Sunday, January 20, 2013

Cara Membantu dan Menolong

Mengutip buku dari daratan Cina. Hari ini kita akan membahas jenis-jenis cara untuk menolong orang lain. Bagi orang yang suka menolong orang lain, atau orang yang suka merasa hidup ini kurang menyenangkan ataupun kurang bermakna, boleh dicoba cara-cara di bawah untuk menolong orang lain. Penulis tidak akan membahas suatu yang bersifat teknis, ini hanya menjadi konsep dasar dari menolong orang lain.

Untuk menolong dibutuhkan hati yang ikhlas tanpa mengharapkan apa-apa, ada beberapa peralatan yang dibutuhkan, seperti : hati, otak, dan harta.

Kasus yang dibahas kali ini adalah suatu pedesaan yang miskin, namun di dekatnya ada begitu banyak kekayaan alam, seperti danau penuh ikan, tanah yang subur, dan binatang yang bisa dikembang biakkan. Namun orang di sana hidup miskin entah mengapa.

Menolong dengan Membabibuta

yang dibutuhkan : harta
tingkat kesulitan : rendah

Anda akan menolong dengan cara yang buru-buru. Karena anda tidak punya banyak waktu dan tidak ambil pusing. Anda akhirnya membeli banyak bahan makanan dan mengirimkannya ke balai desa, setiap dua bulan sekali anda menghabiskan sekitar 100 juta untuk memberikan mereka makanan. Hingga akhirnya anda meninggal dunia dan anda dikenal sebagai Si Dermawan Titisan Dewa. Namun setelah anda meninggal, desa tetap saja miskin dan serba kekurangan.

Menolong dengan Paksa

yang dibutuhkan : otak, harta
tingkat kesulitan : menengah

Anda akan datang ke tempat di mana tempat-tempat mereka bekerja, seperti mendatangi nelayan yang berada di danau, dan mengganti segala peralatan mereka dengan yang lebih canggih, datang menuju sawah dan mengajarkan mereka bagaimana caranya menciptakan sistem pengairan yang mudah dan praktis, lalu satu minggu kemudian anda pulang ke tempat anda bekerja. Anda dikenal sebagai Orang Menyebalkan yang Berisik. Namun mereka akhirnya menggunakan cara anda, namun setelah beberapa bulan, kebiasaan itu hilang.

Menolong dengan Lembut

yang dibutuhkan : otak, hati
tingkat kesulitan : sulit

Anda mendatangi desa tersebut sebagai penduduk, berkenalan dengan warga, mengenal karakter tiap penduduk, dan mempelajari gerak-gerik tiap penduduk. Anda berpura-pura belajar memancing bersama nelayan, padahal anda sebenarnya sudah bisa, setiap nelayan berada di tempat yang tidak strategis untuk menangkap ikan, anda diam saja, namun ketika mereka mencari di tempat yang layak, anda langsung menyemangati mereka. Anda juga dengan rendah hati belajar mencangkul bersama-sama petani, sambil bercerita tentang ingin mencoba membuat sistem pengairan di desa tersebut. Sambil bersantai-santai, akhirnya dua bulan kemudian itu semua terjadi. Anda harus pulang ke kota setelah di sana. Anda dikenal (hanya) sebagai Orang yang Baik. Untungnya, desa menjadi makmur dan semua orang menjadi bahagia.




Dari contoh-contoh di atas. Kita tahu bahwa cara yang paling baik untuk menolong orang ya dengan cara yang lembut, tidak membombardir harga diri mereka, merendahkan martabat mereka, malah bersama-sama melebur jadi satu dan membangun mereka dari dalam. Membangun mereka dari sisi yang paling dalam, cara ini hanya bisa dilakukan oleh para manusia yang pro, bisa memasuki interaksi sosial yang bukan hanya baik, namun persuasif tanpa menjadi persuasif.

Kita bisa tahu bagaimana pemerintah bekerja saat ini, yakni dengan cara membabi buta. Seperti memberikan subsidi bbm yang sebenarnya beberapa dari kita tahu bahwa itu hanya akan memanjakan atau meninabobokan rakyat, padahal keadaan sudah sangat tidak memungkinkan untuk melakukan itu. Dan rakyat kecil merasa tertolong atas itu. Tidak heran banyak rakyat kecil masih mengelu-elukan era orde baru karena jenis pertolongan yang pertama itu masih ada.

Semua serba murah, namun caranya salah.

Ya karena saat ini sedang banjir di mana-mana. Mungkin para pembaca bisa menjadi lebih bijaksana dalam menolong. Sedikit lebih visioner atas apa yang kita perbuat, kita tidak semerta-merta mengutamakan niat, namun mendalami juga caranya, dan menghargai perasaan yang kita tolong, tidak menjadikan mereka sebagai orang yang berderajat lebih rendah dari kita. Semoga kita semua bisa menjadi penolong-penolong profesional seperti itu. Amin.

Uang itu kalau diberi bisa habis, tapi kalau ilmu yang diberi, tidak akan habis-habis, dan malah menghasilkan uang bagi yang diberi. Menjadi contoh bagi orang lain, bukan terus-terusan memberi contoh. Amitabha.


No comments: