"Kamu masih muda, mimpi yang tinggi, kejar dunia."
Katanya sih begitu.
Tapi entah kenapa, semakin ke sini, semakin saya menyadari bahwa impian-impian yang anak muda sedang kejar hanyalah produk pencitraan dari sistem dunia yang sudah berlaku di mana-mana, ya kapitalis (mari sedikit dogmatis malam ini).
"Nanti saya sih mau kerja di sini, terus ambil kuliah di situ, lalu nyoba bikin usaha sendiri, terus jadi pemiliknya, terus bisa keliling dunia, bisa punya rumah di sini, di situ...." Ya seorang anak, pinggir bibirnya terlihat berbusa karena terus membicarakan mimpinya yang kurang substansial.
Baru-baru ini juga sih saya membaca-baca artikel di internet, jujur agak jijik sendiri sih nyari keywordnya, bahagia, cih.... Oke, lalu saya menemukan ini: merasa cukup dan menerima apa yang diberikan oleh dunia (qana'ah) akan memberikan seseorang kebahagiaan dan menghapuskan rasa khawatir. Ambisi hanya akan menelan kebahagiaan, dan menelurkan kebingungan-kebingungan baru. Bukannya saya menentang ekonomi liberal dan ilmu pengetahuan yang maju. Tapi akhir-akhir ini kita seperti, kehilangan makna.
Orang berlomba-lomba untuk punya perusahaan sendiri, punya rumah di sini situ, investasi sana sini, toh kebutuhan mereka secara biologis hanya makan, minum, dan tempat tinggal.
Kalau mau berbuat sesuatu yang besar, melakukan sesuatu penuh semangat, pingin jadi ambisius sama cita-cita yang udah dibuat. Pastiin dulu niatnya, misalnya mau jadi pengusaha, ya niatnya untuk membantu orang lain, meningkatkan taraf hidup orang di sekitar. Karena kita akan bahagia ketika niat yang bisa diukur itu tercapai. Sedangkan kalau dari awal niatnya untuk menjadi orang kaya nomor 1 di negara, ya seperti minum air garam, semakin haus semakin diminum.
Maaf agak menggelikan malam ini.
Tapi jujur, saya agak prihatin dengan dogma-dogma yang tersembunyi dari televisi, periklanan, dan internet. Bahwa mapan harus punya satu rumah di komplek ternama, mobil satu, dua anak, dan istri yang ciamik, dan jangan lupa, investasi seperti tanah, emas, dan lain lain, dan aset jangan lupa.
Lalu mereka membalas.
"Loh, jangan naif deh, kita udah gak bisa mikir kayak gitu, dunia udah berubah."
Padahal, kita tahu siapa yang membentuk suatu sistem di suatu lingkup sosial, ya kita sendiri, kita yang menciptakan dunia yang sekarang. Kita yang memilih, hidup penuh kompetisi saling sikut membabi buta, atau kita bisa menyebarkan pola hidup sederhana namun tetap memiliki integritas.
Ayo anak muda, niatnya yang bagus, jangan ikut-ikutan, jadi naif gapapa, karena orang-orang seperti kita lah yang membentuk dunia, bukan sekedar ikut-ikut kan kita.
Sudahlah, maaf menggelikan.
1 comment:
setuju banget. pendapat saya juga seperti ini (ini bukan ikut2an). btw ini tidak menggelikan hehe.
Post a Comment