Sunday, January 13, 2013

Radikalisme

Suka miris rasanya hati sekarang, faham yang dipakai di sana sini selalu faham ekstremis, kalau tidak liberalis dalam tingkat sebebas-bebasnya, pasti pilihannya menjadi garis keras yang tidak memiliki toleransi sama sekali. Agak mengangkat isu sosial politik sedikit, maaf kalau yang menganggap ini bukan genrenya.

Lagi suka baca pergolakan dunia, lagi ngetrend di beberapa negara liberal seperti amerika serikat sudah mengumandangkan kesetaraan perwakinan untuk jenis gender yang tidak hetero, yakni homo, sama, sejenis. Penulis sendiri tahu bahwa, apapun jenis perbuatannya, sesuatu pasti bisa dibela, bisa dibenarkan, asalkan ia minoritas, terlihat lemah, dan berlandaskan tiada menyakiti siapa-siapa. Penulis juga bukan seseorang yang mengatakan tidak tanpa alasan. Namun, bukankah lebih baik dilarang, terlepas nanti ada yang memaksakan kehendak, ya toh persentasenya akan kecil, hukum kan sebenarnya hanya gertak sambel atau preventif, sisanya yang menghakimi kan Tuhan. Teori semakin dikekang semakin bertambah banyak ya tidak begitu lah. Di mana-mana kalau dikekang, mereka akan sadar diri, akan sadar bahwa itu membuat suatu pihak tidak nyaman. Larangan menghadirkan kebebasan kok.

Jadi mayoritas pasti benar? Lindungi kepentingan orang banyak saja terus? Kembali ke agama sih, agama yang datangnya dari langit. Mengajarkan ini itu, menyayangi ini itu. Jangan dibiasain ngambil bagian yang kita suka aja dari ajaran, terus yang kita ga suka, kita bilang "Ya itu zaman dulu, harus diupdate dong.", seperti penulis bilang : "Segala perbuatan yang disenangi pasti bisa dibela". Seperti jika narkoba dilegalkan, dan sepuluh tahun kemudian mau dilarang lagi, pasti semua orang menjerit, "tapi ini sudah memperkerjakan ratusan orang!", oh manusia, selalu mencampurkan yang buruk dengan sedikit kebaikan, agar terlihat benar, ya seperti rokok, bukan perokok, tapi rokok sebagai suatu sistem konglomerasi, yang memperkaya beberapa pihak tertentu dengan semena-mena merusak paru-paru anak di bawah umur negara ini. Sekali lagi, penulis tidak suka menilai orang sembarangan, tapi ini soal sistem yang diberlakukan di dunia ini, semakin lama semakin banyak pembelaan yang membabi buta, namun sarat makna.

Yuk lihat secara komprehensif, lagi kenapa sih dunia ini, jangan langsung semena-mena menolak suatu gagasan, ga bagus.

Dan sayangnya lagi. Ketika dunia semakin liberal, ketika kita ingin kembali ke jalan yang benar, para kelompok agama sedang dalam tahap defensif, mereka panik. Sehingga mereka membangun dinding agama mereka setinggi mungkin, tidak ingin diusik, dan malah sering terkesan ekstremis. Sehingga para kaum moderat yang menginginkan agama sebagai sekedar jalan hidup malah menghindar karena agama kini menjadi senjata yang tajam dan malah melukai iman penganutnya.

Padahal dari lahir seharusnya sudah ada doktrin bahwa yang menjadi musuh semua agama itu ialah kemiskinan dan kebodohan, bukan agama lain. Penulis tidak mendukung pluralisme yang berlebihan, namun secara hidup bermasyarakat, bukankah lebih masuk akal jika kita hidup berdampingan sambil membasmi kebodohan dan kemiskinan, bukan saling baku hantam saling menkonversikan iman yang sifatnya begitu personal.

Sehingga lambat laun, pencitraan agama menjadi suatu yang memalukan untuk dikenakan. Sesuatu yang harus kita lepas ketika kita bergaul dengan teman dan sahabat kita. Padahal ya, solusi untuk dunia yang sedang berkecamuk ini ya hanya itu, kembali ke ajaran tradisional itu. Namun bagaimana cara memperbaiki citra agama yang konon lebih sering menghabiskan uang untuk melakukan pertumpahan darah ketimbang membangun sekolah dan tempat beribadah?

Perdalam agama kita masing-masing, sih. Cari kebenaran di sana, jika begitu sulitnya, cari di dalam Tuhan.

Nilai-nilai fundamental masih berada di sana mudah-mudahan. Dan untuk merubah dunia yang semakin suram ini dibutuhkan gerakan yang ramai, namun perlahan sekali. Bukan konsep radikalisme seperti ketika mahasiswa menurunkan Soekarno, Soeharto, dan presiden Indonesia lainnya. Itu konyol. Berharap negara akan berubah jika berganti simbol. Yang bisa merubah dunia bukan satu orang, melainkan 200 juta orang yang mencoba mengembalikan setidaknya nilai moral yang ada dari diri mereka.

Bukan radikalisme, bukan gerakan-gerakan anak muda yang sok-sok merubah dunia dan menjijikan itu, bukan kritikus politik yang pinggir mulutnya berbusa ketika menyebutkan kesalahan orang lain, dan bahkan bukan seorang petinggi agama yang mampu mengubah suatu keadaan di negara ini. Perubahan itu milik suatu kaum, keinginan bersama.

Sudah muak dengan dibodohi bersama? Bagaimana kalau kita berusaha saling mendidik antar sesama sekarang? Mulai membuka pikiran seluas-luasnya, beragama sedalam-dalamnya, bermoral sebaik-baiknya, dan hingga akhirnya semua menjadi normal lagi.

Amin.

No comments: