Kenapa kata kenapa butuh penjelasan lebih banyak dari kata tanya lainnya? Diskriminasi kata tanya, cih.
Ya ini lah liburan gw, sepanjang hari di depan komputer, kadang sesekali keluar melihat matahari, atau berguling guling di kasur. Tapi kemarin hari minggu gw melakukan hal revolusioner di hidup gw, gw menanam cabe! Gw beli seednya di ranch market gitu, terus gw cari pot dan gw tanem deh. Biasanya dari dulu gw cuman nanem kacang ijo di tissue lembab, tapi gw paling suka sih nanem nanem gitu.
Nanti kalo udah tumbuh bakal gw foto, ingetin gw.
Gw jg baru memulai hal baru di tahun ini, yakni mencoba untuk nonton film perancis. Sudah agak lama gw penasaran dengan film yang terkenal dengan sinematografinya yang 'wah', dan gw memulainya dengan film Amelie. Bagusyh, walau ceritanya ga moving, tapi setiap scenenya diambil dengan bagus, storylinenya abstrak tapi realistis, mungkin bakal jadi hobi baru karena biasanya gw nonton film korea dulu.
---------
Selera manusia berubah ya ternyata, gw kira selera adalah suatu hal yang mutlak. Seperti waktu kecil hingga umur 15 tahun gw memutuskan untuk tidak makan sambel, karena ga enak, dan pedes. Tapi gw yang sekarang ga bisa makan ayam ga pake sambel. Seperti gw yang gak suka main alat musik dari SD, dipaksa les musik pas SMP hingga akhirnya gw bisa main gitar sama piano, walau gak klasik mainnya.
Kenapa bisa berubah ya?
Gw kira sejak kecil gw bakal langsung tahu apa yang gw mau dan gw suka, tapi ternyata pengetahuan gw terlalu sempit, bahkan untuk gw sendiri. Hingga akhirnya gw terus menerus menggali informasi baru dan membuat identitas baru juga, gw berubah, bahkan selera pun bisa berubah. Tragis? Iya, jika umur 25 tahun nanti gw menikah, 20 tahun kemudian gw keliling dunia, gw baru sadar bahwa jenis wanita selera gw adalah wanita aborigin.
Selera berubah, orang lain berubah, lingkungan berubah, suasana hati berubah, lagu berubah. Kita bisa mengingat betapa indahnya saat mereka berada dalam masa kejayaannya, saat kita benar benar menyukai hal hal tersebut, hingga kita bosan dan berubah.
Mungkin juga kita bisa membuat sesuatu menjadi konstan, seperti foto, cahaya yang diambil dalam sekejap dan menghasilkan ribuan warna di secarik kertas. Tapi sekalipun itu konstan, itu hanya sebuah foto, ingatan yang permanen, menyedihkan bukan? Hidup yang kita selama ini agung agungkan, untuk mencari kesuksesan ternyata hanya bisa diabadikan lewat foto ataupun video. Jika tujuannya hanya itu, pakai saja jas dan lakukan pas foto, kita semua terlihat tampan dan kaya di foto tersebut bukan?
Sesuatu yang alim bisa mendadak binal, yang bejat bisa tobat, yang gelap malah bisa berkelap. Hidup ini apa? Kenapa labil banget kayak remaja dengan celana skinny warna warni? Kenapa? Gak adil rasanya jika hidup ini cuman sekali. Harus ada konsep hidup yang lebih baik di dunia sana nanti, semoga saja setimpal dengan penderitaan yang ada di dunia ini. Amitabha.
5 comments:
Coba cari film buatannya Yasujiro Ozu yang judul nya ohayo. Setidaknya di googling :o
film lama ya? nonton dimana ya ini? kyknya susah nyarinya mmm
iya sudah cukup lama. kl gw sih ntn di dvd. coba http://www.videolala.com/watch-ohayo-1959 ceritanya sangat heartwarming.
"Iya, jika umur 25 tahun nanti gw menikah, 20 tahun kemudian gw keliling dunia, gw baru sadar bahwa jenis wanita selera gw adalah wanita aborigin."
di luar kotak pemikiran... :)
hahaha pikiranku aneh ya hehe
Post a Comment