Thursday, July 11, 2013

Cara Menjadi Baik

"Anggap saja ini ceramah saya untuk bulan puasa di negeri orang ini, untuk menjadi manusia yang baik, kuncinya...." Menarik nafas sejenak

"Percaya akan hal yang baik."

Setelah hampir delapan bulan berkepala dua. Saya sadar bahwa yang menyelamatkan saya dari hal-hal yang umumnya menyesatkan kebanyakan orang hanyalah kepercayaan, atau mudahnya lagi 'alasan'.

Jujur saya dulu sempet minder akan penampilan saya sewaktu sekolah menengah pertama, semua orang tampil dengan gelang-gelang, rambut basah karena wax, dan handphone yang relatif canggih dibandingkan milik saya sewaktu itu. Namun saya ketimbang repot-repot tenggelam di dalamnya, saya bersyukur saja, tidak mempermasalahkan ini itu. Saya lebih memilih mempercayai, "jika jadi orang baik, akan lebih dilirik ketimbang yang parasnya menawan". Dan kini, saya tetap biasa-biasa saja.

Kalau seorang hanya fokus akan penampilannya, dia tidak akan dinilai lebih dari apa yang dia fokuskan, penampilan.

Bukan menjadikan diri saya sendiri sebagai pusat referensi, tapi paling gampang bercerita ya memang dari pengalaman sendiri kan?

Dulu saya salah percaya. Saya percaya bahwa "semua itu tergantung bakat", saya agak pasrah sama pelajaran-pelajaran yang di luar kapabilitas saya. Hingga akhirnya teman saya berkata "bisa karena biasa", suatu kepercayaan baru yang menjadikan saya mengalami revolusi. Hingga akhirnya saya mampu lolos dari segala macam jenis pelajaran.

Dan yang dibutuhkan hanyalah satu, percaya akan hal-hal yang baik.

Namun percaya hal-hal yang baik, tidak semudah itu. Karena untuk memiliki kepercayaan yang kuat, kita juga harus memiliki landasan yang kuat. Dan landasan yang kuat hanya akan hadir bagi mereka yang mau terus belajar, tidak menutup diri akan hal-hal baru.

Dulu saya agak menganggap remeh kata 'iman'. Bukan karena banyak orang yang namanya Iman, ataupun karena susunan kosa katanya yang buruk. Namun ternyata kata 'iman' yang artinya percaya, tidak semerta-merta kepercayaan buta seperti itu.

Jika ingin mempercayai "memberi justru memperkaya diri", seseorang harus mencobanya sendiri, seseorang harus merasakan efek psikologis setelah melakukan memberi, dan seseorang harus mempelajari makro ekonomi tingkat pertama. Hingga ia benar-benar bisa melepaskan keterikatannya dengan harta.

Percaya hal-hal yang baik.

Seperti tukang meminta-minta. Mereka tidak percaya bahwa mereka bisa mencoba, padahal, jika mereka diberikan uang 100 juta untuk dipergunakan baik-baik, mereka akan terus menyimpannya, hingga uangnya habis dan mereka kembali ke karir sebelumnya.

Konsep keTuhanan yang disebutkan banyak orang itu mengajarkan bahwa segala yang diberikan Tuhan itu suci, Tuhan maha penyayang, dan pengasih dan hal lainnya, tidak sekedar menjadi kalimat-kalimat kosong untuk mengenal Tuhan. Tapi melainkan juga untuk dipercaya. Dan setelah belajar segala ilmu agama dan ilmu duniawi, hadirlah perkataan seorang Nabi yakni "Prasangka Tuhan sesuai dengan prasangka hambaNya".

Tidak mudah untuk percaya akan hal-hal yang baik. Butuh alasan, dan pembelajaran. Tetap kritis, namun ketika sudah merasakan kebenaran, berpegang teguh padanya. Karena hanya kepercayaan yang baik yang akan menuntunmu ke kehidupan yang baik.

"Sekian."


No comments: