Saturday, November 17, 2012

Semi Permanen

Jika hal itu terjadi, maka aku tidak akan mati, jika hal itu tidak terjadi, maka aku tidak akan jadi lebih hidup. Bersama jendela yang berdebu, hujan yang tidak berhasil menghapusnya, seperti segala yang pernah diciptakan sebelumnya, hanya sementara, jika bertahan lama, ia hanya semi permanen, tidak mungkin menyentuh derajat yang lebih.

Sambil menghirup udara-udara, sambil menyusun puing-puing yakin, sambil menyalakan televisi tanpa mendengarkan suaranya.

Sekitar delapan tahun yang lalu. Pikiranku masih muda, berpendapat bahwa kesuksesan, romantisme, dan kenyamanan adalah produk kapitalisme yang menjadi ilusi bagi mereka yang disentuhnya. Kini di umurku yang sudah tiga puluh empat, aku masih bermain ayunan sambil memakan roti meses yang kubuat sendiri, dengan kemeja yang tidak dimasukkan, celana bahan warna krem, aku berpikir, aku terlalu modis untuk berada di tempat bermain anak anak.

Di masa lalu aku meramalkan akan terjadi perang, namun dunia menjadi terlalu damai, beberapa orang menjadi terlalu mapan, dan entah kenapa beberapa orang mulai kehilangan antusiasmenya, penjualan rokok menurun, angka kriminal turun, angka kematian meningkat tajam, banyak orang meninggal dengan tenang dalam tidurnya. Aku tersisa di sini, lahir ketika dunia kehilangan keinginannya untuk melakukan rotasi dan revolusi, langit terus mendung.

"Om, main." Seorang anak perempuan kecil dengan jemarinya menunjuk pipiku, wajahku yang tadinya penuh kerutan, menjadi semakin berkerut. Aku memasang wajah bertanya.

"Yuk, apa, apa... pernah main petak umpet gak?" Sambil menutup kotak makanku dan menghabiskan teh hangat dari termosku.

"Om yang jaga ya. Om itung sampe lima puluh, kamu sembunyi ya."

Dan anak kecil itu berlari menuju tempat sembunyinya, aku mulai menghitung. Aku menyadari waktu istirahatku tinggal lima belas menit lagi, aku mulai berjalan pelan, sambil membawa tasku. Mengunjungi tempat di bawah perosotan, mengunjungi semak-semak di tempat ini. Konyol, hampir tiada orang di sini, seharusnya tidak ada anak kecil dibolehkan bermain di tempat ini sendirian, aku meragukan ibunya seorang yang bertanggung jawab.

"Oh, ibunya datang." Aku berbicara pada diriku sendiri sambil melihat wanita dari kejauhan.

Sambil mulai memasukkan kemejaku ke dalam celana, aku menyadari rok merah jambu yang terlihat di semak beserta kaki mungilnya. Dengan santai aku menyentuh pinggulnya dengan sepatuku.

"Udah, udah, ibu kamu dateng tuh, kamu udah kalah." Dengan nada ringan aku menyapanya.

Anak kecil itu malah tersungkur ketika kusenggol, mungkin tadinya ia jongkok. Ya, di luar dugaanku, anak itu menangis seperti sirene mobil ambulan.

Wanita yang berada dari kejauhan tadi berlari menghampiri, dengan celemek, rok panjang, kemeja lengan panjang. Dugaanku, wanita ini adalah ibu-ibu yang masih ingin terlihat modis di dalam rumahnya. Sayangnya, setelah penilaian sembarangan dariku, wanita ini menjelaskan bahwa anak perempuan itu adalah murid dari taman kanak-kanaknya. Dan anak itu sudah pergi sekitar lima ratus meter dari tempat ia seharusnya bermain.

Sambil mengerinyitkan dahiku, aku mulai mengingat sesuatu. Perlahan aku meninggalkan tempat itu, sambil tersenyum pahit, sambil mengantongi tanganku yang menjadi dingin. Ya, sekedar produk kapitalisme, kataku.

No comments: