Baru baru ini ada penemuan bahwa ayam ternyata ada terlebih dahulu daripada telur. Berarti ini sebuah penemuan besar, gak besar besar amat sih, ya segede sapi hamil lah ya ukurannya. Maksudnya begini, jika kita definisikan sebagai suatu urutan, harusnya:
Ayam = 1 (karena bentuknya sudah utuh)
Telur = 0 (karena dalam proses untuk menjadi ayam)
Secara matematis, harusnya telur dulu baru ayam, karena 0 lebih dulu daripada 1, tapi kenapa bisa begini? Kenapa?? Bahkan malin kundang saja terheran heran. Tapi gw memiliki analisa sendiri terhadap kasus ini. Mari kita berpikir sedikit dalam.
Urutan, berasal dari kata urut yang artinya pijat, contoh kalimat "mbok, tolong kakiku keseleo nih, diurut dong". KBBI
Nampaknya kita memiliki kesalahan fatal dalam perhitungan, lebih spesifiknya, urutan. Mari kita sebutkan angka angka secara berurutan 0,1,2,3,4.... Tidakkah kalian menemukan keganjilan? Angka 1 dan 3? Bukan itu mah emang angka ganjil saudara saudara.
Jika kita bandingkan dengan teori keberadaan telur dan ayam di atas, maka seharusnya kita memiliki angka 1 sebagai urutan paling pertama. Definisi 0 atau nihil berada di setelahnya.
1,0,1,2,0,1,3,0,1,4,0,1,5,0,1,6, dan seterusnya.
Penyesuaiannya bisa diotak atik sendiri, tapi menurut perspektif profesor Rana sih begitu. Karena nilai suatu benda yang sedang bertambah tidak bisa dihitung, sehingga harus menjadi 0 dulu, lalu kita melihat apa yang bertambah, hingga bertemu angka selanjutnya. Kompleks? Tidak juga. Karena urutan harusnya adalah pertambahan dinamis terhadap angka. Kita tidak pernah mengikutsertakan 0 di bilangan selanjutnya, padahal setelah 1, akan ada ketiadaan sementara, atau 0, baru angka 1 lagi, hingga jadi bilangan selanjutnya.
Loh kok ada 0? Kok 1nya berulang? Pertanyaan bagi orang yang tidak jenius seperti anda memang sering ditanyakan. Selama ini kita berpikir urutan adalah dari yang kecil hingga yang besar, dan semuanya berasal dari angka angka nyata, padahal urutan itu adalah gabungan dari angka kecil, ada, ketiadaan, dan angka selanjutnya, hingga ke angka yang lebih besar.
Matematika kita memang masih tertinggal jauh dengan matematika di venus sana. Kita masih menggunakan kalkulasi benda nyata. Padahal jelas jelas dunia ini biologis, bukan matematis belaka. Jadi pak guru bu guru? Maukah mengikuti urutan angka saya?
Jangan diambil hati bagi pembaca yang merasa tertantang otaknya untuk membenarkan thesis di atas, ini hanya opini. Laffyu forever, ciao.
No comments:
Post a Comment