Gw akhir akhir ini menjerit jerit kelelahan bagai kerbau di musim kawin, dan rasanya gw selalu ingin skip to the ending. Jadi gw membayangkan, gw hanya butuh sedikit imajinasi terhadap apa yang akan terjadi, dan langsung skip ke hasil imajinasi gw. Abrakadabra, semudah membalikkan tangan bukan? (maaf bagi penderita handpositiondissolved-disorder, penyakit tidak bisa membedakan telapak dan punggung tangan)
Pikiran yang menjadi pikiran kebanyakan orang, hasil lebih penting ketimbang proses. Padahal hasil dan proses tidak bisa dipisahkan begitu saja. Seperti bayi kembar siam yang disolder sehingga tak bisa lepas. Akan gw buktikan lewat persamaan matematika:
2 + 4 = 6
Ketika kita menghapus proses, misalnya kita hapus nilai 2 + 4 di sana, lalu persamaannya berubah menjadi 0 = 6 kan? Persamaan di atas menjadi absurd dan tidak valid. Maka kita di sini bisa menarik kesimpulan yang teramat jelas. Proses dulu, baru hasil, dan keduanya teramat sangat penting.
Jadi kalau kita terlalu khawatir terhadap hasil sehingga melupakan proses, tidak jarang kita gagal (aduh gw takut jg nih...) . Kita tidak akan mampu mencintai hasil dan menghargai hasil, jika kita tidak menghargai dan mencintai prosesnya juga. Dunia pendidikan indonesia juga dianggap tidak valid, karena memang hasilnya sih meyakinkan secara ujian nasional, tapi proses tak karuan.
Itu kalau kita terapkan di dunia karir ataupun dunia yang absolut. Bagaimana ketika kita membicarakan dunia percintaan yang konon konstanta variabel cinta itu sungguh relatif? Sama saja sih.
Proses itu penting, tapi jangan lupa pikirkan tentang ending. Jadi yang pertama kali harus dipikirkan itu endingnya, mau seperti apa. Seperti kata dosen electrical engineering gw:
"Voltage source itu kita pengennya yang ideal, tapi dapetnya yang valuenya real. Sama kalau kamu cari istri, kamu carinya yang ideal, tapi dapetnya yang real"
Jadi untuk dunia percintaan, kita harus bikin equationnya dulu yang kita mau. Persamaan yang kita inginkan untuk nyari value tertentu.
happy ending = usaha + cinta
Gw agak muntah muntah bacanya dari tadi, geli banget, berasa nulis puisi cinta ala penyanyi dangdut demi kekasih idaman. Yasudahlah, intinya kita harus menginginkan ending yang akan kita mau dapet, karena kita tidak bisa mengharapkan kondisi hidup kita secara tidak sengaja memberikan kebahagiaan ke kita. Kita harus mengarahkannya ke sana, walaupun tidak secara langsung, minimal mindset dulu.
Proses adalah suatu jalan, hasil adalah tujuannya. Sebenarnya tidak mungkin jika kita sudah melewati proses namun tanpa hasil, tapi yang ada kita tidak mengambil hasil dari proses itu sebagai 'hasil' dari perjalanan kita. Dan akhirnya tidak jarang dari kita mengklaim diri kita gagal walaupun sudah berusaha. Bagi gw, kalau sudah berusaha, sudah sukses, hanya kuantitas dan kualitasnya saja berbeda.
Jadi bagi kalian yang lagi tersangkut sangkut dalam hidup, jangan khawatir, kalian buat saja keadaan yang kalian inginkan di kemudian hari, lalu ikuti saja apa yang ada. Mungkin bakal selamat, karena gw sendiri masih terseok seok di kampus. Doakan ya :) ciao
No comments:
Post a Comment