Saturday, October 27, 2012

Selamat Tinggal Distraksi

Di kursi belakang mobil bertenaga diesel, bersama kardus dan barang bawaan keluargaku, aku menatap jauh dari jendela belakang, termenung, bagai iguana, bedanya, aku bukan iguana.

Seperti kebanyakan pria berumur 19 tahun lainnya, peralihan dari kepala satu menjadi kepala dua kadang bermasalah. Istilah kepala yang menjadi banyak, berarti semakin banyak yang harus dipikirkan. Sebagai lelaki sejati, kita dituntut untuk menjadi dinamis, terus berubah, beradaptasi, semakin kuat semakin bisa diandalkan. Padahal kita sebagai pria, hanya ingin mengenakan kaos yang sudah terlalu sering dipakai, celana pendek dengan robekan-robekan kecil, lalu akhirnya bercengkrama dengan kekasih tercinta, kasur.

Melamun, konon di umurku melamun itu menjadi penyakit. Dan sumber masalah justru hadir dari waktu luang.

Sambil melihat rintik-rintik hujan berbicara dengan bumi, mereka terlihat seperti sedang bergunjing, "eh tau gak sih, ada loh manusia yang umur dua puluh tahun kalau mandi masih ditemenin.".

Aku yang telah mempelajari bahasa digital, mengetahui segala hal di dunia ini bisa diterjemahkan dengan satu atau nol, benar atau salah. Mempercayai bahwa sebenarnya langit bisa berbicara dengan bumi, ya salah satu caranya dengan hujan, jika ingin mengirim file yang lebih besar, mereka menggunakan petir. Lagi-lagi, aku menggumam.

Kembali melamun, sambil mengurus penerbangan bulan Februari nanti ke benua Eropa. Kali ini melamunnya harus lebih fokus, entahlah melamun yang fokus seperti apa.

Jika diibaratkan suatu keadaan, keadaanku sekarang agak aneh, kira kira begini.

Aku adalah supir taksi, yang kebetulan tidak ada penumpangnya. Menyetir sana sini membuang buang bensin sambil mencari penumpang. Di lampu merah, aku menemui wanita dengan lamborghini warna kuning dengan segala kerumitannya. Tiba tiba wanita itu membuka kaca;

"Mas, kalau mau ke kebun raya bogor ke mana ya?" Celoteh wanita itu sambil melihat jam tangannya, dan sambil menyadari bahwa taksi dan diriku sedang berada di daerah senayan. Wanita ini gila, pikirku.

"Oh, jauh mbak." Aku menutup kaca karena ketakutan.

Namun entah kenapa setiap lampu merah wanita ini terus bertanya pertanyaan yang sama. Hingga suatu saat aku berpikir untuk berkencan bersamanya ke kebun raya bogor, padahal jelas jelas bukan itu tujuanku sekarang. Dan wanita itu mulai terlihat risih karena wajahku mulai terlihat seperti supir taksi yang haus belaian istrinya.

Dan kembali lagi.

Ya, kembali aku di kursi belakang, termenung bagai bocah yang kurang asupan gizi. Kadang senyum senyum sendiri, kadang cemberut seperti bocah yang ditawarin es kacang ijo. Aku sadar bahwa sedang banyak distraksi akhir akhir ini, kalau aku terlalu menikmati indahnya dunia, aku tidak kunjung dewasa, dunia menanti kehadiranku, entah sebagai supir taksi atau presiden taksi. Apapun opsinya, aku harus fokus dengan apa yang ada di depanku, seperti post sebelumnya, tidak baik menggunakan teropong ketika sedang berjalan.

Maaf sedang ngelantur, semoga tidak nular.

No comments: