Hidup ini adil, lebih adil dari timbangan paling canggih apapun.
Hanya saja kita menderita penyakit murung, otak yang lapar akan ilmu namun kita tidak pernah jabani, jiwa yang rindu rasa mengasihi namun diacuhkan. Banyak yang komplain hidupnya tidak beruntung, padahal badannya utuh, keluarga lengkap, dan kantong cukup. Kalau kata kitab agama gw, "Nikmat apa lagi yang kau ingkari?" ayat berapa gw lupa.
Kita memasuki era galau, sejak tahun 2000 masuk, perubahan sangat terasa di strata sosial kita, yakni makin banyak yang ingin populer, kaya, dan dihormati. Itu hanya keinginan tubuh, yang dicukupi dengan makan 3 kali sehari juga cukup, namun kita menambah nambahkan apa yang tidak perlu. Entah hidup dengan mewah merupakan sesuatu mimpi, ataupun suatu keharusan yang harus ditempuh dengan segala cara.
MIMPI JIDATMU!
Masih banyak orang yang kelaparan di sekitar, masih banyak orang yang mesti keguguran bayinya, bayi mati masih usia bulanan, dan lo mau hidup mewah di istana? JIDATMU DIMAKAN GODZILLA!
Gw bukan tipe yang gila sosial atau apa, tapi gw orang yang entahlah, bahasanya 'orang zaman dulu banget', karena common sense gw lebih manusiawi daripada manusia sekarang yang seenak jidat mengiklankan belilah apartemen di tempat x karena mewah dan sempurna untuk anda.
Mungkin gw sempet berpikir bahwa "kebahagiaan kan relatif, lalu untuk apa kita banting tulang untuk meningkatkan taraf hidup orang lain kalau mereka udah independently happy".
Tapi syarat untuk menjadi bahagia adalah "happiness is happiness when shared". Apakah kita bisa bahagia tanpa orang lain? Ketika bahagia pun mau sharing ke siapa?
Kita ini manusia, dididik dari zaman batu untuk sharing, tuker tukeran.
Lalu apa hubungannya dengan otak yang lapar dan jiwa yang kesepian?
Sebenarnya manusia di dunia ini sudah lama merasakan lapar ilmu, dan di negara luar mereka sukses membuat rakyat mereka semakin lapar dan semakin ketagihan akan ilmu. Sementara di negara kita, kita disuruh puasa ilmu, ga boleh konsumsi atau lebih tepatnya 'ga dapet kesempatan untuk mengenal betapa pentingnya ilmu'. Dan kita pun akhirnya hanya sekolah, kuliah, cari uang dan meninggal. Dan kita ga ada kontribusi buat dunia.
Memang sih nenek moyang kita tidak secerdas bangsa asing, kita lebih mirip kambodja, thailand, vietnam, dan filipina yang cenderung biasa biasa saja.
Tapi toh buat apa semua ini.... Kita kembali ke poin awal, bahagia. Untuk jadi bahagia hanya butuh jiwa yang tenang, untuk membahagiakan orang lain kita butuh ilmu.
Anjrit, selesai di satu kalimat yang gw bold barusan, gw mikir ngalor ngidul mentok di situ. Oke, eh gw potong rambut botak loh. HAHA. Ciao!
No comments:
Post a Comment