Monday, June 21, 2010

ekonomi, sosial, budaya, agama, dan sumber daya alam

If you know both yourself and your enemy, you can win a hundred battles without a single loss. Sun Tzu - The Art Of War

Indonesia? Negara yang selama ini mengklaim dirinya sudah merdeka puluhan tahun yang lalu, kini tidak lebih baik dari negara yang dibombardir dan segala fasilitasnya diambil, sebutlah mereka, Jepang. Dan gw masih ingat tiap memulai pelajaran PKn tiap kali naik kelas, guru bakal berkali kali convince muridnya "Indonesia itu negara kaya, alam, bahkan penduduknya nomor 4 paling banyak di dunia". Lalu salah negara ini apa?

Jika kita tarik kesimpulan dengan gegabah, pasti kita akan bilang "korupsi lah salahnya, penyebab utamanya". Tapi menurut gw sendiri, mungkin yang sesuatu yang salah di Indonesia adalah sifat manja, tidak mau kenal dirinya sendiri apalagi orang lain, dan kebodohannya yang mengalir di setiap urat nadi orang Indonesia yang membuat bangsa ini makin lama makin hancur.

Korupsi kolusi nepotisme bukanlah permasalahan besar, setiap negara pasti punya penyakit ini. Gw rasa gak bakal jadi masalah besar kalau setiap orangnya tetap kerja, dan cepat dalam mengambil keputusan. Setelah itu bapak ibu siapapun mau korupsi sebanyak apapun terserah. Asal masih dari pajak kita, jangan ngutang korupsinya. Tapi negara kita malah terima duit banyak, tapi kerjanya semakin sedikit, malah tidur melulu tiap rapat. Kalau gw sih misalnya korupsi berarti karena gw ngambil dari negara lebih banyak, berarti gw mikir dan ngasih buat negaranya lebih banyak.

Dan betapa idiotnya lagi, Indonesia terbiasa dengan menyelesaikan suatu masalah dengan masalah yang lebih kecil. Maksudnya apa? Kita hanya melihat jangka pendek dari suatu masalah, dan nyari solusinya juga demikian. Coba ambil contoh macet di jakarta, tau tau ada jenius yang mencetuskan "berarti murid sekolahnya harus masuk lebih pagi pak", betapa jeniusnya gak sih? Kalau 5 tahun lagi tambah macet, berarti murid disuruh datang lebih pagi lagi, sampai akhirnya semua pelajar bakalan sekolah malem. Gila emang.

Tidak ada satupun orang yang mampu melihat minimal 20 tahun ke depan. Subsidi bahan bakar terus dikasih, harusnya langsung tarik aja. Pas harga bahan pokok melambung, kan bisa langsung dicut di bagian transportasi subsidinya, jadi angkot dan kopaja bakal mengalami perubahan signifikan. Ketimbang seperti ini? Hanya orang menengah ke atas yang merasakan subsidinya? Orang kalangan bawah tak henti berhutang untuk beli motor.

Museum milik negara, gedung kesenian jumlahnya sudah kalah saing dengan jumlah mall ibukota. Sedangkan di luar negri, sedang diusahakan untuk penyamarataan dalam jumlahnya. Pemerintah hanya sebagai penyedia tanah saja? Saya kira tidak begitu. Kalau pemerintah bisa mengotak ngatik hak siar, dengan menambahkan unsur budaya di setiap tontonan, dan setiap mall harus memiliki aksen indonesia-is dan makanan indonesia, gw rasa tidak akan ada kasus budaya curi curian, karena kita sudah mengenal baik apa yang kita punya.

Negara ini tidak punya agama, uang, dan integritas. Negara ini mengaku kaya, mengaku punya semuanya, padahal nol besar. Negara ini sok pintar dengan mengirimkan para penghafal rumus ke olimpiade fisika, dan tidak ada yang kembali sebagai produsen mobil di indonesia.

Kalau sudah tahu pendidikan dasar kita lebih lemah secara pemahaman dari negara lain, ya bukannya nilai rata ratanya yang dinaikkan dan kurikulum 1 semester isinya 32 judul pelajaran. Tapi diringankan, dan ditajamkan setiap tujuan pembelajaran itu. Kenapa masih ngotot belajar ribet ribet kalau akhirnya lupa juga? Dan anak indonesia yang sok pinter bakal ngomong gini "ah tanpa sekolah juga bisa sukses, yang penting gaul". Selamat! Anda telah masuk ke jurang kebodohan yang lebih dalam.

Si muda, dan si tua selalu bertentangan. Tapi si muda yang sekarang tak pernah membuat kreasi yang bisa membanggakan. Rata rata isinya hanya demonstrasi tak henti, membakar ban di pinggir jalan. Maksudnya apa?

Sumber daya alam kita sudah mau habis, sama seperti isi dompet negara, tingkah moral, budaya yang dicuri, dan terakhir nilai agama di negara kita. Yang membaca ini, tolong lah untuk merasa bodoh sedikit. Karena yang bisa menjadi lebih pintar hanyalah orang yang merasa bodoh. Orang indonesia ini sudah merasa pintar semua, dan tidak ada perkembangan sama sekali setiap tahunnya.

Takdir kita di awal memang begini, menjadi bodoh yang tidak tahu diri. Tapi kita harus mengakui ini semuanya dahulu, bukan menciptakan citra indonesia adalah negara maju dan mempunyai attitude yang baik. Kita tidak seperti itu. Kenali dulu siapa kita, kita negara yang tidak bermoral, bodoh, banyak bicara, dan tidak ada kreasi sama sekali. Kenali, jangan menolak.

Lalu perlahan lahan kita kan bisa bergantian mengotak atik di mana sisi buruknya. Jika kita tahu diri sendiri seperti apa, tidak akan ada hal yang menghalangi kita kecuali orang lain. Tapi jika kita tidak tahu diri sendiri, semua hal sekecil apapun akan menghalangi kita. Percaya deh.

Jangan tertipu dengan pencitraan yang didapat dari luar negri bahwa kita ini adalah negara hebat atau apa lah yang baik baik. Kita harus merasa buruk untuk mengalami perbaikan setiap hari, instropeksi rutin untuk menjadi yang lebih makmur. Dimulai dari diri sendiri, kurangi naik mobil pribadi, mengenal diri sendiri, dan terus membaca. Karena orang indonesia dikasih koran yang dilihat ya cuman gambarnya aja. Sama tulisan judulnya yang gede.

Indonesia, still long way to go. Tapi gw percaya bahwa suatu hari bakal ada orang orang yang mampu memberikan perbaikan. Dan sebelum hari itu datang. Mari kita melakukan perubahan perubahan kecil yang masuk akal, jangan demonstrasi dulu, jangan melakukan apa apa dulu. Kalau turun presiden pasti krismon lagi. Ciptakan jiwa pemimpin yang baik di tiap 270 juta orang indonesia. Maka negara ini gak akan kalah sama siapapun. Arigato, terimakasih. Ciao

No comments: