Saturday, November 10, 2012

Sekedar Projeksi Egosentris Dariku

Kesendirian, kesibukan, memang menjadi salah satu sumber misinterpretasi dari seseorang terhadap orang lain. Ketika kita lelah, menyentuh momen 'hampir mati' setiap malamnya, orang yang menjulurkan lengannya, memberikan kata-kata yang ambigu, dan memberikan bantuan-bantuan kecil, pasti kita akan hanyut dalam projeksi kita, mengartikan kebaikan seseorang sebagai suatu perhatian, suatu yang melebihi dari suatu perhatian manusia ke manusia lainnya, dan lahirlah hari-hari itu, hari-hari dengan sudut pandang yang salah.

Hanya karena kita bertemu setiap hari, hanya karena kita tertawa setiap harinya, saling bersandar satu sama lain, aku bisa mengartikan hal-hal itu dengan sembarangan. Hanya karena senyumnya membuat diriku diabetes, tatapannya yang membuat aku runtuh dari dalam, dan hadirnya yang menyenangkan, bukan berarti aku boleh menyama ratakan keadaan ini akan dirasakan juga oleh pihak kedua. Projeksi, mungkin ini yang disebut salah satu kekurangan menjadi seseorang yang terlalu optimistis, melihat segala tanda sebagai suatu peluang, sebagai suatu pertanda bahwa akan ada masa depan.

Karena akhir-akhir ini aku merasakan dunia sudah kiamat, semua orang sudah seperti mati, dan hanya ada kau dan aku, di rutinitas, di kerumunan, di antara mayat-mayat yang berjalan. Dan aku berkontradiksi dengan kata-kata favoritku yang selalu kukeluarkan ketika orang lain sedang sedih terhadap sesuatu, 'jangan menggantungkan kebahagiaan terhadap orang lain'. Baiklah, lalu aku secara sebelah tangan menggantungkan senyumku padamu, ironis.

Sebenarnya masih banyak yang lain, namun karena dipertemukan dengan yang itu-itu saja, jadi hilang segala kemungkinan lain, seolah hanya itu, padahal tidak hanya. Ya bagi kalian yang sedang terjebak dengan orang yang salah, segeralah keluar dari hubungan kalian, kalian hanya sedang melihat orang itu dengan projeksi egosentris kalian, kalau kalian dengan orang yang tepat, kalian akan bahagia dengan mereka, bahagia dengan porsi secukupnya.

Bukan tertawa terbahak-bahak, mabuk di dalam asmara yang menenggelamkan, namun hanyalah sekedar rasa ringan ketika bersama, mampu bercerita segala baik buruknya kehidupan. Jangan menyerah ya dalam menjadi manusia baik, pasti nanti akan ada pasangan yang baik pula, dijanjikan Tuhan kok itu, amin.

No comments: