Wednesday, December 26, 2012

Berjalan Secara Paralel

Dulu.

Cita cita gw, jadi power ranger, warna merah. Namun seiring waktu, cita-cita gw berubah dari presiden, pengacara, psikolog, tukang sayur, musisi, dokter, dan akhirnya gw memutuskan untuk menjadi ya engineer, sekarang masih tahap kuliah sih, satu tahun setengah lagi kelar.

Namun. Akhirnya gw mulai memaparkan satu-satu. Gw dulu berpikir bahwa untuk menyelamatkan manusia dari monster-monster jahat, kita butuh posisi yang meyakinkan, kekuatan yang tiada tara, suatu posisi di mana kebijakan apapun berada di tangan gw sendiri. Kala itu, gw terus berpikir, harus terjun, gw harus terjun ke dunia politik untuk bisa bikin kebijakan-kebijakan radikal yang mampu merubah dunia.

Lalu, seiring gw tumbuh. Gw sadar bahwa kebijakan ekstrem seperti menghilangkan subsidi ini itu, menggratiskan ini itu, tidak akan bisa diaplikasikan, semua harus pelan-pelan. Ga mungkin kita naikin harga bahan bakar minyak tanpa menaikkan sumber daya manusianya, maka gw mengganti cita-cita gw untuk menjadi pengusaha, agar mampu memberikan gaji yang layak ke orang sekitar.

Sayangnya, jarak satu tahun dari cita-cita itu, gw menemukan fakta bahwa banyak orang yang digaji cukup, 3 juta ke atas, kadang tidak tahu bagaimana cara menghabiskan gajinya, kadang malah terjebak dalam dunia konsumerisme, beli motor, beli ponsel, beli gadget yang sebenarnya tidak perlu-perlu banget, dan bener-bener ngotot untuk tampil mapan di depan teman-temannya. Dan yang akan gw hasilkan ya berarti, jika gw bisa menggaji mereka dengan benar, misal karyawan gw 30, maka akan ada 30 motor baru di jalanan. Tolak ukur mereka harus motor, motor, dan jalanan bakal tambah ramai.

Oke, gw memutuskan, cukup. Gw harus bisa mengganti mindset orang. Sambil mendengarkan suatu ceramah yang berbunyi begini, "Jika seorang hamba memberikan harta ke hamba lainnya, niscaya uang itu habis dalam suatu waktu, namun jika hamba itu memberikan ilmu ke seorang hamba, niscaya ia mampu memperbaiki kualitas hidupnya.". Dan sejak hari itu sekali lagi, gw berganti mimpi, gw mau menjadi akademisi, bakal jadi dosen, atau guru, atau apa lah, agar bisa ngasih ilmu ke semua orang.

Mungkin, gw tidak cocok untuk memiliki cita-cita.

Dan sambil jalan beli daging ke supermarket, gw ngeliat anak-anak seumuran sekolah menengah pertama yang masih mengenakan seragamnya di dalam warnet, menghisap rokoknya, sambil minum teh botol. Dan ketika itu juga gw menyadari, tidak semua orang mau untuk mendapat ilmu, gw gak bisa memaksa orang untuk pergi ke sekolah tanpa bolos, butuh sesuatu yang fundamental, sesuatu yang melekat dengan jiwa seseorang. Sambil ngupil, sambil memasukkan tangan ke kantong celana, gw pulang.

Akhirnya gw sampai di rumah.

Tempat di mana pertama kali gw dididik. Ya, akhirnya, di rumah ternyata.... Banyak orang yang bergegas meminta perubahan-perubahan besar, minta perang berakhir, minta dunia menjadi damai, segala kebodohan punah, segala yang pintar memakan yang bodoh selesai. Ternyata penyelesaiannya hanyalah di rumah. Bagaimana kita mendidik, mengendalikan, apa yang bisa dikendalikan.

Bukannya terjun membunuh koruptor, atau membakar mobil-mobil pemerintah yang berada di gedung sana. Tapi dengan menjadi manusia yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, menjaga dirinya dari perbuatan keji, dan mencoba melakukan perubahan setidaknya dengan teman sekitarnya, dan pada akhirnya, pada keluarganya sendiri.

Gw akhirnya sampai di titik, terserah mau jadi apa.

Asal suatu karir tersebut sesuai dengan kapabilitas, mampu memberikan kontribusi yang signifikan, namun tidak mengurangi waktu luang untuk menghabiskan waktu bersama teman-teman dan keluarga. Karena mereka semua butuh bimbingan, kalau kita terlalu sibuk merubah dunia, anak kita malah kadang jadi bandel, terus besarnya malah jadi anak yang ga berguna.

Rubahlah, dari yang paling kecil, dari yang sekarang, dari diri sendiri, kata aa' gym sih begitu. Ya untuk merubah dunia, tidak bisa satu orang, butuh kalian, butuh teman kalian, dan semuanya. Kita akhiri semua kebodohan ini yuk, capek kan?

Dan satu lagi, hati-hati sama mimpi, kadang mimpi itu hanya produk kapitalis.

Di mana kita disuruh ngejar ini itu, untuk jadi orang terkaya atau apa, diberikan rekognisi oleh majalah ini itu. Padahal bertentangan dengan kalimat leluhur kita dulu, "orang yang paling baik adalah orang yang paling berguna bagi orang di sekitarnya.". Mungkin, mungkin belum terlambat untuk mengubah mindset anak muda yang agak sudah pergi jauh dari idealisme yang seharusnya.

Yuk, yuk, capek kan?

1 comment:

Anonymous said...

entah hadis atau apa "madrasah (sekolah) pertama bagi manusia ialah ibu (keluarga)"