Gw merasakannya akhir akhir ini.
Rasa kesepian yang mengubur diri seseorang. Rasa takut yang menutup mata seseorang. Rasa bersalah yang menutup pintu hati seseorang. Dan eksistensi yang perlahan menghilang. Ketika dunia memperlakukan kita seolah kita adalah kriminal, padahal kita belum berbuat apa apa.
Siapa yang tak ingin meninggal di era seperti ini?
Tidak ada yang layak dipertahankan, kekayaan palsu, popularitas palsu, kesenangan palsu, wajah palsu, dan palsu palsu lainnya. Tapi agama gw sudah lama mengajarkan hal ini "dunia ini hanya sementara, nanti ada yang selamanya", dan motif itu mendasar di darah daging gw. Bukan untuk berbuat baik antar sesama, tapi untuk lari dari kehidupan yang sementara ini, melarikan diri.
Kepalsuan itu sudah didefinisikan beribu tahun lalu, sekarang saja yang semakin terlihat, antara remaja bodoh yang senang dengan perilaku nakalnya dan mengatasnamakan kecerdasan sosial, para pemimpin yang tuli, dan semua kalangan yang apatis. Lalu apa yang bisa didengar? Suatu ledakan besar bukan? Suatu ledakan yang membunuh orang orang apatis yang menyebalkan itu.
Ya, gw sempat merasakannya....
Tapi, duhai para teroris yang gahar maupun yang kesepian, atau maupun yang ganteng....
Hadirkanlah cahaya, lentera kecil kecil. Jadilah lentera kecil yang seolah tak berpengaruh, namun bisa menerangi langkah langkah kecil kita. Jadilah lentera di tengah kegelapan ini tolong bapak teroris, saya mengerti perasaan anda, saya mohon, jangan bunuh saudara saudara kita sendiri. Biar malaikat saja yang mengambil nyawa nyawa mereka, dan anda menjadi lentera.
No comments:
Post a Comment