbang, selamat melanjutkan perjalanan.
No comments:
Post a Comment