Kali ini postingannya akan menjijikan, siapkan baju ganti, karena pembaca umumnya akan muntah di pakaiannya karena tidak bisa muntah depan komputer. Atau yang bajunya cuman itu itu aja, lebih baik bugil aja baca blog ini, jangan lupa matiin pendingin ruangannya biar gak pilek. Pokoknya, jangan biarkan diri anda muntah di post ini. Ya, saya sudah nulis dalam keadaan bugil sekarang, tinggal tali beha aja paling sekarang, please jangan dibayangin.
Jadi begini bapak ibu, bukannya mau curhat lagi, saya tahu saya terlalu sering curhat di blog ini, lain kali saya kalo curhat sama pak lurah aja mungkin, biar kalian ga capek bacanya. Tapi pak lurah kan lagi sibuk, jadi blog lagi deh ya.
Agar tidak terlalu tersirat, saya akan menggunakan nama samaran, dan ceritanya dibuat sedemikian rupa agar bacanya makin gak enak dan makin gak dimengerti.
Jadi waktu itu, hari pertama saya ketemu dia, pas lagi jogging di treadmill di rumah, namun karena saya larinya kekencengan, treadmillnya jalan gitu, akhirnya saya keliling komplek pake treadmill. Tiba tiba ketemu wanita ini, lagi menggendong bayi di bahunya, ia bergerak maju mundur bagai setrika. Akhirnya saya ngajak kenalan.
"Mbak, hobinya gendong bayi ya?"
"Ah mas tau aja saya janda...."
Akhirnya karena percakapan yang begitu romantis itu, kita saling mengenal satu sama lain. Kadang saya disuruh gendong bayi, dia yang nyobain naik treadmill yang bagai awan kintoun itu. Namun saya sudah tahu dari hari pertama bahwa saya akan berusaha untuk bersama dia, namun wanita ini tidak menunjukkan tanda apapun. Hanya ada tanda "dilarang parkir" di punggungnya.
Suatu hari saya baru sadar bahwa bayi yang wanita gendong ini bukan bayi sungguhan, melainkan plastisin yang bentuknya persis seperti bayi, karena ketika saya coba lempar tangkap agar bayi ini senang, kepalanya putus.
Segala malapetaka dan marabahaya sudah saya lewati bersama wanita ini. Namun pada akhirnya wanita ini hilang dari tempat kita biasa bertemu. Akhirnya saya yang terlanjur biasa dengan ini dan itu, harus membiasakan diri dengan tiada ini dan itu.
"Mas, tunggu di bulan Desember ya, aku punya kejutan...."
"Kejutan apa lagi mbak? Mbak bukan mas mas dag dig dug duer daia yang rambutnya warna warni sedang menyamar kan?"
Saya bermimpi buruk, keringat dingin menetes di mana mana. Karena saya penasaran, saya pergi ke peramal dekat rumah. Ya di rumah saya ada kios peramal, ada yang elektrik atau manual. Kalau diramal elektrik, mesti disetrum dulu, dan 9 dari 10 orang yang diramal meninggal. Maka dari itu saya minta ramal yang biasa aja, ga pake pecel.
Kakek peramal keluar dengan senyum senyum ala paman yang berasal dari desa, kali ini ia tidak membawa sayur mayur segala rupa, kali ini ia membawa bola kaca yang bersinar sinar.
"Nak, tunggu hingga bulan Desember, siapapun yang bersamamu di saat itu, yakinkan hatimu dengannya nak... Oke, itu aja untuk hari ini. Bayarannya 16 juta...." Kakek peramal itu tersenyum sambil mengambil pisau lipatnya.
Saya pun keluar penuh tetes darah, mengetahui bahwa saya tidak punya uang sebanyak itu, akhirnya saya bunuh kakek itu.
Dan kini saya sendiri lagi, bersama kumbang kumbang dan kupu kupu di taman. Kadang saya berlari di atas treadmill ini, berputar mengitari beberapa putaran di komplek ini. Namun tidak ada yang berubah, hanya kenangan kenangan yang terlanjur ada.
No comments:
Post a Comment