Thursday, July 19, 2012

Dewasa Sesungguhnya

Jadi liburan semester 2 bulan ini, saya isi dengan kerja praktek (lagi) di salah satu perusahaan ternama. Tapi jika sebelumnya saya menjadi orang kantoran yang berparas tampan, kali ini saya menjadi teknisi yang berlumuran oli, dan berpeluh keringat sebesar biji jagung bagai iklan extra joss. Kadang saya suka merasa jadi bintang iklan extra joss ketika minum setelah kerja, padahal minumnya hanya air putih, atau kadang teh manis. Sekedar informasi, teh manis di workshop, rasanya, entah kenapa aneh, karena sendok buat ngaduknya kecampur sama kopi kayaknya.

Dan benar dugaan saya, saya memang lebih jago dealing with people ketimbang berurusan dengan benda benda kecil. Karena saya tidak biasa dengan hal hal mesin, elektro, dan gerak motorik halus. Tapi prinsip saya terus bertahan "Jagoan kalah dulu" dan "Bisa karena biasa". Itu saja cukup untuk membawa seorang manusia menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari kurun waktu ke waktu (sambil ada ombak di belakang, dan kura kura mengacungkan jempol).

Sudah dua hari ini, saya makan di suatu ruangan ganti baju para buruh, teknisi, dan manager. Saya dipertemukan dengan salah satu karyawan bagian inspeksi. Dan percakapan pun dimulai.

Karena saya malas dalam format percakapan, saya bikin kata kata dia dalam narasi saja ya. Toh saya cuman mendengar juga.

Saya kalo makan Indomie tuh kuah rebusannya gak pernah saya makan. Karena ya itu, kan indomie bisa awet bertahun tahun, pasti kimianya kan luntur pas direbus, masa kita minum. Terus saya juga kalo makan ga pernah sambil minum, saya makan ya makan, minumnya belakangan.

Makanya nenek saya di kampung saya tuh, Solo (dia milih Jokowi btw) itu umurnya sekarang sekitar 130an tahun lah. Bapak ibu saya masih lengkap, dari istri juga masih lengkap. Ya gitu, berdirinya gak bungkuk, masih sehat, ya orang kampung tau lah, makanannya, daun pepaya direbus, yaudah itu aja yang dimakan.

Dulu saya kerja dikirim ke lapangan sana sini, pernah naik pesawat foker, saya tuh kalo pindah ke tempat baru, saya langsung mempelajari tingkah mereka, nah mereka ternyata jarang makan buah, kadang saya cariin buah buat orang sana, eh pas saya mau balik ke rumah, saya dikasih ikan tongkol segede ini nih (sambil melebarkan tangannya seluas luasnya). Ya gitu deh.

Sampe suatu saat saya udah tunangan, hampir nikah tuh. Cuman karena orang tuanya tau saya orang lapangan, ya gitu kan mereka, sekedar denger tapi gak mempelajari, katanya orang lapangan serong lah, main cewek lah. Padahal itu kan tergantung kita ya? Ya akhirnya saya walaupun udah pacaran, tunangan, saya terpaksa putus.

Dua tahun kemudian, saya ketemu lagi, ya karena saya pikir ini jodoh, kali ini ya saya gak lama lama, langsung nikah aja. Ga nyangka kan dek? Dikira 2 tahun itu bakal ilang aja, ternyata ketemu lagi.

Ya sebenernya kunci hidup ini ya ikhlas. Kalau kita mulai segalanya dengan ikhlas, pasti kerjanya bagus, rejekinya bagus, dan sisanya ngikut. Terus kalau lagi gak dapet yang kita mau, ya kita harus 'nerimo' atau 'legowo' lah istilahnya, yang didapet ya yang disyukuri. Gak usah terlalu ambisius, orang itu ngukur kaya dari mana sih memangnya? Kan ga jelas ya.

Ya emang gak gampang itu ilmunya, sabar itu gak gampang. Kadang kita kepaksa harus sabar, atau didikan kita dari kecil harus begitu, atau dari lingkungan.

Esok harinya, saya ngobrol lagi sama manusia ini.
--------------------------------------------------------------------------------

Ya gitu lah dek, manusia ini tuh bingung sekarang, yang diikutin material terus, ngikutin duniawi terus. Alesannya kalo ga kayak gitu, ga bisa idup. Padahal orang zaman dulu yang pas pasan aja bisa makan kok, lah kita ini mau sampe tahap apa? Kaya kan gak ada batasnya, tolak ukurnya tuh apa?

Jujur aja ya nih dek, saya ini orangnya asal cukup. Bukan kalo beli mobil baru cukup, beli yang lain cukup (sambil tertawa). Pokoknya rejeki, jodoh, mati, itu udah Tuhan yang ngatur, kalo kita berusaha pasti ada aja rejekinya, tapi liat deh manusia sekarang, dikasih ini ga cukup, dikasih mobil gak cukup. Mau apa lagi? Yang bikin standar cukup itu kan kita sendiri, kenapa ditinggiin terus? Heran saya. Materi terus. Ya hidup ini misteri dek, misteri....


-------------------------------------------------------------------

Ya andai semua manusia sedewasa ini, mengerti batasannya, mengerti bagaimana cara menghidupi hidup bukan sekedar sebagai manusia, namun menjadi penghuni bumi yang baik, membatasi semuanya secara sederhana. Dan merelakan apa yang tidak bisa dikendalikan, bersabar, ikhlas, dan sumpah dia itu umurnya 45, tapi mukanya masih kaya 30 awal gitu. Ga ngerti kenapa bisa gitu.

Belajar ga cuman dari orang yang pangkatnya di atas loh, ada orang wise juga di bawah, dan tetap bersabar dalam menghadapi hidup. Saya lebih menghargai mereka ketimbang orang orang rakus di atas sana yang menyedot apapun yang ada di dunia ini, agar mereka berkuasa, kaya, semua orang tunduk. Gila apa? Gak bisa apa nyantai aja gitu? Haha.

Mulai hari ini, mari kita belajar dari bapak tersebut. Semoga kebahagiaan untuk keluarganya, kedamaian untuk hatinya, amin. Dan untuk yang mau puasa, selamat berpuasa teman teman.
 

1 comment:

Anonymous said...

yaampun ran :')