Tuesday, March 03, 2009

lamunan

Seperti langit yang aku genggam dari sudut pandangku, dengan tangan yang begitu kecil aku menghalangi awan, dan menyentuh matahari dengan ujung jariku. Dengan khayalanku, tidak akan ada panas atau cuaca yang tidak sesuai dengan keinginanku. Tetapi ratusan kali aku bermimpi membuatku ratusan kali terbangun. Keinginan untuk terbang dan kenyataan akan hukum gravitasi. Betapa sulit aku menunggu, betapa lelah aku menanti lamunan yang aku bentuk sedemikian rupa untuk menjadi kenyataan. Hasilnya tetap saja nihil.

Tidak ada kata yang pantas untuk menjelaskan, bahkan tidak ada isyarat yang bisa mengartikan. Hanya membaca tanpa mata, menyentuh tanpa harus menyentuh benda itu sendiri. Aku sendiri tidak memiliki arti,tujuan, dan sebab. Kehadiranku tertulis begitu saja, sudah seharusnya, diibaratkan seperti air yang sudah seharusnya mendidih dan menguap karena panas. Aku tidak serumit itu, aku tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk berada di sini, aku hanya segumpal daging yang dapat berpikir dan bergerak sesuai keinginanku. Dan satu hal yang aku suka adalah, aku dapat membuat arti, tujuan, dan sebabku hadir di sini.

Aku ini kecil,
Mungkin tidak terlalu kecil untuk membuat hal besar
Atau mungkin aku terlalu kecil untuk diriku sendiri
Aku ini terbatas,
Sewa waktuku terhadap Tuhan kian menipis
Atau kalimat ini akan mengakhiri segalanya
Aku ini sebenarnya buta,
Mengenali dengan persepsi
Mengubur diri sendiri dengan ambisi
Aku ini sebenarnya apa?
Tenyata kita selalu sendiri, dan tidak akan bergerak jauh dari itu
Kita akan selalu bertanya pada sepi
Kita akan selalu berteman dengan sunyi
Kesempatan untuk menjadi tidak sama
Mencairkan hati yang beku, menghangatkan untuk dibagi bersama
Pada akhirnya, kita akan selalu kembali ke kawan lama
Lamunan senja yang sepi, dan sunyi

1 comment:

Anonymous said...

don't be proud ya rana...