Sunday, March 15, 2009

Rumah

Rumah Tidak Seperti Rumah

Aku hanya seorang pria yang tinggal di sebelah warung telepon, rumahku bergabung menjadi satu dengan toko sembako. Aku tinggal bersama bibiku, karena kedua orangtuaku telah meninggal karena kecelakaan tragis sekitar 1 tahun yang lalu. Pada hari minggu malam, orang tuaku dan adikku pergi beli martabak dengan naik motor, aku menunggu di rumah. Mereka bertiga naik motor tanpa menggunakan helm, spion rusak, sama halnya dengan lampu sorotnya. Menurut saksi mata, motor ayahku tergelincir minyak sisa penggorengan martabak yang berada sekitar lima ratus meter dari tempat kejadian. Motornya menghantam toko martabak dan meledak seketika. Aku menjadi yatim piatu, tanpa sanak saudara sama sekali.

Saat ditanya kepala sekolah mengapa aku berhenti sekolah, aku menjelaskan kejadian tersebut. Kepala sekolah tiba tiba menangis dan membanting semua barang yang di sekitarnya, dia berkata "bapak tidak akan pernah makan martabak lagi demi mendiang orang tuamu nak". Aku berhenti sekolah dan sekarang hanya menjadi penjaga toko sembako milik bibi. Oh ya, aku lupa mengenalkan namaku, namaku Tiren. Dan nama bibiku adalah Formalin. Kadang para tetangga yang ingin membeli kebutuhan mereka sehari hari suka meragukan kualitas barang toko karena tahu akan namaku. Orang tuaku menamakanku Tiren karena sehari sebelum aku melahirkan, mereka melihat kuda delman bertabrakan dengan pejalan kaki. Jadi mereka menamakanku Tiren Kudastyo Ojolali, mungkin bisa disingkat TKO.

Setidaknya setiap hari aku melakukan hal yang sama dan membosankan. Tapi hari ini aku mencoba menghubungi mantan teman sekelasku, Eshol. Aku ke wartel sebelah, aku hanya membawa uang sekitar lima ribu rupiah. Aku tipikal laki laki yang tidak punya handphone, karena kata bibiku "handphone bisa nyimpen gambar gambar mesum, ntar kamu jadi orang kafir". Aku masuk ke salah satu ruangan, ruangan nomor 7 tepatnya. Ketika aku membuka pintu, ternyata ruangan yang aku kira kosong itu ada orangnya. Seorang gadis cantik rupawan, sayangnya dia berselera buruk terhadap pakaian. Dia mengenakan kaos spongebob abal, dan pake celana batik yang biasa dipakai buat tidur. Aku menutup pintu itu kembali, dan mencari ruangan yang kosong. Kemudian aku berhasil menelpon Eshol.

"Halo, halo hol, tiren nih" setelah beberapa saat tersambung. Eshol menjawab "kenapa ren? apa kabar lo? udah 1 taun sejak kita sekelas dah". Aku mencoba mengingat kembali apa yang aku ingin tanyakan ke dia, ternyata aku sudah ingat, "hol! si citra masih jomblo gak?" aku berkata. "Oh citra, masih kok, tapi udah sebulan dia ga masuk sekolah". "Hah? kenapa? dia sakit? apa ke luar kota?" aku bertanya dengan lantang. "Gak tau gw, gw cabut dulu ya, mau ngebantuin nyokap mandi, eh bersiin kamar mandi maksudnya". Telepon ditutup.

Setelah melihat tagihan, ternyata melebihi lima ribu sekitar sepuluh ribu rupiah karena aku menelpon ke handphone, aku bermaksud membayar dengan daun dan beberapa butir upil, tapi karena takut tersinggung aku memutuskan untuk tidak membayar atau ngutang. Tiba tiba wanita itu keluar dari ruangannya dan membayar tagihannya. Makin diliat dari dekat ternyata wanita itu mirip dengan seseorang, lalu aku melihatnya lebih dekat lagi. Tapi wanita itu nampaknya terganggu dengan wajahku yang terlalu dekat dan sekilas mirip romi rafael yang mau hipnotis orang. Setelah itu aku keluar dari wartel dan kembali jaga toko.

Aku jadi teringat, aku dulu sekelas sama Citra, seorang wanita idaman di sekolah. Rambutnya panjang, agak berkumis, hidungnya mancung, dan matanya lebar, mungkin kalau dijelaskan lewat kata kata dia mirip beo gondrong dikasih kumis, tapi kalau dilihat dia itu memiliki kemiripan yang teramat sangat dengan dian sastrowardoyo, atau oscar lawalata mungkin. Aku dulu sempat dekat lewat eskul bulutangkis, dan saat itu dia eskul tari piring. Kami eskul di hari yang sama, dan setiap jam setengah lima sore eskul berakhir. Suatu hari aku beli gado gado campur pisang goreng dan beli es teh manis juga, tiba tiba Citra dateng, ternyata dia beli minum karena kehausan. Aku duduk di belakang tempat ia beli minuman, dan tiba tiba ia berbalik dan berkata "cobain dong gado gadonya". Ternyata cuman bagi gado gado, tapi pas diliat lagi dia ternyata nyobain gado gadonya sampai 4 sendok. Aku hanya tersenyum pasrah dan memandang bola matanya yang hitam polos seperti kartun. Di hari itu mungkin cinta telah turun dari mata ke hati.

Semenjak saat itu aku selalu beli gado gado sehabis pulang eskul, dan kadang menyempatkan diri untuk berbicara beberapa patah kata sampai akhirnya dia dijemput kedua orangtuanya. Yang aku suka dari Citra adalah kalau dia ketawa pasti bakal ada suara semacam kik kik kik sampai akhirnya berhenti ketawa. Suatu hari saat karyawisata sekolah ke bandung, kami sempat meminjam sepeda ontel milik seorang warga dan mengelilingi kota. Sepedanya tidak kami kembalikan. Tiga hari setelah karyawisata orang tuaku kecelakaan, mungkin ini adalah karma karena sepeda yang tidak dikembalikan. Semenjak hari itu, aku selalu merindukannya.

Setelah aku mengingat ingat kejadian yang terjadi di masa lalu, hal itu terbawa mimpi. Aku bangun lalu sarapan indomie goreng yang bawang gorengnya ditaro belakangan. Aku keluar dari rumah dan berlari lari kecil untuk menambah tenaga di pagi hari. Dan beberapa saat kemudian tiba tiba muncul lagi seorang wanita wartel yang aku lihat kemarin. Aku memberanikan bertanya "rumahnya di mana? warga baru ya?". Dia mengangguk dan menunjukkan rumahnya dengan jari. Aku pergi langkah demi langkah ke rumah tersebut. Aku memencet tombol belnya.

Seorang ibu membukakan pintu, dari wajahnya mungkin sekitar kepala empat. Ibu itu memberikan ekspresi bertanya tanya dari pintunya. Aku hanya berkata "salam kenal bu! saya tetangga ibu, yang jual sembako". Ibu itu tersenyum dan mengajak masuk untuk minum teh. Setelah hening beberapa saat sambil minum teh, aku mendengar suara tertawa aneh dari lantai atas. "Suara apa itu bu?" kataku. Suara anak ibu, lagi telponan kayaknya, biar ibu panggil deh, "adeeeeek..". Sambil meneguk teh, tiba tiba turun seorang wanita turun. Ternyata ia Citra, menggunakan kaos dan celana pendek. Sungguh manis, sampai aku tidak bisa berkata kata.

Citra pun terdiam, dan tiba tiba "Tiren!? TIREN KAN?". Ibunya bingung dan berkata "dek, kamu apa sih? orang tamu baik baik kamu katain tiren tiren, emang dia ayam apa?". Tiba tiba suara tertawa yang aku rindukan datang lagi kik kik kik. Aku bertanya pada Citra "lo ga masuk sebulan gara gara pindahan ya? kayaknya tadi gw liat adek lo deh". "Eh kok tau? iya gw sibuk pindahan nih. iya itu adek gw yang biasa keluyuran, yaampun udah lama banget ya". Semenjak saat itu aku memiliki tetangga yang membuatku semangat hidup.

Esok hari, sekitar jam lima sore Citra mampir ke toko. Dia beli beberapa telor, dan kita berbincang bincang sedikit. Kata kata yang kuingat darinya adalah ini, "ren, gw bete nih". Aku bertanya "kenapa?". "GW SARIAWAN TAU GAK SIH" teriak dengan muka memelasnya. Ingin rasanya aku memberikan jeruk nipis ke sariawannya agar sembuh, atau mungkin mencongkelnya dengan pisau, atau membakar sariawannya. Setelah pikiran mulai tidak karuan, aku berkata "sabar ya". Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi nampaknya dia mengangguk angguk saja sambil memegang bibirnya. Rambutnya terlihat lebih panjang dibanding pertama kali aku bertemu dengannya.

Beberapa jam kemudian, toko sudah mau tutup. Citra mampir kembali, dengan wajah riang dan mengajakku berjalan jalan di perumahan. Sekitar jam delapan, aku berjalan dengannya. Perasaan aneh yang begitu menyenangkan mengalir melewati darahku, sampai rasanya mau mimisan. Sambil berbicara dengan gelak tawa di mana mana, ia duduk di tengah jalan. Aku pun menemaninya, dan duduk dekat dengannya. Dia bercerita "gw punya penyakit parah". Sambil terkaget "HAH? APA?". Dengan tertawanya yang khas, dia berkata "gak kok, boong, gw mau dijodohin sama anaknya temen nyokap gw, pengusaha gitu, raja minyak dari sunda". Aku yang masih menanggapi dengan bercanda "raja minyak emang dari sunda? kenapa tiba tiba cerita gitu?". Tiba tiba raut wajahnya berubah, seperti menelan timah panas dari lidahnya "kebayang gak sih? gw dijodohin sama raja minyak, gw berhenti sekolah gara gara nyokap gw pengen gw langsung jadi ibu rumah tangga, padahal cita cita gw kan jadi penjaga toko baju, kalo ga lulus sma mana bisa!". Sambil memasang muka bingung dan mata yang gak fokus aku memilih untuk diam.

Sejak itu aku tidak pernah bertemu dengan Citra, aku kesepian. Di hari rabu, tiba tiba Citra datang mampir, mengajakku pergi ke toko baju. Berdiri di depan toko baju sambil memegang lenganku, melihat wajahnya, nampaknya ia sedang berkhayal menjadi penjaga toko baju. Dia berjalan beberapa langkah dan tersenyum sendiri. Senyumnya menyimpan tanda tanya yang membingungkan. Lalu kami berjalan jalan, di pertokoan dekat wilayah perumahan tempat kami tinggal. Tanpa bicara sedikitpun, ia hanya menempel di lenganku dengan senyumnya yang polos dan aneh itu. Lalu ia berjalan menuju arah rumahku dan meninggalkanku tanpa kata.

Esoknya, ternyata ia menikah. Aku tidak terima dengan hal tersebut, aku masuk ke dalam pelaminan. Dan melepaskan beberapa pukulan ke orang yang menikahkan, lalu beberapa tendangan ke calon suami. Sang pengusaha minyak dari sunda itu akhirnya tersinggung dan mengajakku bertengkar di luar rumah yang menjadi tempat pelaminan tersebut. Semua orang melihatku, Citra yang hari itu begitu cantik dengan baju jawanya, dan si lelaki aneh dengan belangkon dan alis yang digambar. Aku melesatkan beberapa pukulan ke arah kepalanya, ternyata aku salah sangka. Dia petarung yang hebat, aku kalah dalam dua pukulan.

Aku mengunci diri di rumah. Betapa malu diriku, bibi Formalin pun nampaknya tidak mempedulikanku. Citra kembali datang, mengetuk pintu kamarku. Aku yang berada dalam rumah yang lebih terlihat seperti ruang penjara bagi orang gila, aku mengobrak abrik isi kamarku. Semua poster britney spears dan paris hilton yang aku koleksi semenjak TK aku robek. Citra masuk, dengan bodohnya ternyata aku mengunci diri di rumah tanpa kunci, orang dengan mudah masuk. Citra memelukku, "kemarin gw ga jadi nikah, makasih ya". Dia keluar perlahan, dan memberiku senyum saat keluar dari kamarku. Dan untuk hari hari selanjutnya, aku menghabiskan lebih banyak waktuku berjalan dengan Citra. Citra melanjutkan sekolahnya, dan aku hanya menjadi penjaga toko. Sambil bersandar di pohon, kami berdua mengukir nama kami di pohon, Citra loves Tiren forever.

the end

No comments: