Thursday, December 17, 2009

why do we never tell the truth?

kesulitan untuk bicara yang benar? bahkan ketagihan membohongi diri sendiri? jika jawabannya iya, maka lanjutkan membaca ini. jika anda benar benar orang yang jujur, silahkan ambil sate di pojokan, makan satenya, tusuk satenya colokin ke idung. emang gw gak bosen bosennya ngebahas jujur bohong dalam ucapan, maupun penulisan. kita hidup di dunia kebohongan, lalu tingkah laku kita bohong juga? lalu apa yang tersisa? hanya pameran topeng dan suara palsu perseorangan.

mengapa kita bohong? terdesak, tidak mau mengungkap yang mempersulit diri sendiri, dan beberapa hal lain yang lebih rumit. kita tidak mau berunding dengan diri sendiri dan lebih memilih mengatakan yang tidak sebenarnya. dari sekolah dasar juga kalau telat masuk sekolah alasannya kesiangan, bakal malah dipulangin, tetapi kalau kita ngaku tadi mobil bocor atau ada kebo ngamuk di tengah jalan, baru boleh masuk kelas. kita diajarkan untuk membuat alasan, bukan untuk mengungkap kejujuran, yang apa adanya, bukan yang ada apanya.

setiap hari dengan perkembangan permasalahan, kita juga memperbesar alasan, memperbesar bohong yang kita bilang "alasan" itu. padahal dengan penciptaan bola salju yang terus membesar itu bakal berada di belakang punggung kita, sampai akhirnya menabrak. kita lupa kita berada di mana, kita lupa kita siapa, dan pembelaan atas siapa yang kita perbuat, untuk siapa? mau untuk orang lain atau untuk diri sendiri, ternyata merupakan kesalahan juga. toh sudah jadi budaya, mau diapakan lagi.

dan orang orang besar sekarang berbanding sejajar dengan kebohongannya yang besar. menceritakan kesempurnaan keluarga, keuangan, dan betapa bahagia hidupnya. seolah mereka tahu menjalani hidupnya seperti apa, padahal ya sama saja, semua bohong. dan gw jujur rindu sesosok figur yang menyampaikan hidupnya apa adanya. berani berhenti memperkaya dirinya sendiri karena tetangganya rumahnya kecil kecil. bukan membangun menara emas di tengah perumahan kumuh. menyampaikan apa adanya, mengutamakan kebahagiaan bukan kekayaan, dan jujur. susah memang, tapi dibutuhkan idealisme yang kuat terhadap kesederhanaan, harus begitu.

tes aja deh kalau memang belum yakin dengan pernyataan pernyataan di atas.
telat masuk sekolah, harusnya udah dipulangin, dan sekarang berhadapan sama guru. apa yang disampaikan?
a. saya kesiangan pak, maaf
b. pak! macet banget jalanan! tadi ada truk pertamina guling terus meledak
c. (jalan ngerangkak ke arah guru pura2 pincang)

mau jual baju bekas di rumah, harga aslinya 72rb, apa yang anda sampaikan?
a. ini 72 rb harganya, waktu beli juga segini
b. ini 280 rb, cek aja harga di toko sebelah, bisa 6 juta kali, untung aja gw baik
c. bajunya dibakar

ada pengemis dateng, duit ada 15 ribu, apa yang anda sampaikan?
a. ngasih 5 ribu
b. ngasih 5 ribu, minta kembalian
c. "bu, ada 2 rb gak, mau beli teh manis nih"

kita nonton film horror sama pacar, filmnya sadis dan serem, cewek anda santai aja tp, apa yang anda sampaikan?
a. yang, serem deh filmnya
b. filmnya kok kayak gini sih? aneh banget ya? nonton jumanji aja yuk di rumah aku, filmnya aneh yang
c. ga ngmg (pipis di celana)

jika a semua jawabannya maka anda termasuk orang jujur yang bakal miskin masa depannya, jika b semuanya maka anda termasuk orang yang agak jujur agak pembohong, jika c semuanya maka anda termasuk orang yang unik dan aneh, semoga anda punya jodoh.

bahkan dengan orang yang paling kita kasihi seperti orang tua, pacar kita justru malah jagonya bohong. kalo kfc jagonya ayam. ya paling kita baru bisa bener bener jujur kalo sama temen deket atau sahabat kali. tapi jaman dulu, semua apa adanya. liat aja bokap nyokap gw, kalo bokap mau bikin tato naga di punggung, pasti bilang dulu ke nyokap. sekarang serba diem diem, padahal toh gak masalah juga kalau dikasitau. menghindar dari perundingan, dan masuk yang pintas pintas berujung panas.

sulit memang untuk jujur, gw sebagai penulis jg mengaku sulit. bahkan radja pun menciptakan laku tentang kejujuran, "bila kau tak lagi cinta, bila tak mungkin bersama, jauhi diriku, lupakanlah aku, selamanya" pas baca lirik selamanya ada tornado langsung, kacamatanya ketarik, wiuwww, dhuar. ya memang sulit untuk berkata jujur, apalagi berperilaku jujur, semua sudah tidak seputih salju, sekarang putihnya udah agak krem gitu kayak sepatu converse gw yang dulu. okey, thanks for the attention, i'm rana gemilang signing out, ciao!

No comments: