Jika akselerasi merupakan perbandingan terhadap jarak dan waktu, apa yang terjadi jika waktu itu sendiri mengalami percepatan?
Saat sedang belajar, waktu terasa cepat.
Saat sedang senang senang, waktu terasa cepat.
Saat sedang pacaran, waktu terasa cepat.
Saat sedang bengong, waktu terasa cepat.
Tapi cepat yang dimaksud sekarang adalah kecepatan yang melampaui bahkan melanggar standar kenormalan waktu. Sebagai contoh, jika hari ini senin, maka tidak aneh dalam kurun waktu yang terasa seperti 5 jam, 6 hari yang seharusnya dilewati 144 jam, lebih cepat 28.8 kali lipat, atau mengalami pergeseran nilai waktu sebesar 2880%, 6 hari = 5 jam.
Dan bagi orang orang kayak gw pun, orang yang berusaha memperlambat waktu dengan berbagai hal seperti olahraga, jalan jalan setiap malam minggu, dan kadang meluangkan untuk kegiatan kegiatan aneh di dalam kehidupan, nampaknya tidak terlalu berpengaruh. Apa waktu benar benar semakin berkurang kuotanya? Apa kiamat sudah dekat? Apa ada solusi agar waktu biar terasa lebih lama?
Apakah ini karena kita mempercepat kehidupan kita? Keinginan untuk mendapatkan jaminan dari ketidakpastian yang sekarang, sehingga kita kabur dari ini semua dengan cara bersikap apatis terhadap apapun yang melintas, menjadi orang yang achievement-minded dan terlalu ambisius? Tidak juga.
Karena anak anak clubbers dan party goers juga mengeluhkan waktu terasa lebih cepat. Bahkan guru agama gw waktu SMA juga ngomong gitu, ya walau kurang etis sih membandingkan guru agama dengan bocah bocah hedonis. Tapi ya entahlah, mungkin ini fenomena alam, kita belum bisa membuktikan bahwa waktu adalah suatu dimensi, ataupun suatu benda yang bisa berubah rubah bentuknya. Mungkin tidak, mungkin iya.
Tapi yang pasti, yang sekarang, adalah yang harus diperhatikan. Yang nanti bisa dipikir nanti, yang lalu bisa dibiarkan berlalu. Waktu, pelankan kecepatanmu....
No comments:
Post a Comment