Friday, January 04, 2013

Dalam, Dekat, & Diam

Setiap orang pasti pernah berada di suatu malam. Malam yang tidak terlalu signifikan, hanya malam, udara yang tidak begitu jelas adanya, dan sedikit keresahan. Lalu pelan-pelan memegang pipi kiri mereka sambil mengerinyitkan dahi mereka. Entah yang lalu, kini, atau nanti yang menjadi resahnya, namun rasa itu mulai memanggil mereka untuk sedikit membuka telapak tangannya, menyampaikan doa-doa kecil, harapan-harapan yang konyol, putus asa, maupun sekedar menginginkan ketenangan.

Semakin terang cahayanya, semakin gelap bayangannya. Di keramaian, gemerlap perkotaan, beberapa berhasil menemukan ketenangannya di dalam gubuk yang akan runtuh dalam satu hantaman, beberapa berdiam diri memeluk resah di dalam istana yang benderang, mereka yang membedakan dirinya, menjauhkan dirinya dari rahmat dan berkah kehidupan.

Ya kita sama-sama meminta yang tidak ada, atau mempermasalahkan yang ada. Dalam diam kita saling menggaduh. Mungkin kita sudah tidak percaya akan kemanusiaan. Kita tidak lagi percaya istilah orang mampu menolong orang lain tanpa ada maunya, manusia bisa ikhlas. Dan di dalam kesendirian, kita perlahan berubah menjadi binatang-binatang liar yang kesepian.

Menghamburkan waktu, mengubah tingkah laku, dan memaksakan diri untuk merasa senang. Memaksakan diri untuk lupa akan keresahan yang mungil itu. Padahal yang kita butuhkan hanyalah diam, menundukkan kepala, menundukkan jiwa. Seolah manusia mampu memisahkan apa yang akan diberi ke tubuhnya dan jiwanya. Sambil memisahkan iman dan perbuatannya. Seolah ia bisa menyimpannya untuk kemudian hari, dan memupuknya kembali, dan jiwanya sudah tidak ada di sana.

Oleh sebab itu, jika seberkas cahaya ada di sana, ikutilah. Bawalah kesinisanmu ke sana, ketidakpercayaanmu atas hal-hal yang belum pernah kau dengar, akhiri rasa haus itu, jiwamu yang lama tidak dikunjungi rasa segar, niscaya bibirmu akan mengucap syukur, hatimu akan mengalir, dan tenang menjadi milikmu.

Dan masih sambil memegang pipi kiriku bersama dahiku yang berkerut, aku mengakhiri tulisan ini. Jujur, sedang kembali dipengaruhi sama tulisannya Kahlil Gibran , maaf melantur malam ini.

No comments: