Friday, September 21, 2012

Setidaknya

Hai para pembaca, entah seorang pria di warnet yang tadinya sedang mencari motor bekas yang murah, wanita yang lagi baca blog fashion, dan para pembaca nyasar lainnya.

Saya tahu betul rasanya mengalami masalah, kadang jalan keluar tidak terlihat, di sekitar kita hanya puing puing kebingungan yang tidak jelas. Namun, setidaknya, kita masih bisa menyemangati diri sendiri, karena dari komik yang saya baca kebanyakan, seorang pemeran utama akan selalu berhasil menemukan inspirasi yang datangnya dari tempat yang tidak diduga, ketika mereka tidak memutuskan asanya, mereka yang tidak terlalu percaya pada nasib, dan mereka yang ingin menyentil garis garis takdir.

Yah, entah masalah ekonomi, sosial, dan masalah relung hati yang suka sunyi senyap.

Setidaknya;

Hal sial pasti akan terjadi, ribuan kali dalam setahun, kesulitan harus tetap ada, kebingungan juga di sana. Tapi ya mau gimana lagi, gak bisa kabur kan? Satu quotes yang agak pecah sih dari dosen saya, waktu itu teman teman saya lagi pada heboh ngeramal garis tangan gitu, entah kenapa semua orang minta ramal ini itu. Lalu sang dosen manggil saya.

"Heh rana, sini kamu bawa temen temen kamu yang minta diramal, mau diramal kamu?" Si dosen dengan mata yang setengah keluar, minta ditetesin obat mata banget matanya.

"Sini tangan kamu, coba kamu buka tangan kamu sekarang."

"Nah sekarang tutup tangannya."

"Nah buka lagi."

"Tutup lagi, keliatan gak bedanya?"

"Coba dibuka sini tangannya. Kalo kamu ngebuka terus tangan kamu, semua keliatan kan garisnya? Kalau kamu ngebiarin hidup dibikin terbuka, pingin tau nasib melulu bawaannya, yang bakal keliatan ya itu, nasib doang. Nah sekarang! Pas kamu tutup, coba genggem tangan kamu, ada garis tangan kan keliatan beberapa, dikit kan tapi? ya itu artinya, ketika kamu yakin, gak memikirkan takdir, kamu lakuin aja apa yang ada di depanmu sepenuh hati, dunia udah jadi milik kamu, tapi ya ada lah beberapa takdir dikit."

Karena saking benarnya, sewaktu itu semua orang cuman bisa senyum senyum bingung.

Ya, ketika kita mengakui takdir hanya sekedar pagar batasan kecil, kita akan menikmatinya.

Setidaknya, perspektif yang baik akan menyelamatkan kita.

Setidaknya, begitu.

1 comment:

Anonymous said...

keren ;)