Tadi gw pulang, jam 11an gitu abis kuis remedial buat pelajaran static mechanic, dan alhamdulilah kuisnya susah, jadi gw puyeng dan mual banget di perjalanan pulang, ya alhamdulilah aja lah, masih untung bisa hidup, masih untung badan gw masih utuh. Pokoknya alhamdulilah lah! (Paksain bersyukur, konon kalau bersyukur bisa menambah rizki/berkah berkali kali)
Bukan itu intinya, paragraf atas cuman buat gw curhat. Jadi tadi gw ngeliat anak kecil nangis, tersedu sedu gitu, terus nyokapnya pegangin dia sambil digandeng. Dan gw ketawa gemes gitu ngeliatnya, (bukan berarti gw seneng bikin bocah nangis, gw tendang tendangin satu satu, terus gw liatin) alhasil gw berpikir, pasti yang mereka tangisin adalah hal simpel, namun pada usia mereka sudah terlihat kompleks sekali.
Padahal yang mereka tangisin cuman gara gara gamau ikut les pelajaran gara gara capek, atau gara gara temennya ngatain dia kalau idungnya pesek, atau karena nyokapnya marahin karena nilainya jelek. Masalah seperti bola salju yang berguling, dari saat kita kecil lah momen pertama di mana itu terjadi, hingga akhirnya masalah itu menggelinding semakin besar hingga kita dewasa sekarang.
Namun konyolnya, ketika kita semakin dewasa, semakin kita merekayasa perasaan kita, padahal menjadi dewasa bukan berarti menjadi penipu perasaan kita sendiri. Anak kecil itu idealis, optimistis, dan tidak peduli akan apa yang orang lain bilang, selama hal itu menyenangkan. Sedangkan kita yang dewasa, sekarang hanya sedikit dari kita yang idealis, semua cenderung pesimis, dan akan melakukan apa saja asal menghasilkan uang.
Apakah kita lebih konyol dari anak kecil tersebut? Bukankah seharusnya ada nilai nilai dasar yang terpendam sampai kita tua nanti.
Toh kita bekerja untuk hidup, belajar untuk hidup, makan untuk hidup, bersenang senang untuk hidup. Bukan sebaliknya. Kita tidak seharusnya menjadikan pekerjaan sebagai tujuan hidup, kita harusnya menjadikan pekerjaan sebagai fasilitas kita untuk menghidupi hidup kita sendiri. Dan 'kata kerja-kata kerja' yang berafiliasi dengan hiduplah yang mendefinisikan hidup kita. Jika kombinasinya tepat, maka definisinya akan datang. Bukannya dari awal diberikan definisi bahwa hidup untuk bekerja.
Tapi dari bekerja, belajar, makan, bersenang senang, kita akan menemukan arti hidup kita selama ini.
Semoga berguna, anak kecil mengajarkan jauh lebih banyak hal ketimbang pelajaran yang gw kerjain pas kuis tadi, hhhh, ya bersyukur! Haha, oke, ciao.
No comments:
Post a Comment