Thursday, June 06, 2013

Kopi tidak membuat anda menjadi lebih filosofis

Karena mengenakan kacamata tidak akan semerta-merta meningkatkan kredibilitas anda di bidang matematika, saya sadar bahwa hidup ini bukan sekedar penampilan.

Karena banyak guru ngaji yang terjerumus dalam nafsu untuk memperkosa santrinya, saya tidak lagi bisa mengangkat derajat suatu karir dibanding karir lainnya.

Karena mereka menjadi mereka yang sekarang karena pengaruh yang benar-benar di luar kemampuan mereka di masa yang lalu, saya benar-benar tidak bisa menjadikan diri saya sebagai referensi perbandingan karena saya merasa sangat beruntung dalam fase perkembangan moral, apalagi menghitam-putihkan segalanya dengan membawa bendera agama.

Karena kita tidak akan pernah menjadi hakim sebaik Tuhan.

Lalu.

Saya sadar jika seorang anak kecil yang dari balita sudah di jalanan dipaksa mengamen lalu besarnya hanyalah jadi preman yang kadang suka membantu nenek-nenek turun dari bus, merupakan pencapaian. Saya sadar juga jika seorang anak yang lahir dalam keadaan keluarga yang berantakan, lalu besarnya menjadi pengusaha sukses namun kadang suka main perempuan tapi begitu perhatian terhadap pendidikan, merupakan pencapaian juga.

Bukankah kita menyempurnakan, bukan sempurna.

Beberapa terlahir lebih pintar, lebih mudah beradaptasi, beberapa lebih bodoh, dan penakut. Beberapa dengan mudah tahu apa yang harus dilakukan dalam jangka waktu 20 tahun ke depan, beberapa tidak dapat menemukannya hingga akhirnya hidung dan bibirnya mengecup tanah.

Namun di dalam ruang takdir yang terlihat begitu sempit, dengan konyol Tuhan menciptakan suatu hal yang terdengar lebih konyol lagi, pilihan.

Seolah kita memiliki sejuta pilihan tiap detiknya, dengan variasi alur cerita yang berbeda juga, atau mungkin hanya iya atau tidak.

Mungkin seseorang lebih baik dinilai dari pilihan-pilihan kecil hidupnya, dari kapabilitasnya bersama dengan fasilitasnya juga.

Mungkin kita harus belajar lebih banyak untuk mengenal toleransi, menggunakan ilmu untuk menyelamatkan bukan melumatkan. Karena mereka yang buta warna pun tahu bahwa hitam dan putih memiliki variasi tingkat kegelapan yang berbeda.

Namun dari awal kita tahu bahwa minum kopi di suatu kafe kecil di bilangan perkotaan tidak akan membuat anda menjadi lebih filosofis, namun apabila dilakukan dengan gelas plastik, sambil berkendara di atas kendaraan yang cepat nan dingin, mungkin akan merubah sedikit pola pikir anda.

Saya Rana, pria berkacamata berumur 20 tahun ini, undur diri.

No comments: