Monday, July 01, 2013

Pilihan Mikro

"Semua tiap jentik nyamuk yang bergulir kesana kemari sudah diridhoi atau diperbolehkan untuk terjadi, oleh Tuhan."

Bahkan untuk kriminal yang memutilasi seorang anak yang tidak bersalah.

Dari dulu setiap manusia mencoba mempelajari takdir, dengan cara yang paling sederhana, mempertanyakan kenapa ia terlahir di sini, dengan momen ini itu, mencoba menjadi merdeka, namun kembali pada ruang yang sama.

Karena Tuhan sudah menciptakan kemungkinan, sesuatu yang kita sebut pilihan, kebebasan.

Tapi yang namanya kemungkinan itu kan berarti terbatas, seperti pilihan ganda. Namun karena tolak ukurnya segala paradoks kemungkinan, nampaknya setiap detiknya kita memiliki 1 triliun kemugkinan untuk dipilih.

Namun bukan berarti dengan banyaknya pilihan akan menjadikan kita merdeka ataupun bebas.

Karena yang menjadikan manusia bebas ialah ilmunya dan egonya. Jika ilmunya terus bertambah dan egonya semakin bisa dikendalikan, jadilah ia merdeka.

Menurut Tuhan, kita ini sudah dibatasi, namun dari perspektif saya sih, batasannya Tuhan ya pasti lain dengan batasan sekedar pilihan ganda.

Yang menjadikan kita benar-benar bisa memilih adalah kesadaran atas adanya hal tersebut. Seorang manusia bisa terus menerus menjadi orang yang merugi, untuk dirinya maupun orang lain. Namun pilihan itu selalu ada, dan hanya bisa dilihat oleh mereka yang terus menuntut ilmu, mencoba mengenal diri, dan Penciptanya.

Mereka yang meninggal dengan keadaan seburuk-buruknya, diridhoi karena kemungkinan yang sudah tercipta tersebut. Namun jika ada yang meninggal dalam keadaan sebaik-baiknya, bukankah itu sudah cukup menandakan akan adanya pilihan?

Hanya saja. Kadang pilihan-pilihan rasional yang seharusnya dilakukan itulah yang sulit.

Kini saya percaya ada surga untuk mereka yang menciptakan pilihan yang sulit dan neraka untuk mereka yang lupa akan adanya pilihan. Surga dan neraka itu rasional.

No comments: