Saturday, March 13, 2010

MIE

Aku sedang membersihkan meja pelanggan yang baru selesai makan, dengan kain lap seadanya aku menggosok gosokan kain itu ke meja. Pikiranku sedang kemana mana, aku sedang tidak tenang, dan untung pekerjaanku hanya sekedar menjadi pelayan di toko bakmie. Lambat laun pengunjung meninggalkan tempat ini. Aku bersama temanku, menonton tv di balik lemari berjendela bertuliskan bakmie yamin 99 secara terbalik. Hari ini tetaplah begitu, tidak jauh seperti kemarin.

Kemudian datang sebuah mobil, semacam mobil orang kaya nampaknya, memarkirkan mobilnya di depan toko ini. Aku meliukkan leherku dan mencoba melihatnya dari jauh, aku meninggalkan tempat dudukku dan berjalan pergi ke luar. Wanita dengan kemeja, rok coklat, berkacamata, dan rambut kuncir. Mobilnya terlihat mahal, semacam mobil city yang kuidam idamkan akhir akhir ini. "Ada yang bisa saya bantu?" kataku. "Tolong mie yamin 2 ya mas, dibungkus, sambelnya dipisah, kuahnya juga dipisah." Aku membalas cepat "Iya masa kuahnya dicampur ntar basah semua atuh mbak..." Wanita itu tertawa malu. Entah mengapa aku senang. Ah... Aku nikmati saja waktu yang singkat ini pikirku.

Aku kan bekerja sebagai pembuat mie, sedangkan temanku yang malas tadi bekerja sebagai kasir, jadi aku bergegas membuat mie yamin yang terkenal manis dan enak dicampur dengan kuah kaldu yang asin. Aku berteriak bertanya "Mbak, mienya pake alpukat gakkk!?" Wanita itu berjalan mendekat ke dapur dan terlihat heran. "Loh, mas? Emang mienya pake alpukat? Ini mie kan? Bukan jus?" Aku tertawa lepas, "Hahaha, iya becanda doang kok mbak, kalo pake alpukat ntar bakalan eneg mbaknya atuh, maaf ya mbak ganggu, becanda terus sayanya." "HAHA, yaampun, saya kaget loh mas, betulan deh. Saya bego ya? Aduh mie pake alpukat, sekalian aja pake saus stroberi ya? Hahaha".

"Ini mbak, mienya, dua kan? persis sama yang kayak mbak minta". "Wah makasih ya mas!" menoleh dan meninggalkan senyum yang tidak akan kulupa, aku berharap dia datang terus ke toko mie kecil ini, meskipun aku tahu dia dan aku hanya seperti majikan dan pembantu. Ah tapi kali ini kunikmati ingatan yang tadi sajalah, aku kembali duduk di sebelah temanku sambil berbengong ria mengingat wajah wanita yang tidak pernah aku tahu namanya. Andai aku tahu, tapi aku tidak pernah akan tahu nampaknya.

Satu minggu telah berlalu, tepat di hari yang sama, hari jumat setelah kita bertemu. Ah aku norak betul masih ingat tentang dia. Dari siang toko ini kebetulan ramai pengunjung, tapi seperti biasa, akan mulai sepi saat sore. Dan matahari mulai siap siap untuk terbenam, mobil itu datang lagi. Kali ini pakaiannya hanya kaos biru dan celana jeans terang. Kacamata yang dia kenakan juga nampaknya sedang disimpan. Dia duduk di meja pesanan paling depan sambil mengetuk ngetuk irama di meja pesanan. Aku sempat berpikir, lagu apa yang dia sedang suka ya? Andai aku bisa nyanyikan lagu itu dengan baik.

Aku melangkah dengan tegap, karena sejak wanita itu datang ke tempat ini aku agak menjadi pesolek, mungkin aku tidak boleh sejelek dulu. "Mbak, pesen apa? Kayak biasa? Lagi ga kerja ya?" dengan secarik kertas menu di tanganku. "Iya nih, iya kayak biasa mas. Eh? Mas yang kemaren bukan sih? Iya kan?". Wah hatiku rasanya tidak karuan, dag dig dug mau meledak rasanya, tapi kesempatan tidak datang dua kali bukan? "Wah mbak inget aja, emang saya seganteng itu saya apa sampe lupa? Ditunggu ya mbak pesanannya, jangan kemana mana, Oke?". "HAHA aduh mas ini emang yang paling ganteng kok, yaudah saya tunggu, okeoke."

Wah rasa panas di dadaku tak kunjung redam, kupingku panas, aku merasa mukaku merah semua kayak tomat. Tapi aku begitu semangat untuk membuatkan mie untuknya kali ini. Mungkin aku harus menambahkan porsinya biar dia lebih senang. "MAS, pake alpukat yaaaa!!" Teriak wanita itu dari jauh. Waduh aku rasanya senang sekali dia bisa mengingat setiap momen yang terjadi minggu lalu. Aku mau berjoget dan berdendang, tapi malu rasanya. Ah aku jadi tidak waras begini. Dan si penjaga kasir menatapku tajam setajam pisau, mukanya sinis sekali. Dengan tatapannya saja aku merasa dingin.

Aku membungkus makanannya dan mengikatnya dengan karet. Aku membungkusnya dengan plastik putih. Dan semuanya siap! Aku pasang wajah sumringah dan riang ke hadapannya. Dan wanita itu sudah tidak ada. Aku menuju ke mejanya tapi sudah tidak ada siapa siapa.

Sekitar 5 menit aku menunggu penuh harap. Tiba tiba ada yang mencolek dari belakang. "Mas, ini jus alpukat buat mas, satu buat saya, satu buat mas ya.." Aku mengangguk, dan memegang jus alpukat dari gelas plastik yang dilumuri susu kental manis coklat. "Mas ini pesenan saya kan? Makasih ya... Saya pulang dulu ya.." Aku tidak bicara saat dia ucapkan salam perpisahan. Aku memegang dinginnya jus ini, dan masih tidak percaya. Aku hampir tidak tega untuk minum jus ini, tapi kalau diminum sama orang lain bisa sayang, keburu basi juga ga bisa diminum. Aku minum jus tersebut, rasanya enak. Lagi lagi aku bengong.

Aku mulai berkhayal bahwa suatu hari aku akan membawa mobilnya, dan dia tertidur lelap di sebelahku. Aku mengantarnya ke tempat dia bekerja, dan aku berangkat ke kantorku juga. Kantor mie yamin yang merupakan satu satunya keahlianku. Semakin dipikir, semakin menyenangkan rasanya. Dan baru kali ini menunggu merupakan hal yang menyenangkan bagiku.

Kali ini hanya selang 3 hari sejak dia datang. Wanita itu selalu pesan 2 bungkus mie seperti biasa untuk dibawa pulang. Dan setiap bertemu aku menyempatkan untuk berbicara barang cuman sekejap atau bisa lebih lama. Aku menjadi riang gembira setiap bekerja dan tidak pernah semenyenangkan ini. Aku sedang bahagia! Pikirku begitu.

Dan hari kamis dia datang kembali, dengan mobilnya. Tapi kali ini dengan wajah kusam, lelah, pucat. Aku benar benar ingin tahu pikirannya, tapi entahlah akan etis atau tidak bertanya pada pelanggan tentang hidupnya. Aku mendatanginya "Pesen apa mbak? Kayak biasa?" Aku mengurangi jumlah kata kataku karena takut menyinggungnya. "Mie yaminnya aja satu, dibungkus, cepet ya mas". Dia sepertinya sedang sedih. Meskipun bukan ahli pembaca wajah, tapi untuk orang yang kukagumi, aku pasti tahu kalau dia sedang sedih atau senang.

Aku segera menyiapkan mie untuknya. Mendatanginya, dan memberikan plastik bungkusan. Kali ini dia diam saja. Dia masih duduk di meja pesanan dan terlihat sangat depresi. "Mas, saya putus sama cowok saya, saya ga bisa mampir ke apartemennya lagi bawa mie ini setiap minggu. Saya sedih mas.." Aku terdiam, rasa sakit mengetahui dia punya pacar tidak sebanding dengan rasa sakit yang dia rasakan rasanya. Lebih sakit hancur sebelum memulai, daripada hancur saat sedang membangun bukan? Kali ini aku diam dan berkata "Tunggu sebentar ya mbak"

Aku pergi keluar, mencari toko jus alpukat dan bermaksud untuk membelikannya untuk wanita itu. Aku segera membelikan jus alpukat sama saat seperti dia membelikan untukku. Aku segera kembali, namun wanita itu sudah tidak ada. Dan kali ini dia benar benar pergi, meninggalkanku. Dan tinggal satu jus alpukat untuk diriku sendiri. Aku merasa sia sia, tidak bisa memberi apapun untuk orang yang aku kagumi. Aku sedih, tapi aku senang telah mengenalnya. Mengenal wajah tanpa nama yang selalu aku rindu.

Hari demi hari berlalu, sekitar 3 minggu setelah kejadian waktu itu. Wanita yang tidak pernah kutahu namanya, aku yang sia sia, dan alpukat. Tiba tiba mobil itu datang kembali, kali ini mobil itu berisikan dua orang. Aku melihat dari jauh. Wanita itu datang kembali, dengan sesosok pria di sebelahnya. "MAAS! Pesen mie yamin 2 makan di sini dongg!" Aku bertanya tanya apa yang sedang terjadi kali ini. Aku mendatangi mejanya "Itu aja pesenannya mbak?" "Iya masss, eh mas saya balikan loh sama pacar saya, ini loh pacar saya di sebelah sayaaaa, ganteng ya mas?" Aku tersenyum mengangguk saja, memang wajahnya dua kali, eh bukan, sepuluh kali lebih tampan dari wajahku. Aku membalikkan badanku dan berjalan ke arah dapur.

Setelah makanan itu dihabiskan di meja pesanan itu, mereka pergi. Biasanya aku menunggu dia untuk kembali, tapi kali ini tidak. Aku bingung harus menyalahkan siapa. Aku bingung, aku lelah. Aku mengelap meja pesanan tadi dengan kain seperti biasa. Dan aku kembali duduk menonton tv dengan temanku di balik lemari berjendela. Andai aku ada apanya, bukan apa adanya. Ada sesuatu untuk membuatnya dia tetap tinggal saat itu. Bukan apa adanya seperti ini. Tapi, biarlah....

No comments: