Saturday, November 27, 2010

pria tak berbakat pt1

Aku pria tak berbakat, tapi aku dikenal juga sebagai si Kerang. Memang aku tak banyak bicara, sehingga orang memanggilku dengan sebutan itu. Aku sekarang berada di pertengahan umur kepala tiga, dan aku belum menikah, dan tidak punya pasangan hidup atau bahkan seseorang yang kukagumi, sebut aku kesepian, tapi nampaknya tidak terlalu, hmm.

Kehidupanku begitu begitu saja, aku pengangguran, aku masih bergantung dengan uang orangtuaku, uang warisan orangtuaku tepatnya. Mereka berdua telah meninggal di kecelakaan tragis, mereka meledak karena tabung gas 3 kg, bukan karena kecelakaan, tapi karena ayahku membuka katup gas tersebut dengan sengaja, lalu menyalakan korek api, ayahku mengidap depresi berat sepanjang hidupnya.

Satu satunya warisan yang paling kuhargai dari mereka hanyalah kenangan, uang ini hanya kugunakan saat butuh makan saja, aku pikir, hanya sistem bodoh dunia ini saja yang mengharuskan kita punya uang. Menyebalkan, pikirku.

Tapi kehidupanku berubah sejak aku kenal pria penggulung tikar setelah solat jumat, namanya.... mmm panggil saja dia Pak Peci. Sewaktu itu aku solat jumat, kebetulan masjid sedang penuh, dan aku harus solat di luar. Aku berdoa agak lama, aku berdoa hafalan, ya sebutannya begitu, doa bahasa arab yang aku sendiri tidak tahu artinya, namun aku hafal dari awal sampai akhir, aku khusyu membacanya sehingga lupa bahwa di sampingku sudah pergi semua.

Pak Peci itu jongkok di sampingku dari kejauhan, menatapku sambil menaruh tangannya di pipinya sambil terbengong. Aku tersadar, lalu aku berdiri dan menyingkir, dia membenarkan pecinya sambil berjongkok, lalu dia mulai menggulung tikar di mana tempat tadi aku berdoa. Aku hanya bengong, aku yang memang tidak punya kerjaan hanya menatap diam dan tidak hendak pulang.

Karena tikarnya ada tiga baris, aku bantu membereskan satu baris, lalu kuberi tikarnya ke Pak Peci. Aku memperhatikannya dia dari kejauhan, lalu dia menjabat tanganku sambil berterima kasih. Aku hanya mengangguk perlahan. Rasa penasaranku menumpuk tak karuan.

Minggu depannya, aku melakukan hal itu lagi. Kali ini dia diam, dan dia bahkan tidak mau menggulung tikarnya dan wajahnya muram kesal.

"Hei nak! Kerjaan saya kamu ambil semua, sekarang saya mau berbuat baik apa lagi? Ha!?"

Aku heran, lalu tak sungkan sungkan, aku muak dan kesal mendengarnya, aku mengambil tiga tikar yang telah kugulung, lalu aku lempar di depan wajahnya, tiga tikar itu kembali berantakan dan tergelar. Lalu dia menunduk dan menggulung tikarnya. Pak Peci, cih, tahu apa dia, aneh sekali tingkah lakunya.

Lalu dia selesai menggulung tikarnya, lalu dia kembali ke arahku lalu mengajakku untuk duduk di samping mesjid. Dia melepas sarungnya dan mengalungkan sarungnya ke bahunya sambil mengangkat satu kakinya seperti sedang makan di warteg. Aku menggaruk garuk kepala sambil salah tingkah, dan dia mulai mengajakku bicara.

"Maksud kamu apa nolongin saya sampe semuanya kamu gulung? Kamu gak tau itu kerjaan saya?" dengan nada menohok dan wajah yang dingin. Aku bingung harus berkata apa.

"Iya abisan saya nganggur, kata orang, bagus kalo kita bisa nolong orang lain, orang yang paling baik di dunia itu orang yang paling berguna bagi orang lain, jadinya ya saya tolong bapak" jawabku dengan jujur.

"Pembantu rumah tangga berguna kan? Orang paling baik di dunia gak dia?" lagi lagi, nadanya sinis dan begitu menohok, rasanya dadaku sakit. "Kalau hidup sekedar untuk orang lain, itu bukan berguna, melainkan budak, tapi kalau menolong diri sendiri yang kesulitan, dan melakukan perbuatan menolong sebagai hiburan dan rasa syukur karena sudah berada sejauh ini kepada Tuhan, lain ceritanya, itu baru manusia." si Pak Peci melanjutkan.

"LAH? Bedanya apa deh pak?" aku menjawab serentak dengan nada kesal karena omongan orang ini seolah ngasal dan tidak perlu dicerna.

"Itu artinya kamu menghidupi hidup kamu. Hidup itu harus dihidupi, bukan sekedar hidup demi orang lain secara dangkal seperti itu, kalau kamu terus berada di jalan hidup kayak gitu, kamu tinggal nunggu waktu kamu merasa yang kamu lakuin itu sia sia." jawab Pak Peci dengan nada lembut, aku bergetar, hatiku.

Aku pulang, dengan hati yang agak membiru, agak kelabu karena sudah merasa bubar dan selesai semuanya yang kulakukan selama ini, dihiasi kesia siaan dan bertabur keputus asaan. Aku bingung harus mulai dari mana, namun tidurku entah mengapa lebih nyenyak dari hari hari sebelumnya.

Esoknya aku ke makan kedua orangtuaku, mereka dikubur di satu kuburan yang sama, karena keterbatasan uang, sebenarnya aku yang mengatur agar mereka dikubur seperti itu, dua orang satu nisan. Aku merasa berdosa sekali telah memperlakukan mereka seperti itu, namun aku juga merasa kesal karena mereka harus pergi duluan, sekarang aku hanya pengangguran.

Aku duduk di tepi makan sambil mengelus ngelus batu nisan. Aku terheran heran mengapa mereka bisa meninggal dengan cara yang menggelikan. Aku ingin berteriak bertanya pada mereka, mengapa mereka meninggalkan aku, aku kan anak satu satunya, seharusnya mereka tidak meninggal.

Bakso hangat disajikan di taman pemakaman itu, hmm enaknya. Aku bengong, bengong dan menyesali perbuatanku yang lalu. Aku bingung harus mulai dari mana. Dasar Kerang, bodoh.

No comments: