Sunday, March 17, 2013

Tidak Pernah Ada yang Benar-Benar Tahu

Dahulu ada pria yang hobinya merancang perjalanan, membaca buku cara menjalani hidup, sambil duduk di bawah pohon yang rindang ia terus menulis rencananya, menggambar-gambar peta kemungkinan, jalur lurus yang ia impi-impikan, seolah takdir itu bisa dikompromikan, hingga akhirnya tahun ketiga, ia harus beranjak dari sana, pergi ke luar dari rumahnya dan menjalani apa yang ia telah tulis.

Peraturan-peraturan yang ia hafalkan pun masih diselipkan di kantong kanannya, di kantong kirinya penuh dengan peta rencananya.

Setiap hari ia tidak ragu untuk melakukan kalkulasi ulang, membuang segala kegiatan yang mengurangi durasi waktu perjalanannya, tapi ia sadar lambat laun ia malah memberi ruang untuk perasaan yang tidak seharusnya tumbuh di sana, rasa takut dengan ketidakpastian.

Lalu tak jarang jalan yang ia sudah gambar sebelumnya tidak sesuai dengan interpretasi sebelumnya, hingga ia harus melakukan improvisasi sana sini. Hingga kali ke sepuluh pergantian jalur, ia membuang isi kantong kirinya, kini ia mulai rajin bertanya sana sini untuk mencari jalur menuju tujuannya. Perlahan ia juga mulai sadar bahwa peraturan perjalanan yang selama ini ia temukan tidak bisa semua digunakan secara seutuhnya, hingga ia akhirnya mengosongkan kedua kantongnya.

Ia terus berjalan, seperti orang kebanyakan, ia mulai tersesat. Yang ia ingat hanya tempat tujuan.

Kesana kemari sambil memikirkan apa yang sudah seharusnya ia lakukan jika ia masih punya catatan-catatan kecil itu. Dan ketika ia kerap bertanya pada yang lain, jawabannya hanya "kita memang tidak pernah benar-benar tahu apa tujuan itu, sekedar menunggu mati mungkin." ujar seorang di pinggir jalan yang turut bersandar di bawah pohon rindang.

Mungkin lebih baik jika dari awal tujuannya adalah kepribadian, ujarnya. Tidak perlu takut tersesat. Tersesat secara tujuan tempat lebih baik pikirnya, tapi tersesat moral kan bahaya.

Lalu ia mulai menyusun puing-puing rencananya. Tapi ia kembali di dinding yang sama, tidak pernah benar ada yang bisa merencanakan semua, mengusahakan semua, dan mencapai semuanya. Semuanya sudah dirantai oleh rantai takdir yang lembut, seolah bisa kita robek dengan perlahan, namun nyatanya tidak begitu. Yang bisa kita usahakan hanya pilihan-pilihan kecil.

Ketika ada pilihan untuk bangun pagi atau siang, pilihan untuk mendengar nasehat atau tidak, pilihan untuk terus berusaha atau menyerah. Pilihan untuk tujuan dan pembentukan karakter secara spesifik? Itu terlalu sulit untuk dipaksakan, meskipun bisa. Namun pilihan kecil-kecil itu yang menjadikan tujuan lebih terlihat.

Dan kini pria itu masih menggumam, mencoba berhenti menuliskan rencananya, dan mulai melaksanakan pilihan-pilihan kecilnya, menjadi pria yang sebenar-benarnya.

No comments: